Teknik Radiografi khusus
Yang termasuk dalam teknik radiografi khusus ini antara lain: ”high
voltage technique”, makro radiografi, radiografi digital, teknik
subtraksi, mammografi, xeroradiografi, radiografi pediatrik, dan
radiologi dental.
High voltage radiography
• Meningkatkan output/mAs
• Penetrasi pasien lebih efesien
• Penurunan dosis pasien
• Penghitaman film lebih efisien
• Lebih banyak radiasi hambur mencapai film,
• Menurunkan kontras
• Exposure latitude meningkat
Untuk pasien dengan ukuran medium, radiografi daerah thorax, cukup
dengan 60 – 70 kVp. Kontras bagus, tulang kelihatan tajam, vaskularitas
pulmonary kelihatan jelas. Namun untuk pasien gemuk (separasi >25
cm), atenuasi dan hamburan mulai tampak mengganggu. Menaikkan mAs
mungkin dapat melebihi batas rating tabung, atau dengan meningkatkan
waktu eksposi. Bila dipakai grid, dosis pasien meningkat, kontras
meningkat berlebihan, sehingga daerah dekat dinding thorax dan
mediastinum menjadi putih dan pusat thorax menjadi gelap.
Teknik
tegangan tinggi (125 – 150 kVp), penetrasi pasien bagus, waktu eksposi
rendah, namun perlu diperhatikan, kemampuan tabung, mungkin tidak dapat
dipakai dengan frekuensi tinggi dengan teknik ini. Bila tabung akan
sering digunakan dengan tegangan tinggi, sebaiknya diberitahukan kepada
manufaktur. Generator harus sering diperiksa karena kemungkinan tegangan
yang dipakai melebihi batas kemampuan pesawat.
Kontras citra pada
film menjadi lebih rendah, mampu untuk mendeteksi jangkauan kontras
lebih lebar, namun detail tulang iga tidak tampak jelas, bila pasien
sangat gemuk, perbedaan daerah atas dan bawah thorax menjadi tampak
tajam dan dapat dikurangi dengan kompensator aluminium.
Teknik kV
tinggi, eksposi latitude meningkat (perhatikan gambar di bawah, pada
daerah eksposi AB). Daerah AB masih dapat digeser ke eksposi ke A1B1
atau A2B2 tanpa mengurangi kontras. Sebaliknya pada kVp rendah, kurva
karakteristik tidak memiliki latitude. Nilai kVp diturunkan kurva sudah
mencapai daerah kaki, dan sebaliknya kVp dinaikkan mencapai kurva
mencapai daerah saturasi. Tegangan tinggi juga mengakibatkan hamburan
meningkat (~ 5 kali dibanding dengan teknik kV rendah). Oleh karenanya
untuk mereduksi radiasi hamburan diperlukan grid. Perlu diperhatikan
bahwa grid rasio tinggi akan meningkatkan dosis pasien. Teknik lain
untuk mengurangi radiasi hambur adalah penggunaan teknik air gap (celah
udara).
Tenik celah udara akan mengakibatkan sumber sinar x
menjauh, pinggir berkas mendekati sejajar (lihat gambar). Ukuran titik
fokus akan berpengaruh pada penumbra, yang bersama dengan gerakan pasien
akan berpengaruh pada ketajaman citra. Selain itu, teknik celah udara
juga meningkatkan dosis pasien. Untuk teknik tegangan tinggi radiografi
dada dengan FFD ~ 3 m, umumnya celah udara ~ 20 cm.
Meskipun teknik
celah udara mempunyai keuntungan, namun High tidak banyak dipakai,
mungkin karena perlu mengubah posisi kaset terhadap meja pasien.
Macroradiography
Perbesaran dalam radiografi (M)
Penumbra, ukuran tergantung pada ukuran fokus, dan proporsional dengan P
= d/(FFD-d), dan akan memiliki penumbra P = 0 bila d = 0. Dapat dilihat
dalam gambar bahwa penumbra akan dipengaruhi oleh ukuran sumber.
