Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN K NUKLIR. Show all posts
Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN K NUKLIR. Show all posts

Tuesday, 24 January 2012

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Renografi Konvensional)

1. PENGERTIAN
Disebut juga pemeriksaan radionuklida ginjal dinamik, dengan prinsip pemeriksaan dengan menilai penangkapan radionuklida oleh ginjal yang dialirkan melalui nephron dan dieksresikan ke dalam pelvis ginjal dan kemudian melalui ureter sampai dengan kandung kemih. Kurva hasil pemeriksaannya menunjukkan perubahan aktivitas ginjal terhadap waktu yang menggambarkan fisiologis ginjal seperti fungsi penangkapan, waktu transit dan efisiensi outflow.

2. INDIKASI
 Obstruktif Uropati
 Transplantasi Ginjal
 Kelainan kongenital pada ginjal
 Evaluasi trauma saluran kemih
 Gagal ginjal akut dan kronis
 Uji saring hipertensi renovaskular

3. PERALATAN
 Kamera gamma dengan kolimator jenis general – purpose atau high sensitivity
 Matriks 64 x 64 pixels
 Akusisi frame 10 – 20 detik
 Lama pemeriksaan 30 – 40 menit

4. RADIOFARMAKA
• Tc– 99m MAG3 dengan dosis 2,5 mCi
• Tc– 99m DTPA dengan dosis5 mCi
• Tc– 99m EC dengan dosis2,5 mCi
• I– 123 Hippuran dengan dosis2 mCi

5. PERSIAPAN PASIEN
• Menjaga status hidrasi pasien selama pemeriksaan.
• Penderita dewasa : minum 400 ml air 20-30 menit sebelum pemeriksaan.
• Penderita anak-anak : diberikan volume cairan sesuai dengan berat badan.
• Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan renogram bersamaan dengan pemeriksaan IVP.
• Penderita harus mengosongkan vesika urinaria sebelum pemeriksaan.
• Pada pemakaian radiofarmaka I-131 Hippuran, penderita sebelumnya diberikan larutan lugol 10 tetes untuk memblok jaringan tiroid agar tidak menangkap I-131.

6. PROSEDUR PEMEERIKSAAN
1) Pasien supine atau tidur terlentang dengan kamera gamma berada di posterior atau punggung pasien.
2) Duduk atau setengah duduk agar lebih fisiologis.
3) Radiofarmaka disuntikkan pada vena mediana kubiti secara bolus.
4) Deteksi ditempatkan sedemikian rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada dalam lapang pandang pencitraan.

7. PEMROSESAN DATA
Seluruh data kasar digabung, kemudian dibuat ROI pada kedua ginjal serta di bawah kedua ginjal untuk substraksi latar belakang untuk membuat kurva waktu-aktivitas.

8. FASE PENILAIAN KURVA NORMAL
1) Fase Initial
• Terjadi peningkatan secara cepat segera setelah penyuntikan radiofarmaka yang menunjukkan kecepatan injeksi dan aliran darah vaskular ke dalam ginjal.
• Menunjukkan teknik penyuntikan radiofarmaka, apakah bolus atau tidak.
• Terjadi kurang dari 2 menit.

2) Fase Sekresi
• Menunjukkan kenaikan yang lebih lamban dan meningkat secara bertahap
• Fase ini berkaitan dengan proses penangkapan radiofarmaka oleh dan di dalam ginjal melalui proses difusi lewat sel-sel tubuli ke dalam lumen tubulus
• Dalam keadaan normal fase ini mencapai puncak dalam waktu 2 – 5 menit

3) Fase Ekskresi
• Tampak kurva menurun dengan cepat setelah mencapai puncak kurva yang menunjukkan keseimbangan antara radioaktivitas yang masuk dan meninggalkan ginjal.
• Menggambarkan pola urodinamik dari ginjal dan pola eliminasi melalui sistem pelvikalises menuju ke ureter dan vesika urinaria, sehingga fase ini sangat sensitif untuk kelainan pada saluran kemih.

9. FASE PENILAIAN KURVA ABNORMAL
• Jika ginjal tidak berfungsi maka penangkapan radioaktivitas akan minimum atau tidak ada sama sekali.
• Kurva akan berjalan datar/tidak beraturan karena pada kurva tersebut hanya menggambarkan aktivitas background saja.
• Pada kasus obstruksi total, vesika urinaria tidak tampak. Fase kedua akan tampak naik terus dan tidak terlihat adanya fase ketiga.

