Showing posts with label RADIOTERAPI. Show all posts
Showing posts with label RADIOTERAPI. Show all posts

Wednesday, 8 May 2013

Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT)

Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT)

Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) adalah bentuk khusus dari 3D-CRT, radioterapi 3 dimensi yang pengoperasiannya menggunakan komputer canggih. Berbeda dengan radioterapi biasa, penggunaan IMRT dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, karena tidak terlalu menyebabkan xerostomia (mulut kering) pasca pengobatan. Teknik pengobatan menggunakan IMRT memberikan dosis radiasi maksimal pada tumor dan dosis radiasi seminimal mungkin pada jaringan normal yang berdekatan dengan tumor.
Sebagai contoh pengobatan menggunakan IMRT, penelitian ini menggunakan Surveillance Epidemiologi dan Hasil Akhir (SIER)-Medicare database untuk membandingkan komplikasi gastrointestinal dan urin laki-laki 65 tahun atau lebih tua dengan kanker prostat dalam waktu dua tahun pengobatan dengan IMRT atau 3D-CRT. Para peneliti secara khusus meneliti efek samping gastrointestinal umum seperti peradangan pada lapisan rektum (proctitis) dan perdarahan rektum, bersama dengan efek samping kemih seperti peradangan jaringan kandung kemih (sistitis) dan darah dalam urin (hematuria). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan IMRT dapat mengurangi komplikasi gastrointestinal yang terkait dengan radiasi, termasuk proctitis dan perdarahan dubur, komplikasi kencing seperti sistitis dan hematuria.

Peranan Fisika Medis mengembangkan radioterapi :

IMRT adalah membuat sebuah konsep yang tadinya kita membuat perencanaan berkas radiasi dari beberapa lapangan dan dapat dihitung distribusi dosisnya dibalik menjadi kita menentukan telebih dahulu dosis target dan organ at risk (OAR)-nya kemudian dihitung balik berapakah intensitas radiasi yang harus diberikan pada masing-masing segmen target radiasi yang dikenal dengan invers planning.
Akuratkah perhitungan yang dilakukan dengan komputer? Kita mempercayai bahwa komputer dengan algoritmanya mengeksekusi perintah yang diberikan adalah benar. Namun seperti halnya dalam sebuah pengadilan, vonis benar atau salah haruslah adalah sebuah saksi atau bukti. Oleh karena itu, bergunalah para fisikawan dan ilmuwan mendesain ionization chamber yang dapat menunjukkan berapakah dosis radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Hasil pengukuran dengan instrumen IC dan alat pencacahnya menjadi sebuah saksi dan bukti kebenaran sebuah ekseskusi program komputer.

Dilihat dari semua di atas, peranan para fisikawan dan ilmuwan lain yang mendedikasikan dirinya untuk membangun radioterapi yang aman sangat besar. Aman dalam artian adalah membuat sebuah tatalaksana terapi dengan radiasi dengan tingkat akurasi yang tinggi dan sebisa mungkin menghidari dosis berlebih di jaringan normal dan jaringan/organ beresiko. Para ilmuwan telah berusaha membuat sebuah perangkat, teknik, dan perhitungan dosis yang akurat untuk mencapai tujuan aman.
• http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1233593550&14
• http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Image-guided_radiation_therapy
• http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://advancedradiationcenters.com/%3Fp%3Dwhatisigrt
• http://www.cancerhelps.com/kanker-nasofaring.htm

TOTAL BODY IRRADIATION

Total Body Irradiation (TBI)

Definisi :
Total Body Irradiation adalah bentuk radioterapi yang digunakan sebagai bagian dari regimen preparative untuk sel induk haematopoietic (sum-sum tulang) transplantasi. Sesuai namanya TBI melibatkan iradiasi seluruh tubuh. TBI dalam pengaturan transplantasi sumsum tulang berfungsi untuk menghancurkan atau menekan sistem kekebalan penerima, mencegah immunologic rejection dari donor transplantasi sum-sum tulang atau sel-sel induk darah. Selain itu, dosis tinggi TBI dapat membasmi sisa sel kanker dalam penerima transplantasi, memungkinkan tranplantasi ini akan berhasil karena TBI menembus saraf pusat system secara bersamaan dengan bagian yang lainnya.