Dalam praktek obyek tidak pernah bersinggungan dengan film. Dengan
mengambil kondisi umum d = 10 cm, FFD = 100 cm, maka M ~ 1.1. Harga M
meningkat dengan kenaikan d dengan FFD konstan. Meskipun meningkatkan
nilai d akan menurunkan hamburan, namun mempunyai beberapa konsekuensi
berikut
1. Ukuran focal spot. Dengan anggapan penumbra termasuk
sebagai citra yang diperbesar, nilai magnifikasi yang sebenarnya dapat
dikalkulasi dan hasilnya sama dengan
M + (M-1)F/xy
F ukuran
focal spot dan xy ukuran obyek. Bila M besar, dan F dalam order xy, maka
penumbra berpengaruh besar pada citra. Oleh karenanya fokus harus
sekecil mungkin, agar ketidak tajaman akibat penumbra kecil. Ukuran
titik fokus ~ 0.1 mm lebih sering dipakai dibending dengan yang yang
berukuran 0.3 mm. Perlu diperhatikan bahwa tidak mudah untuk memperoleh
intensitas homogen dalam berkas sinar X dengan focal spot kecil. Ada
kemungkinan distribusi intensitas pada pinggir relatif lebih tinggi
dibanding dengan pada pusat berkas, ataupun dapat terjadi sebaliknya.
Ketidaktentuan distribusi berkas yang demikian akan menyulitkan
penentuan parameter eksposi dalam radiografi.
2. Film–screen
unsharpness. Magnifikasi mempunyai efek pada ketidaktajaman karena
ukuran titik fokus, ketidaktajaman screen justru akan berkurang akibat
magnifikasi. Contoh, Bila obyek berisi 8 garis/mm, dan obyek menempel
pada film (M~1), maka screen seharusnya dapat menghasilkan citra 8
garis/mm, namun kemampuan screen tidak memungkinkan. Bila diambil d =
FFD/2, M = 2, obyek lebih mudah terlihat dalam citra menjadi 4 garis/mm
[ingat perbesaran M = FFD/(FFD-d)].
3. Movement unsharpness.
Degradasi citra dapat diakibatkan oleh ketidaktajaman gerakan. Effek
movement unsharpness tergantung pada harga d. Dengan meningkatkan d,
bayangan gerakan akan lebih terlihat dibanding dengan bila M mendekati
1.
4. Quantum mottle. Jumlah foton per mm2 yang dibutuhkan untuk
membentuk citra tertentu yang selanjutnya merupakan persyaratan
kehitaman film. Bila harga d dinaikkan, magnifikasi meningkat, jumlah
foton yang dibutuhkan juga meningkat.
5. Bila FFD ditentukan tetap,
faktor eksposi tidak berubah, namun bila obyek didekatkan ke fokus
untuk menaikkan magnifikasi, maka dosis entrans pasien meningkat. Dua
faktor untuk kompensasi kenaikan dosis entrans. Pertama lapangan radiasi
dikurangi, yang dapat dilakukan dengan mengatur bukaan kolimator. Kedua
dengan memberi air gap dengan menghilangkan grid.
Subtraction techniques, eliminasi informasi citra yang tidak diperlukan
Suatu teknik untuk menhilangkan informasi yang tidak diinginkan dalam
citra, yang mengakibatkan informasi yang diinginkan lebih mudah
terlihat. Contoh, angiografi untuk melihat perubahan posisi dan jumlah
kontras media dalam pembuluh darah antara dua citra yang diambil dengan
interval pendek
Radiograf adalah negatif dari object data. Bila
dibuat negatif dari negatif yang berarti positif, kemudian positif dan
negatif digabung maka diperoleh transmisi cahaya dengan intensitas
uniform. Kondisi demikian dikarenakan daerah hitam pada film negatif
asal akan menjadi daerah putih pada film positif, dan begitu pula
sebaliknya. Film positif citra asal disebut “mask” (topeng). Bila
radiograf kedua dibuat dengan detail agak berbeda, misalnya setelah
diberi kontras media, kemudian mask dan radiograf kedua digabung, maka
bagian yang mengalami perubahan akan tampak lebih jelas.