10. PARAMETER TAMBAHAN PADA PENILAIAN HASIL RENOGRAM
a. Waktu Transit Seluruh Ginjal (Whole Kidney Transit Time/WKTT)
Adalah waktu total yang dibutuhkan radiofarmaka untuk transit melalui parenkim ginjal dan pelvis atau jumlah antara waktu transit parenkim rata-rata (Mean Parenchyma Transit Time/MPTT) dan Waktu transit pelvis (Pelvic Transit Time/PvTT). Nilai normal MPTT adalah 100 – 200 detik.

b. Indeks Waktu Transit Parenkim (Parenchymal Transit Time Index / PTTI) dan Indeks Waktu Transit Seluruh Ginjal (Whole Kidney Transit Time Index / WKTTI)
PTTI adalah MPTT dikurangi Waktu Transit Minimum (MinTT), nilai normal PTTI adalah 10 – 156 detik. WKTTI adalah WKTT dikurangi MinTT, nilai normal WKTTI adalah 20 – 170 detik.

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (MUGA – Scan)

1. PENGERTIAN
Disebut juga Sintigrafi Jantung Dinamik atau Hot Spot Technique atau Ventricular Function Study atau Pemeriksaan Fungsi Ventrikel adalah salah satu jenis pemeriksaan kedokteran nuklir pada organ jantung yang berfungsi untuk mengamati tingkat efisiensi pompa jantung.

2. INDIKASI
• Evaluasi sebelum dan sesudah pengobatan kemoterapi.
• Evaluasi myocarditis dan kardiomyopathy.
• Menghindari resiko pembedahan.
• Evailuasi sebelum transplantasi jantung.

3. RADIOFARMAKA
Tc-99m Pyrophosphate dengan dosis 15 mCi disuntikkan secara bolus intravena.

4. PERALATAN
• SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography).
• PECT (Positron Emission Computed Tomography).

5. PERSIAPAN PASIEN
 Tidak ada persiapan khusus.
 Inform Concent / Lembar persetujuan tindakan.

6. PROSEDUR PEMERIKSAAN
• Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan.
• Radiofarmaka disuntikkan secara bolus intravena pada vena mediana cubiti
• Tangan pasien diposisikan di atas kepala pasien.
• Pengambilan gambar dilakukan segera setelah penyuntikan untuk menilai presentasi cardiac output, pergerakan dinding otot, dan coronary ansifficiensi.
• Lama pemeriksaan ± 20 – 30 menit.
• Selama pemeriksaan pasien dianjurkan untuk tidak melakukan pergerakan.

7. EVALUASI HASIL MUGA – SCAN
NORMAL
Tidak ditemukan distribusi (penyimpangan) radiofarmaka dalam jantung.

ABNORMAL
Hot Spot Imaging, pergerakan dinding yang lambat, miskin cardiac output

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Bone Scintigraphy /Sidik Tulang)

1. DEFINISI
Prosedur pemeriksaan yang menggunakan bahan radioaktif untuk memperlihatkan dan mengidentifikasi abnormalitas yang terjadi pada tulang – tulang didalam tubuh.

2. INDIKASI
• Metastasis pada tulang
• Tumor tulang primer
• Osteomielitis
• Nekrosis Aseptik
• Trauma
• Kelainan sendi
• Penyakit metabolik pada tulang

3. RADIOFARMAKA
Tc-99m MDP (Methylenediphosphonate) dengan dosis 15 – 20 mCi

4. PERSIAPAN ALAT
• Kamera gamma planar dilengkapi data prosessor dengan kolimator LEHR
• Puncak energi: 140 KeV
• Window width : 20%

5. PERSIAPAN PASIEN
1) Tidak diperlukan persiapan khusus.
2) Beritahu dokter atau petugas, jika :
a. Sedang hamil atau menyusui
b. Beberapa hari sebelumnya telah melakukan pemeriksaan yang mengandung barium (misalnya barium enema) atau sedang mengkonsumsi obat yang mengandung bismuth (misalnya pepto-bismuth) karena kedua zat tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan.
3) Kurangi konsumsi cairan 4 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, karena pasien akan diminta mengkonsumsi banyak cairan setelah perunut radioaktif disuntikkan.
4) Setelah perunut disuntikkan, pasien harus menunggu 1 – 3 jam sebelum bone scan dilakukan. Oleh karena itu pasien diperbolehkan membawa buku, majalah atau barang lainnya untuk memanfaatkan waktu pada saat menunggu pengambilan gambar.
5) Sebelum pemeriksaan dilakukan, lepaskan perhiasan atau benda logam lainnya yang dikenakan pasien dan yang kita kenakan, karena dapat menggangu pencitraan.