Dosis iradiasi total tubuh yang digunakan dalam transplantasi sumsum tulang biasanya berkisar dari 10 sampai >12 Gy, radiasi yang diberikan dalam variasi dosis dari linear acceleration. Untuk referensi, dengan dosis 4,5 Gy merupakan hal yang fatal bila orang dipapar tanpa perawatan medis agresif. Pada dosis tersebut, TBI merusak sumsum tulang pasien (memungkinkan sumsum donor untuk ditanamkam) dan membunuh sisa sel-sel kanker. Non-myeloablative transplantasi sum-sum tulang menggunakan dosis yang lebih rendah dari TBI, biasanya sekitar 2 Gy yang tidak merusak sumsum tulang tetapi menekan kekebalan sistem cukup untuk mempromosikan engraftment donor.

TBI dapat diberikan 2-3 kali setiap hari dan 3-4 hari berturut-turut. Pusat pengobatan VA biasanya terletak di belakang rumah sakit utama di bangunan terpisah di seberang House Fisher. Disana pasien akan dibawa ke sebuah ruangan yang dilengkapi peralatan radiasi. Ada interkom dan sistem video di dalam ruangan yang memungkinkan pasien untuk dipantau dan dikomunikasikan dengan teknisi dan perawat. Pasien akan dimonitori selama prosedur tindakan dilakukan. Selama prosedur, pasien akan diminta untuk berada dalam posisi setengah duduk, beristirahat di kursi mirip dengan kursi sepeda. Jika pasien tidak dapat berdiri untuk seluruh prosedur sampai selesai, prosedur dapat dihentikan sementara dan dimulai lagi ketika pasien setelah beristirahat sejenak. Pasien akan menerima radiasi baik dari depan maupun dari belakang dalam tindakan/ sesi yang terpisah. Akan ada jeda antara tiap tindakan/ sesi. Sebuah shielding/ perisai akrilik akan ditempatkan antara pasien dan mesin yang memberikan radiasi untuk melindungi paru-paru dan kelenjar tiroid dari radiasi. Prosedur ini tidak menimbulkan rasa sakit seperti halnya operasi. Namun, ada sisi lain efek TBI. Ini akan diawasi secara ketat, dan pasien akan diberikan pengobatan untuk meminimalkan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan efek TBI.

Efek samping
Beberapa efek samping yang lebih mungkin terjadi sebagai akibat dari TBI antara lain: mual, kelelahan, pembengkakan kelenjar di daerah tenggorokan dan perubahan kulit.
• Kulit
Kulit mengalami perubahan yang spesifik pada TBI, pada umumnya kulit menjadi kemerahan. Hal ini biasanya terjadi setelah beberapa perawatan radiasi dan menurun segera setelah pengobatan selesai. Sekitar 2-3 minggu setelah menerima radiasi TBI, kulit menjadi merah tua dan mngembang dapat berlangsung selama beberapa bulan. Pasien yang menerima radiasi total tubuh harus mandi dengan air hangat saja dan menghindari penggunaan sabun, pelembab, dan peralatan mandi lain selama pengobatan dan selama beberapa hari setelah menerima radiasi.

• Mual/ Muntah/ Diare :
Mual, muntah dan diare adalah efek samping umum yang disebabkan oleh keruskan dan sensitivitas yang meningkat dari sel-sel yang melapisi kerongkongan, lambung dan saluran usus. Efek samping ini biasanya akan kembali sembuh dengan sendiri setelah pasien mendapatkan tindakan 3-4 kali. Pasien akan diberi obat-obatan sebelum setiap dijadwalkan tindakan/pengobatan dan diperlukan pada saat pengobatan/tindakan. Jika pasien tidak dapat memenuhi kebutuhan gizinya, pasien akan menerimanya melalui IV.