Digital substraction angiography
Digital subtraction angiography pada dasarnya mempunyai teknik sama
dengan mask subtraction. Suatu seri individual radiografi dibuat,
biasanya dengan laju satu eksposi per detik, selama dan sesudah
diinjeksi dengan kontras media yang mengandung unnsur dengan nomer atom
tinggi, misalnya, yodium. Selanjutnya setiap eksposi disimpan sebagai
citra digital. Untuk memperoleh resolusi tinggi, diperlukan titik fokus
kecil (sekitar 0.5 mm). Disertai pula “pulsed exposure’ (eksposi
pulsatif) dengan interval pendek, khususnya untuk kateterisasi jantung,
sehingga tabung sinar x membutuhkan rating yang khusus pula. Untuk
memperoleh kontras tinggi, hamburan harus dihilangkan
sebanyak-banyaknya, atau kalau memungkinkan dihilangkan sama sekali.
Salah satu caranya adalah dengan menggunakan dua grid, di depan dan di
belakang pasien yang bergerak secara sinkron. Digital image processor
mungkin dipakai untuk menjamin bahwa semua eksposi sama kecuali pada
daerah yang dipengaruhi oleh kontras. Kemampuan komputer yang
mensyaratkan pengambilan 60 citra per sekon dengan masing –masing 512 x
256 pixel, merupakan salah satu masalah besar dalam koleksi data,
manipulasi, penyimpanan, dan displai.
Dual energy substraction
Teknik substraksi lain, yang memanfaatkan metoda digital, dilakukan
berdasarkan sifat atenuasi berbagai material dalam tubuh yang tergantung
pada kV. Sebagai contoh, sinar x kV rendah dibutuhkan untuk membuat
kontras jaringan lunak, sedangkan tulang memberikan kontras masih tinggi
meskipun dengan kV tinggi.
Dual energy substraction dapat
dijelaskan dengan gambar di bawah. Bagian pertama detektor terdiri dari
ytrium oxysulphide phosphor screen yang digabung dengan barisan
fotodioda. Ytrium memiliki K absorption edge 17 keV, dibentuk signal
yang sesuai dengan energi foton, seperti tulang dan jaringan lunak.
Sinar x selanjutnya melewati filter Cu, berkas diperkeras sebelum
dijatuhkan pada filter tebal gadolinium oxysulphide phosphor screen.
Gadolinium memiliki K absorption edge 50 keV, sehingga signal yang
dibentuk oleh foton energi tinggi dapat dideteksi. Bila citra bentukan
screen kedua dengan pembobotan yang tertentu dikurangkan pada citra
screen pertama, akan diperoleh citra dengan pelemahan struktur tulang.
Time interval differencing
Dalam prinsip substraksi digital antar 2 frame, satu frame dipakai
untuk substrak citra dalam frame yang lain. Frame untuk substraksi tidak
perlu konstan dari frame tertentu. Contoh, citra dalam 30 frame yang
diambil dari beberapa detik. Dalam interval tertentu dapat dilakukan
frame 1 untuk substrak frame 11, frame 2 untuk frame 12, frame 3 untuk
frame 13, dan seterusnya. Dengan demikian setiap substraksi dilakukan
antara dua frame citra yang dipisahkan oleh interval waktu tertentu.
Cara ini efektif untuk memperoleh citra organ yang berubah teratur
secara siklis seperti jantung. Beda waktu dan jumlah frame dalam suatu
kelompok dapat diatur untuk memperoleh citra yang terbaik.
Showing posts with label TEKNIK RADIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label TEKNIK RADIOGRAFI. Show all posts
Friday, 20 September 2013
Sunday, 24 June 2012
KEMENTERIAN
KESEHATAN RI
|
Pemeriksaan :
COR
ANALISIS
|
|||||||
No. Dokumen :
|
No. Revisi :
|
Halaman :
|
||||||
Tanggal Terbit :
|
Ditetapkan oleh,
|
|||||||
Pengertian
|
Pemeriksaan
jantung dengan menggunakan foto torak PA dan lateral dengan pengisian kontras positif (barium sulfat, atau yodium) di daerah esofagus.
|
|||||||
Tujuan
|
Untuk
menilai atrium dan ventrikel jantung.