6. PROSEDUR PEMERIKSAAN
Pencitraan pada bone scintigrafi ini menggunakan metode 3 fase yaitu :

1. Fase Pertama (Vaskular)
a. Penderita tidur terlentang dengan detektor ditempatkan sedemikian rupa sehingga tubuh yang akan diperiksa berada diatas lapang pandang detektor.
b. Pemeriksaan fase pertama merupakan pemeriksaan dinamik dalam frame berukuran matrix 128 x 128 dengan waktu pencacahan 3 detik/frame selama 2 menit.
c. Posisi pencitraan adalah anterior dan atau posterior
d. Pencitraan dimulai bersamaan dengan saat penyuntikkan radiofarmaka secara bolus.

2. Fase Kedua (Blood Pool)
a. Pemeriksaan fase kedua dilaksanakan segera setelah fase pertama selesai berupa pencitraan statik dalam frame berukuran matrix 256 x 256 sebanyak 700 Kcount
b. Posisi pencitraan adalah anterior dan atau posterior

3. Fase Ketiga
a. Fase ketiga merupakan pemeriksaan statik yang dilakukan 3 jam pasca penyuntikan radiofarmaka.
b. Sebelum memasuki ruang pemeriksaan penderita dianjurkan buang air kecil dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi.
c. Pada pemeriksaan fase ketiga ini dilakukan pemeriksaan seluruh tubuh (whole body scan).
d. Posisi pencitraan adalah anterior dan Posterior dilanjutkan dengan pemeriksaan spot pada bagian-bagian yang mencurigakan.
e. Apabila diperlukan pemeriksaan dapat dilakukan pemeriksaan dengan posisi miring (oblique) untuk memperjelas lokasi kelainan.
f. Pemeriksaan dalam frame berukuran matrix 256 x 256 sebanyak 700 Kcounts.

7. EVALUASI HASIL
• Daerah tulang yang menyerap sedikit perunut atau bahkan tidak menyerap sama sekali disebut “Cold Spot”, yang menggambarkan bahwa suplai darah ke tulang tersebut kurang (infarksi tulang) atau memperlihatkan adanya kanker
• Daerah yang menyerap perunut banyak atau terlihat terang disebut “Hot Spot”, yang menggambarkan terjadinya tumor, fraktur, atau infeksi

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Renografi Transplantasi Ginjal)

1. PENGERTIAN
Modifikasi dari renografi konvensional yang dapat membantu para klinisi dalam menegakkan diagnosa yang berhubungan dengan transplantasi ginjal

2. INDIKASI
• Follow up pasien pasca operasi transplantasi ginjal
• Mendeteksi terjadinya resiko komplikasi pada pasien
• Menilai fungsi ginjal pada calon donor yang sehat (memastikan bahwa ginjal yang akan didonorkan adalah ginjal yang baik dan tidak akan membahayakan bagi pasien penerimanya)

3. KOMPLIKASI TRANSPLANTASI GINJAL
• Rejesi (Penolakan)
• Acute Tubular Necrosis (ATN)
• Obstruksi Ureter
• Stenosis Arteri Renalis (SAR)
• Thrombosis Vena Renalis
• Infeksi
• Toksisitas Siklosporin

4. PERALATAN
 Kamera gamma dengan kolimator jenis general – purpose atau high sensitivity
 Matriks 64 x 64 pixels
 Akusisi frame 10 – 20 detik
 Lama pemeriksaan 30 – 40 menit

5. RADIOFARMAKA
• Tc– 99m MAG3 dengan dosis 2,5 mCi
• Tc– 99m DTPA dengan dosis 5 mCi
• I– 123 Hippuran dengan dosis 2 mCi

6. PERSIAPAN PASIEN
• Menjaga status hidrasi pasien selama pemeriksaan.
• Penderita dewasa : minum 400 ml air 20-30 menit sebelum pemeriksaan.
• Penderita anak-anak : diberikan volume cairan sesuai dengan berat badan.
• Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan renogram bersamaan dengan pemeriksaan IVP.
• Penderita harus mengosongkan vesika urinaria sebelum pemeriksaan.
• Pada pemakaian radiofarmaka I-131 Hippuran, penderita sebelumnya diberikan larutan lugol 10 tetes untuk memblok jaringan tiroid agar tidak menangkap I-131.