• Alopecia (kehilangan rambut)
TBI mengakibatkan hilangnya banyak rambut tubuh dalam jangka waktu 1-2 minggu pengobatan. Ini terjadi karena lapisan epidemis kulit, tempat tumbuhnya kan rambut, hancur dan folikel rambut mati. Rambut pasien akan kembali tumbuh lagi dalam waktu 2-3 bulan setelah pengobatan. Seberapa banyak rambut akan tumbuh kembali tergantung pada seberapa dan jenis radiasi dan jumlah kemoterapi yang didapatkan pasien. Kulit kepala pasien mungkin lunak/sakit dan pasien harus melindunginya dari sinar matahari.

• Kelelahan
Kelelahan merupakan efek yang sangat umum dari TBI dan disebabkan oleh menigkatnya energi yang diperlukan untuk memperbaiki sel yang mengalami kerusakan. Selain itu, pasien tidak mendapatkan kebutuhan gizi yang optimal, dan beberapa obat yang pasien minum untuk efek samping yang lain dapat menurun tingkat energi pasien.

• Masalah Kulit
Pasien mungkin akan mengalami iritasi kulit. Kulit bisa memerah, kering, gatal atau kecokelatan. Pasien dapat mengalami sebuah kondisi yang dikenal sebagai “moist reaction” di area yang terdapat lipatan kulit (ketiak,pangkal paha dan payu dara). Daerah ini menjadi sangat sakit dan harus brada dalam perhatian staf medis. Obat lotion, bubuk dan langka-langkah lainnya digunakan untuk mengobati iritasi pasien. Kondisi kulit akan kebali sembuh 1-3 minggu setelah tindakan TBI. Beberapa petunjuk pambantu : memakai pakaian longgar, jangan menggosok/menggaruk kulit mengalami iritasi, hindari meletakkan sesuatu yan panas atau dingin pada kulit, jangan menggunakan lotion, bedak, krim atau minyak tubuh kecuali diresepkan oleh dokter dan hindari kontak langsung dengan sinar matahari.

• Muscositis
Muscositis adalah peradangan pada saluran cerna (termasuk, muluat, tenggorokan, lambung, usus halus dan isi perut). Air ludah pasien mungkin menjadi tebal, kental dan lengket. Pasien dapat mengalami luka di mulut pasien disebut borok; sering terbuka dan berdarah. Pasien akan dinstruksi penuh oleh staf MTU tentang cara merawat mulut dan cara untuk meminimalkan rasa tidak nyaman. Obat nyeri akan diberika,sesuai kebutuhan,untuk mencegah rasa sakit. Beberapa derajat muscositis berlanjut sampai satu bulan setelah transplanstasi.

• Penurunan jumlah darah
Sel darah putih sangat sensitif terhadapa radiasi. Sel darah putih akan berkurang secara cepat dari tingkat normal ke tingkat sangat rendah ketika diradiasi. Trombosit pasien dan hematokrit akan berkurang lebih lambat, selama 10-14 hari setelah TBI. Rendahnya tingkat sel darah putih tubuh menjadi lebih mudah mengalami infeksi. Rendahnya tingkat trombosit meningkatkan resiko pendarahan. Selama tindakan TBI, pasien akan dijaga tetap berada di unit MTU, dimana ruangan pasien secara khusus dirancang untuk meminimalakn resiko pasien dari infeksi. Pasien akan menerima trombosit dan sel darah merah yang dikemas untuk mempertahankan tingkat sel yang dapat diterima/tetap normal.

• Emosional
Hampir semua pasien yang mendapatkan tindakan/pengobatan kanker merasa tingkat emosinya/marah menjadi sedikit relatif lebih tinggi. hal ini tidak biasa merasak baik tertekan, takut, marah, frustasi, sendirian dan/atau tak berdaya pada saat itu. Radiasi dapat mempengaruhi keadaan emosi pasien secara tidak langsung melalui kelelahan, ketidakseimbangan hormon, dan efek samping lainnya. Namun, pengobatan itu sendiri tidak secara langsung menyebabkan tekanan mental. Seorang psikolog akan tersedia untuk pasien dan keluarga pasien untuk mengatasi hal tersebut agara emosi menjadi lebih tenang.