|
|||||||
Indikasi
|
Bila
diduga ada pembesaran jantung (kardiomegali).
|
|||||||
Kontraindikasi relatif
|
Kehamilan
trimester pertama, gangguan menelan (disfagia)
|
|||||||
Prosedur
Persiapan
|
Pasien
sebelum dilakukan pemeriksaan foto torak, berganti baju dengan tujuan
benda-benda logam yang melekat di daerah torak disingkirkan dan rambut diikat
ke atas.
|
|||||||
Prosedur
Tindakan
|
1. Memastikan identitas dan
pemeriksaan radiografi yang diminta
2. Memasang identitas pasien dan
marker dengan benar.
Jarak fokus film diambil 1,80 sampai 2 meter. Pada jarak
yang cukup jauh ini sinar-X berjalan hampir sejajar sehingga bayangan jantung
tidak banyak mengalami pembesaran. Proyeksi yang diambil adalah sebagai
berikut :
·
Proyeksi Postero-Anterior (PA)
Harus dibuat dengan simetris, tidak boleh miring sedikitpun. Esofagus dapat
diisi dengan kontras positif. Kontras diminumkan sebanyak satu
sendok makan. Dengan perlahan-lahan kontras ditelan dan kemudian baru dilakukan eksposi.
Kondisi radiografi harus sedemikian baik, sehingga pembuluh darah paru
dapat dilihat dengan jelas.
Eksposi dilakukan pada akhir inspirasi.
·
Proyeksi Lateral Kiri (kecuali Dekstrokardia)
Proyeksi ini dibuat dengan esofagus diisi barium dan
dibuat dengan jarak 1,80 m. Proyeksi ini harus dibuat dalam posisi true lateral.
|
|||||||
Penilaian
|
Kontras
harus terlihat mengisi esofagus pada posisi AP dan lateral.
|
|||||||
Lama
Tindakan
|
15 – 20
menit
|
|||||||
Komplikasi
|
Aspirasi
kontras
|
|||||||
Wewenang
|
Pemeriksaan dilakukan oleh
radiografer.
Pemberian
kontras dilakukan oleh perawat atau dokter spesialis radiologi,
Pembacaan/penilaian
dilakukan oleh dokter spesialis radiologi.
|
|||||||
Yang
Mengerjakan
|
Radiologi
|
|||||||
Dokumen
Terkait
|
Surat
pengantar dari dokter / klinisi, Persetujuan
Tindakan Medik
|
|||||||
Referensi
|
Purwohudoyo SS., 1984. Pemeriksaan Kelainan Kelainan Kardiovaskuler
dengan Radiologi Polos.
|
|||||||
KEMENTERIAN
KESEHATAN RI
|
Pemeriksaan
:
FOTO TORAK PA / AP / LATERAL / TOP LORDOTIK
|
||||||
No. Dokumen :
|
No. Revisi :
|
Halaman :
|
|||||
Tanggal Terbit :
|
Ditetapkan oleh,
|
||||||
Pengertian
|
Foto torak
adalah pemeriksaan Radiologi konvensional dengan menggunakan sinar-X dari
daerah torak. Pemeriksaan yang terbaik adalah dalam posisi tegak berdiri
postero anterior. Pada pasien yang sedang sakit atau tidak mampu berdiri boleh dilakukan
dalam posisi duduk atau supine.
Pemeriksaan
tambahan dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan untuk memperjelas kelainan yang
tampak. Yang
tersering adalah; posisi lateral, oblik, top lordotik.
|
||||||
Tujuan
|
Pemeriksaan
ini adalah untuk memperlihatkan struktur morfologi organ-organ dalam rongga torak
seperti, jantung dan pembuluh darah besar, paru-paru, rongga pleura dan
struktur organ lain dalam rongga mediastinum dan paru.
|
||||||
Indikasi
|
Diduga
ada kelainan dalam rongga torak, atau
untuk medical check up.
|
||||||
Kontraindikasi
|
Kehamilan
trimester pertama tidak dianjurkan kecuali dalam keadaan emergensi dan
mengancam nyawa
|
||||||
Prosedur
Persiapan
|
Pasien
sebelum dilakukan pemeriksaan foto torak, berganti baju dengan tujuan
benda-benda logam yang melekat di daerah torak disingkirkan dan rambut diikat ke atas.
|
||||||
Prosedur
Tindakan
|
1. Memastikan identitas dan pemeriksaan
radiografi yang diminta
2. Memasang identitas pasien dan
marker dengan benar.