7. PROSEDUR PEMEERIKSAAN
• Pasien supine atau tidur terlentang dan kamera gamma berada di anterior fossa illiaka di daerah abdomen bagian bawah dan pelvis.
• Radiofarmaka disuntikkan pada vena mediana kubiti secara bolus.
• Citra diambil pada interval 1 detik setelah radiofarmaka disuntikkan selama 60 detik.

8. PEMROSESAN DATA
• Seluruh data kasar digabung, kemudian dibuat ROI pada kedua ginjal serta di bawah kedua ginjal untuk substraksi latar belakang untuk membuat kurva waktu-aktivitas.
• ROI background dibuat pada daerah fossa illiaka kontra lateral, karena mencerminkan aktivitas jaringan di sekitar transplantasi ginjal.
• ROI background tidak boleh dibuat pada daerah pelvis, ureter, dan vesika urinaria.
• ROI harus dibuat konsisten selama pemeriksaan renografi secara serial.

9. PARAMETER PENILAIAN
• Bladder Appearance Time
• Rasio ginjal-vesika urinaria
• Waktu puncak renografi
• Indeks akskresi
• Indeks perfusi
• Rasio ginjal aorta

10. METODE PENILAIAN FUNGSI GINJAL DAN PERFUSI GINJAL
a. Indeks Perfusi
• Menghitung indeks perfusi ROI dibuat pada ginjal dan arteri illiaka yang kemudian dibuat kurva aktivitas terhadap waktu.
• Jika tidak ada aliran darah ke ginjal yang ditransplantasi maka nilai indeks perfusi akan meningkat.

b. Rasio Ginjal-Aorta
• Menggunakan kurva aktivitas terhadap waktu dari ginjal dan aorta.
• Nilai rasio akan menurun bila tidak ada perfusi ke ginjal. 
 

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Cystografi )

PENGERTIAN
Pemeriksaan radiologi dengan metode kedokteran nuklir yang dilakukan setelah renografi konvensional untuk memberikan informasi dalam kondisi fisiologis dan memberikan paparan radiasi lebih rendah dibanding dengan voiding cystouretrografi.

INDIKASI
• Refluks vesikoureter.
• Mendeteksi adanya luka parut setelah pyelonephritis.
• Komplikasi jangka panjang dari RVU (insufisiensi, hipertensi, dan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan).

PERSIAPAN ALAT
• Kamera gamma dengan kolimator jenis general purpose atau high sensitivity.
• Matriks : 256 x 256 pixels.
• Akusisi frame : 10-20 detik.
• Pencitraan dilakukan secara statik.

PERSIAPAN PASIEN
• Pasien disarankan untuk minum yang banyak sampai kandung kemih penuh.
• Tidak ada persiapan khusus.

RADIOFARMAKA
Tc-99m Pertechnetate dengan dosis aktivitas sebesar 1 mCi.

PROSEDUR PEMERIKSAAN
1. Pasien dengan kondisi kandung kemih penuh diposisikan supine pada meja pemeriksaan sebelum dilakukan pencitraan.
2. Setelah itu dilakukan aseptik di daerah pubis
3. Kemudian spuit 20 cc disuntikkan langsung ke kandung kemih.
4. Pasien diminta mengedan (aspirasi urin) untuk memastikan jarum masuk kedalam kandung kemih.
5. Radiofarmaka disuntikkan ke dalam kandung kemih melalui jarum yang sudah masuk ke kandung kemih.
6. Untuk pemeriksaan mengunakan kateter, kandung kemih harus kosong kemudian kateter kandung kemih diisi air dengan tekanan hidrostatik 70-90 cmH2O yang diampur Tc-99m Pertechnetate.
7. Posisikan pasien duduk di atas pispot dengan detektor ditempatkan di belakang bokong pasien sedemikina rupa sehingga bagian atas permukaan kandung kemih, ureter, dan ginjal berada dalam lapang pandang detektor.
8. Pencitraan diambil saat pasein mengedan tanpa buang air, mengedan dengan buangair kecil, dan setelah buang air kecil.

EVALUASI HASIL
Penilasan hasil cystografi didasarkan pada sistem gradasi.
• Ringan (derajat 1 dan 2 ) tampak radioaktivitas distal ureter.
• Sedang (derajat 3) radioaktivitas pada system pelviokalises.
• Berat (derajat 4 dan 5) radioaktivitas berlebih tampak pada di system koleksi ginjal.