Efek jangka panjang

• Katarak
Lensa mata sangat sensitif terhadap radiasi. Katarak bisa terbentuk dalam waktu 1-3 tahun setelah tindakan/Pengobatan TBI dilakukan, karena kerusakan pada lensa mata. Hal ini dapat disembuhkan melalui operasi katarak, jika diperlukan.

• Fertilitas/ kesuburan
Radiasi menurunkan fungsi ovarium pada wanita dan kemungkinan mereka mengalami pemeberhentian menstruasi. Mereka mungkin juga mengalami pengalaman lain sperti gejala menopause, termasuk kegatalan pada alat kelamin, terbakar dan kering. Pada pria, radiasi mengurangi jumlah sperma dan efektivitas. Radiasi dapat menyebabkan mutasi genetik baik dalam sperma maupun ovum. Ini tidak berarti bahwa pasien wanita untuk tidak bisa hamil. Sedangkan untuk pasien pria dianjurkan terlebih dahulu untuk ke bank sperma sebelum prose pengobatan dilakukan, karena radiasi meningkatkan resiko kemandulan. Namun secara keseluruhan sbelum pasien mendapatkan tindakan dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter pribadinya yang lebih ahli dalam permasalahan ini.

http://www.leukemiabmtprogram.org/patients_and_family/treatment/total_body_irradiation.html