Posisi PA :
Pasien berdiri
tegak menghadap kaset, kedua tangan diletakkan di daerah
kedua pinggul, dan kedua siku menempel
pada kaset sehingga bahu
mendorong skapula keluar dari daerah paru. Untuk pasien yang lemah dapat meletakkan kedua tangannya memeluk kaset.
Batas atas kaset terletak setinggi level vertebrae C7 ;
tergantung ukuran pasien. Batas lateral kolimasi berada di batas kulit dari iga
terbawah.
Eksposi dilakukan pada saat inspirasi dalam.
Posisi AP :
Pada
pasien yang lemah posisi diambil dalam posisi supine dengan kedua tangan
diangkat mengelilingi kepala.
Posisi Lateral Torak :
Pasien
posisi miring dengan tangan ke atas. “Central Beam” Terpusat 10 cm di bawah aksila.
Pengambilan foto dalam keadaan inspirasi dalam dengan FFD (Film Focus Distance) 180 cm.
Torak Oblik :
Posisi
pasien agak rotasi 45 derajat dengan film
Eksposi dalam keadaan inspirasi dalam
Top Lordotik :
Pasien
berdiri posisi AP sedemikian rupa sehingga batas atas apeks
dengan kaset berjarak 4 cm dari casette tray, kemudian
mencondongkan bagian dada atas ke belakang ke arah kaset dengan ke 2 bahu (foto hal 5
lange).
Fokus sinar (“Central Beam“) terletak di manubrium sterni
dan terletak di tengah kaset.
|
||||||
Penilaian
|
Foto Torak
PA yang adekuat adalah sbb.:
Prosesus spinosus
setinggi vertebra torakal 4 terlihat di tengah, tanpa rotasi. Batas medial skapula terletak di
luar iga.
Seluruh
rongga torak tercakup dari apeks paru
sampai kedua sudut kostofrenikus.
Inspirasi
cukup bila kubah diafragma terletak di bawah iga 9 posterior.
Kondisi
foto cukup baik bila jantung, diafragma dan pembuluh darah paru terlihat
jelas.
Ciri-ciri
foto lateral yang adekuat : seluruh paru terlihat
Kedua
lengan tidak tervisualisasi dalam daerah paru.
Ciri-ciri
foto top lordotik yang adekuat
|
||||||
Lama
Tindakan
|
5 – 10
menit
|
||||||
Komplikasi
|
Tidak ada.
|
||||||
Wewenang
|
Pemeriksaan
dilakukan oleh Radiografer
Pembacaan/Penilaian
dilakukan oleh dokter spesialis Radiologi
|
||||||
Unit
Yang Menangani
|
Radiologi
|
||||||
Dokumen
Terkait
|
Surat
pengantar dari dokter / klinisi
|
||||||
Referensi
|
1.
Standar
prosedur operasional Radiodiagnostik jilid I Dr. Bambang B, SpRad PDSRI
Jakarta.
2.
Lange Sebastian In Radiology of chest
Diseases. P 1 - 5
3.
|
||||||
Monday, 18 June 2012
Pokok Bahasan 1. Radiografi tulang-tulang belakang
Sub Pokok Bahasan: Pemeriksaan radiografi
tulang-tulang belakang.