RADIOTRAPI PADA KANKER SERVIKS



RADIOTERAPI PADA KANKER SERVIKS

Kanker serviks merupakan salah satu kanker terganas yang ada. Kanker serviks atau kanker leher rahim diberitakan sebagai penyebab kematian no. 1 di Indonesia. Setidaknya setiap 2 menit ada 1 orang di dunia yang meninggal karena kanker serviks. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk mengobatinya. Radioterapi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan. Radioterapi merupakan terapi yang menggunakan radiasi pengion untuk mengobati kanker. Radiasi pengion tersebut dapat berasal dari sumber radioaktif maupun mesin linear accelerator. Metode radioterapi yang digunakan dapat berupa radioterapi eksternal ataupun brakiterapi. Dengan radioterapi ini diharapkan pasien dapat sembuh ataupun mengurangi rasa sakit pasien yang mengalami kanker.
Radioterapi adalah penggunaan radiasi pengion dalam upaya mengobati penderita kanker. Prinsip radioterapi adalah mematikan sel kanker dengan memberikan dosis yang tepat pada volume tumor/target yang dituju dan menjaga agar efek radiasi pada jaringan sehat disekitarnya tetap minimum. Radiasi akan merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel kanker akan terhambat. Tujuan radioterapi adalah untuk pengobatan secara radikal, sebagai terapi paliatif yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker dan sebagai adjuvant yakni bertujuan untuk mengurangi risiko kekambuhan dari kanker. Dengan terapi yang dilakukan maka akan semakin banyak sel kanker yang mati dan tumor akan mengecil. Sel-sel kanker yang mati akan hancur, dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari tubuh. Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembali dari pengaruh radiasi. Tetapi bagaimanapun juga, kerusakan yang terjadi pada sel-sel yang sehat merupakan penyebab terjadinya efek samping radiasi. Radiasi mempunyai efek yang sangat baik pada jaringan yang membelah dengan cepat.
Dosis dari radiasi ditentukan dari ukuran, luasnya, tipe, dan stadium tumor bersamaan dengan responnya terhadap radioterapi.
Salah satu kanker yang dapat diobati dengan radioterapi adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Kanker serviks atau kanker leher rahim diberitakan sebagai penyebab kematian no. 1 di Indonesia. Setidaknya setiap 2 menit ada 1 orang di dunia yang meninggal karena kanker serviks.
Penyebab utama terjadinya kanker serviks diduga kuat infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Kanker serviks pada stadium awal tidak menimbulkan gejala apapun. Gejala baru timbul ketika sel-sel kanker serviks sudah menginvasi jaringan sekitarnya, yaitu berupa :
-          Perdarahan tidak normal : diluar siklus menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah pemeriksaan panggul.
-          Keputihan menahun, dengan cirri diantaranya : kental, warna kuning/kecoklatan, dapat berbau busuk dan/atau gatal.
-          Nyeri panggul hebat.
-          Pada stadium lanjut, gejala kanker serviks dapat berupa keluarnya air kemih dan tinja dari vagina.
Pasien akan didiagnosa untuk mengetahui stadium kanker serviks yang dideritanya.
  • Stadium 0 (Carsinoma in situ) : Sel-sel kanker serviks hanya ditemukan di lapisan terdalam leher rahim/serviks.
  • Stadium I : kanker ditemukan pada serviks saja.
  • Stadium II : kanker telah menyebar di luar serviks tetapi tidak ke dinding pelvis atau sepertiga bagian bawah vagina.
  • Stadium III : kanker serviks telah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina, mungkin telah menyebar ke dinding panggul, dan/atau telah menyebabkan ginjal tidak berfungsi.
  • Stadium IV : kanker serviks telah menyebar ke kandung kemih, rektum, atau bagian lain dari tubuh (paru-paru, tulang, liver, dll)
Dengan mengetahui stadium kanker serviks yang diderita pasien, dokter dapat dengan tepat memberikan radioterapi dengan metode dan dosis yang sesuai dengan stadium kanker yang diderita pasien.
Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo berbasis cisplatin. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.
Untuk tipe kanker serviks invasif, biasanya pembedahan dan radioterapi adalah treatment yang paling umum digunakan. Kemoterapi atau terapi biologis kadang-kadang digunakan.
Jenis-jenis radioterapi untuk kanker serviks :