1. TEKNIK RADIOGRAFI VERTEBRA SERVIKAL DAN ODONTOID
Pengertian
Melakukan
pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk organ yang akan diperiksa
Tujuan
Melihat struktur
vertebra servikal dan odontoid
Indikasi
·
Fraktur
·
Infeksi
·
Tumor
Kontraindikasi
Hamil muda
(relatif)
·
Prosedur Persiapan
·
Melepaskan gigi palsu, kaca mata, perhiasan, jepitan rambut dan alat bantu
dengar
·
Ukuran film: 18 x 24 cm
·
FFD: 100 cm
·
Bucky: dipakai
· Eksposure: 66 -
70 kV, 8 mAS
· Pasang proteksi
untuk gonad
·
Prosedur Tindakan
Pasien
posisi berdiri atau supine
·
Garis simpisis mental dengan batas bawah oksipital tegak lurus terhadap
bidang horizontal film
· Mulut
dalam keadaan terbuka (untuk melihat odontoid)
·
Proyeksi: 10-15 derajat kraniokaudal
· Pusat
sinar melalui “sterna notch” dan ditengah kaset
· Pasien
diminta menahan nafas dan jangan menelan ludah selama pengambilan gambar
Untuk melihat prosesus odontoid
proyeksi : ventrodorsal, tegak lurus terhadap film. Pusat sinar
berada digaris tengah diantara dua sudut mulut
· Penilaian
Prosesus odontoid, aksis dan atlas terlihat dengan jelas
· Vertebra
C3 sampai C7 tervisualisasi dengan baik
Lama
Tindakan
Sekitar 10 menit
Komplikasi
Tidak ada
Wewenang
Pokja muskuloskeletal
Unit Yang
Mengerjakan
Pokja
muskuloskeletal
Dokumen
Terkait
Surat pengantar
dari dokter / klinisi
Referensi
Pocket atlas of radiographic
positioning
Radiographic
Positioning Philip ballinger
2, TEKNIK RADIOGRAFI FOTO VERTEBRA SERVIKAL LATERAL
Pengertian
Melakukan
pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk organ servikal proyeksi lateral.
Tujuan
Melihat struktur
vertebra servikal.
Indikasi
·
Fraktur
·
Infeksi
Tumor
Kontraindikasi
Hamil muda
(relatif)
Prosedur Persiapan
·
Melepaskan gigi palsu, kaca mata, perhiasan, jepitan rambut dan alat bantu
dengar
·
Ukuran film: 18 x 24cm
·
FFD: 100 cm
·
Bucky: ya
·
Eksposure: 60-70 kV, 7. 1 – 8 mAS
·
Pasang proteksi untuk gonad
Prosedur Tindakan
·
Pasien posisi berdiri
·
Bahu menempel pada kaset yang tegak
·
Kepala dan leher pada posisi yang benar-benar lateral (bidang median
paralel terhadap film)
·
Dagu sedikit terangkat, batas atas kaset berada 3 cm diatas sudut mata
·
Proyeksi: lateral tegak lurus terhadap film
·
Pusat sinar melalui bagian tengah leher (C4) dan bagian tengah kaset
·
Pasien diminta menahan nafas dan jangan menelan ludah selama pengambilan
gambar
Penilaian
·
Semua servikal vertebra terlihat pada posisi lateral
·
Prosesus spinosus C7 juga harus terlihat
Lama Tindakan
Sekitar 10 menit
Komplikasi
Tidak ada
Wewenang
Pokja
muskuloskeletal
Unit Yang
Mengerjakan
Pokja
muskuloskeletal
Dokumen
Terkait
Surat
pengantar dari dokter / klinisi
Referensi
Pocket atlas of radiographic
positioning
Merrill’s Atlas of Radiographic
Position and Radiographic
3, TEKNIK RADIOGRAFI VERTEBRA SERVIKAL OBLIK
Pengertian
Melakukan
pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk organ servikal.
Tujuan
Melihat struktur
vertebra servikal (terutama feromina intervertebralis).