  • Eksternal : terdapat jarak antara sumber radiasi dengan kulit penderita dengan Cobalt 60 atau linear accelerator. Linear accelerator ditujukan ke area panggul. Biasanya diberikan 5 hari, @beberapa menit per hari dalam seminggu selama 5-6 minggu.
  • Brachiterapi : sumber radiasi ditempelkan pada tumor.
Radioterapi Eksternal
Radioterapi Eksternal Seluruh Panggul (whole pelvis)
Radioterapi eksternal pada seluruh panggul (whole pelvis radiation) dapat digunakan untuk radioterapi kanker serviks. Kebijakan apakah metastatis limfonodi dimasukkan dalam target volume lapangan radioterapi eksternal whole pelvis tergantung pada derajat histology, stadium tumor primer, pola infiltrasi tumor, pola metastatis jauh. Dosis maksimum yang digunakan tergantung dari dosis toleransi maksimal jaringan normal yang berada di panggul. Faktor yang mempengaruhi besarnya dosis radiasi eksternal whole pelvis adalah umur penderita, beberapa keadaan yang menyebabkan turunnya dosis toleransi. Bagian superior panggul secara normal terisi oleh usus halus ileum yang bergerak bebas dengan dosis toleransi maksimum adalah 4 Gy dan 50 Gy dalam 4,5 – 5 minggu, sehingga dosis radiasi maksimum whole pelvis tidak boleh melebihi dosis toleransi usus halus sebesar 45 Gy – 50 Gy.
CT scan panggul menunjukkan vesica urinaria yang penuh terbukti dapat mendorong usus halus ke superior, keluar lapangan radiasi whole pelvis, sehingga disarankan pada saat radiasi whole pelvis, sebaiknya vesica urinaria penuh.
Struktur dalam panggul yang harus dilindungi adalah rektum, sigmoid serta caput femoris yang terkena radiasi lapangan lateral. Proktitis dan tenesmus merupakan efek samping radiasi.
Definisi target volume pada karsinoma serviks uteri
Target volume meliputi tumor primer, limfonodi pelvis, limfonodi parailiaka dan limfonodi iliaka komunis. Target volume ini harus mendapatkan dosis yang homogen sebesar 50 Gy. Agar setiap organ yang menjadi target volume mendapatkan dosis 50 Gy secara homogen, dapat dilaksanakan dengan menggunakan 4 lapangan radiasi yaitu lapangan anterior, posterior, lateral kanan, lateral kiri. Sehingga target volume berupa sebuah “kotak” yang terdapat didalam panggul dimana serviks, korpus uteri, parametrium, salfing, tuba, ovarium kelenjar limfe regional (limfonodi paraservikal, limfonodi parailiakal, limfonodi paraaortal) sebagian dinding lateral panggul keras, bagian anterior rektum, bagian posterior vesika urinaria, semuanya masuk didalam “kotak” target volume. Teknik ini disebut “box system” yang terutama digunakan pada karsinoma serviks uteri stadium inoperable yaitu IIB, IIIA, IIIB yang tumornya masih utuh, yang infiltratif ke parametrium atau vagina. Untuk karsinoma serviks uteri stadium IA/1B post operasi pan histerektomi dan karsinoma serviks IIA post operasi Wertheim, teknik radiasi whole pelvis 2 lapangan anterior-posterior dapat digunakan karena yang harus dieradikasi dengan radioterapi berupa mikroskopik residual disease karena stadiumnya masih dini sehingga 2 lapangan AP-PA sudah mencukupi.
Batas-batas lapangan anterior posterior whole pelvis meliputi batas atas tepi atas vertebra lumbal V, batas bawah tepi bawah foramen obturatoria, batas lateral 2 cm lateral dari linea inominata. Batas-batas lapangan radiasi lateral whole pelvis meliputi batas atas corpus vertebra lumbal V, batas bawah foramen obturatoria, batas posterior adalah tepi posterior simfisis ossis pubis.
Radioterapi eksternal pada karsinoma serviks uteri pasca wertheim
Indikasi radioterapi eksternal pada karsinoma serviks uteri stadium Ia, Ib, IIa adalah terdapat metastasis limfonodi para iliaka dan para aorta, jenis histologi karsinoma epidermoid berdiferensiasi buruk, sayatan operasi tidak bebas tumor.
Khusus untuk karsinoma serviks uteri pasca operasi wertheim karena yang dihadapi adalah mikroskopik disease, radiasi eksternal dapat diberikan dengan dua lapangan anterior posterior dan posteroanterior dengan dosis 48 Gy s/d 50 Gy dalam 25 fraksi radiasi, dosis perfraksi 2 Gy. Target volume adalah tumor bed bekas tempat serviks, uterus dan adneksa, proksimal vagina pada punctum bekas operasi, limfonodi parailiakal, parailiaka komunis.
Bila pada akhir radiasi box system masih didapatkan residual disease pada punctum vagina, yang dibuktikan dengan pemeriksaan pap smear, dapat dilakukan booster radiasi dengan brakiterapi ovoid kembar, dengan dosis 500 cGy 2 cm dari source sebanyak 2 kali aplikasi.