·
Fraktur
·
Infeksi
·
Tumor
Kontraindikasi
Hamil
muda (relatif)
Prosedur
Persiapan
·
Melepaskan gigi palsu, kaca mata, perhiasan, jepitan rambut dan alat bantu
dengar
·
Ukuran film: 18 x 24 cm
·
FFD: 100 cm
·
Bucky: ya
· Eksposure: 60-70
kV, 7.1 mAS
· Pasang proteksi
untuk gonad
Prosedur
Tindakan
·
Pasien posisi berdiri dengan punggung menempel pada kaset yang tegak
· Sisi yang lain
menjauh dari kaset dengan sudut 45 derajat
· Dagu sedikit
terangkat, dengan kepala sedikit ke bidang film agar lamus mandibula tidak
terlihat pada gambar
·
Batas atas kaset berada 3 cm diatas batas atas telinga
·
Proyeksi: ventrodorsal (AP), 10 derajat caudocepalat
·
Pusat sinar melalui bagian tengah leher (C4) dan bagian tengah kaset
·
Pasien diminta menahan nafas dan jangan menelan ludah selama pengambilan
gambar
· Penilaian
Foramina intervertebralis terlihat dengan jelas
· Identifikasi
foramina kanan sama dengan bahu kiri yang mendekat pada kaset dan sebaliknya
Lama
Tindakan
Sekitar 10 menit
Komplikasi
Tidak ada
Wewenang
Pokja
muskuloskeletal
Unit Yang
Mengerjakan
Pokja
muskuloskeletal
Dokumen
Terkait
Surat pengantar
dari dokter / klinisi
Referensi
Pocket atlas of radiographic
positioning
Merrill’s Atlas of Radiographic Position
and Radiographic
4. TEKNIK PEMERIKSAAN VERTEBRA TORAKAL AP
Pengertian
Melakukan
pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk organ torakal.
Tujuan
Melihat struktur
vertebra torakal.
Indikasi
·
Fraktur
·
Infeksi
·
Tumor
Kontraindikasi
Hamil
muda (relatif)
Prosedur
Persiapan
·
Pasien mengganti pakaiannya dengan baju pemeriksaan yang telah disediakan
·
Ukuran film: 30 x 40 cm
·
“compensating screen -/+”
·
FFD: 100 cm
·
Bucky: ya
·
Eksposure: 70-73 kV, 9 –
11 mAS
· Pasang proteksi
untuk gonad
Prosedur
Tindakan
· Pasien posisi
berdiri dengan punggung menempel pada kaset
·
Dagu diangkat
· Batas atas kaset
berada pada level C6, 1 cm diatas batas bahu
·
Proyeksi: ventrodorsal (AP)
· Pusat sinar
melalui bagian tengah sternum dan bagian tengah kaset
· Pasien diminta
menahan nafas selama pengambilan gambar
Penilaian
·
Seluruh vertebra torakal harus terlihat termasuk servikotorakal dan
torakolumbal
Kosta-kosta bagian belakang juga
terlihat
Lama
Tindakan
Sekitar 10 menit
Komplikasi
Tidak ada
Dokumen
Terkait
Surat
pengantar dari dokter / klinisi
Referensi
Pocket atlas of radiographic
positioning
5. TEKNIK PEMERIKSAAN VERTEBRA TORAKAL LATERAL
Pengertian
Melakukan
pemeriksaan radiografi dengan sinar-x untuk organ vertebra torakal.
Tujuan
Melihat struktur
vertebra torakal.
Indikasi
·
Fraktur
·
Infeksi
·
Tumor
Kontraindikasi
Hamil
muda (relatif)
Prosedur
Persiapan
·
Pasien mengganti pakaiannya dengan baju pemeriksaan yang telah disediakan
·
Ukuran film: 30 x 40 cm
·
“compensating screen -/+”
·
FFD: 100 cm
·
Bucky: ya
·
Eksposure: 77 - 81 kV,
12.5 – 16 mAS
· Pasang proteksi
untuk gonad
Prosedur
Tindakan
· Pasien
posisi berdiri dengan punggung menempel pada kaset
· Kedua
lengan diangkat kedepan atau ke atas
· Batas
atas kaset berada pada level C6, 1 cm diatas batas bahu
·
Proyeksi: lateral
·
Pusat sinar terletak pada margo inferior scapula dan bagian tengah kaset
·
Pasien diminta bernafas secara halus agar iga-iga menjadi
kabur
Penilaian
· Seluruh vertebra
torakal terlihat benar-benar lateral
·
Iga-iga tampak kabur
·
Torakolumbal juga tervisualisasi
Lama
Tindakan
Sekitar
10 menit
Komplikasi
Tidak ada
Dokumen
Terkait
Surat pengantar
dari dokter / klinisi
Referensi
Pocket atlas of radiographic
positioning
Subscribe to:
Posts (Atom)