Radioterapi eksternal pada karsinoma serviks uteri stadium inoperable IIb, IIIA dan I1Ib
Target volume adalah proksimal vagina, forniks vagina, portio uteri, serviks uteri, korpus uteri, parametrium, salfing, tuba, ovarium, kelenjar limfe regional (Limfonodi paraservikal, limfonodi parailiakal, limfonodi paraaortal) sebagian dinding lateral panggul keras, bagian anterior rektum, bagian posterior vesika urinaria. Teknik radiasi whole pelvis menggunakan sistem box 4 lapangan dengan batas lapangan seperti sudah disebutkan sebelumnya.
Dosis yang digunakan adalah 46 Gy- 50 Gy dalam 23-25 fraksi radiasi, 2 Gy per fraksi. Kontribusi dosis dari lapangan anterior 0,6 Gy, lapangan posterior 0,6 Gy, lapangan lateral kanan 0,4 Gy, lapangan lateral kiri 0,4 Gy. Total dalam 1 hari mendapat dosis per fraksi 2 Gy. Kontribusi dosis dapat berubah sesuai bentuk panggul, panggul semakin besar dan pipih maka kontribusi dosis dari lapangan lateral makin kecil < 0,4 Gy, kontribusi dari lapangan anterior dan posterior > 0,6 Gy.
Radioterapi Brachiterapi
Brakiterapi adalah radiasi dalam jarak yang dekat. Kelebihan brakiterapi adalah efek samping yang didapat pasien lebih sedikit dan waktu rehabilitasi biasanya lebih pendek. Sebelum brakiterapi biasanya dilakukan prosedur sinar-x atau CT scan untuk mengetahui rencana perawatan yang akan dilakukan. Sumber radiasi berbentuk kabel, lempengan yang dimasukkan ke dalam tumor untuk menyalurkan radiasi dengan dosis tinggi. Sumber radioaktif ini adalah iridium-192 (HDR), cesium-137 (LDR), iodine atau palladium.
Terdapat dua jenis brakiterapi. Radiasi intrakaviter adalah salah satu jenis brakiterapi dimana sumber radiasi ditempatkan pada suatu gagang dan dimasukkan ke dalam organ tubuh, seperti uterus atau vagina. Alat/gagang itu dapat berupa pipa atau silinder yang didesain agar pas ukurannya dengan bagian tubuh yang terbuka. Alat tersebut dapat disimpan dengan tangan atau dengan bantuan mesin. Radiasi interstisial, pada jenis ini sumber radiasi langsung dimasukkan pada jaringan tubuh dan diletakkan langsung pada tumor. “High dose rate brachytherapy” merupakan jenis brakiterapi yang baru yang sangat populer belakangan ini. Sebuah mesin yang memiliki sumber radiasi dengan aktivitas yang sangat tinggi, kemudian sumber itu disalurkan melalui kateter ke organ yang ada di dekat tumor.
Brakiterapi intracaviter pada karsinoma serviks uteri memungkinkan memberikan dosis yang tinggi pada sentral tumor primer di serviks uteri untuk mendapatkan kontrol tumor lokal yang maksimal tanpa melebihi dosis toleransi maksimal pada jaringan normal sekitar tumor. Hal ini dimungkinkan karena uterus normal dan vagina bersifat relatif radioresisten, sehingga penurunan dosis yang tajam pada jarak 2 cm dari source radiactive didalam seviks dan uterus serta vagina akan melindungi jaringan normal sekitar serviks yaitu rektum, vesika urinaria dan intestinum ileum.
Efek samping dari brakiterapi spesifik di area yang akan diobati. Karena brakiterapi memfokuskan radiasi di area yang kecil, maka hanya area itulah yang akan dipengaruhinya.
Penyebab utama terjadinya kanker serviks diduga kuat infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Kanker serviks pada stadium awal tidak menimbulkan gejala apapun. Gejala baru timbul ketika sel-sel kanker serviks sudah menginvasi jaringan sekitarnya. Sebelum dilakukan pengobatan, pasien menjalani diagnosa untuk menentukan pada stadium berapa kanker serviks yang diderita. Hal ini akan menentukan metode pengobatan berupa radioterapi yang akan digunakan.
Ada dua macam metode radioterapi, yaitu radioterapi eksternal dan brakiterapi. Pada radioterapi eksternal terdapat jarak antara sumber radiasi dengan kulit penderita dengan Cobalt 60 atau linear accelerator. Linear accelerator ditujukan ke area panggul. Biasanya diberikan 5 hari, @beberapa menit per hari dalam seminggu selama 5-6 minggu. Dalam pemberian dosis, harus diperhatikan jaringan normal di sekitar kanker agar jaringan tersebut tidak mengalami dampak yang berarti. Pada radioterapi eksternal, besarnya dosis maksimal yang diperkenankan adalah 50 Gy dalam 4,5 – 5 minggu.
Pada brakiterapi terdapat dua macam metode, yaitu radiasi intrakaviter dan radiasi interstisial. Radiasi intrakaviter adalah salah satu jenis brakiterapi dimana sumber radiasi ditempatkan pada suatu gagang dan dimasukkan ke dalam organ tubuh, seperti uterus atau vagina. Radiasi interstisial, pada jenis ini sumber radiasi langsung dimasukkan pada jaringan tubuh dan diletakkan langsung pada tumor. Brakiterapi pun ada dua tipe energi yang digunakan, yaitu High-Dose-Rate (HDR) dan Low-Dose-Rate (LDR). Sumber yang digunakan yaitu iridium-192 (HDR), cesium-137 (LDR), iodine atau palladium.
sumber:
http://yusrowatch.wordpress.com/2011/01/06/radioterapi-pada-kanker-serviks/

BRAKHITERAPI



BRAKHITERAPI

Brakhiterapi adalah penggunaan dari isotop radioaktif tertutup untuk pengobatan, dengan menempatkan bahan radioaktif ke dalam atau berdekatan dengan sasaran radiasi. Hal ini bertujuan agar diperoleh distribusi dosis radiasi yang tinggi dan homogen dalam ruang lingkup yang sesuai dengan bentuk dan volume sasaran radiasi, sedang dosis pada jaringan sehat disekitarnya rendah, sehingga dapat dicapai kontrol lokal yang tinggi dengan efek samping yang rendah.
Cara–cara penempatan sumber radiasi dalam brakhiterapi meliputi :
1. Implantasi interstitial
* Lama waktu tertentu (temporary)
* Menetap (permanent)

Diberikan secara temporer dengan menanamkan sumber radiasi baik secara langsung mis. Implantasi jarum radium/cesium pada tumor lidah, atau secara interstitial dengan menanamkan aplikator terlebih dahulu, baru kemudian dimasukkan sumber radiasinya mis. Radiasi interstitial pada tumor lidah/dasar mulut.
2. Intrakaviter
Sumber radiasi dimasukkan kedalam kavitas–kavitas yang ada di tubuh manusia, mis. Pada kasus Ca. cerviks uteri.

3. Intralumenal
Brakhiterapi ditujukan untuk tumor–tumor yang ada dalam tubuh manusia, mis. untuk carsinoma bronchus dan oesofagus.

4. Superfisial (dengan mould)
Adalah bentuk brakhiterapi dengan menempatkan sumber radiasi pada mould (biasanya dibuat dari lilin), kemudian mould yang telah ada sumber radiasinya tersebut diletakkan pada tumor dipermukaan tubuh manusia (diatas kulit).

5, Intravaskular
Adalah bentuk radiasi mutakhir dengan memasukkan sumber radiasi kedalam pembuluh darah, banyak digunakan untuk mencegah terjadinya restenosis setelah bedah angioplastik.

Jenis Brakhiterapi berdasarkan laju dosis radiasi (dose rate) yaitu :
1. Low Dose Rate ( LDR ) : 0.4 – 2 Gy / jam
Radioaktif temporary yang digunakan : Radium, Cesium, Iridium
Radioaktif permanent yang digunakan : Radon, Iodium 125
Contoh : radiasi jarum radium pada pengobatan Ca. cerviks

2. Medium Dose Rate (MDR) : 2–12 Gy/jam
Radioaktif yang digunakan : Cesium, Cobalt, Iridium.

3. High Dose Rate (HDR) : >12 Gy/jam
Saat ini HDR paling banyak digunakan. Dan Radioaktif yang digunakan : Cobalt dan Iridium.
Ditinjau dari segi proteksi radiasi, penggunaan Radium 226 tidak lagi direkomendasikan untuk pemakaian dalam radioterapi.

Adapun teknik aplikasi yang digunakan dalam brakhiterapi yaitu :
1. Teknik Manual, hanya untuk LDR.
2. Teknik “Afterloading“:

Terlebih dahulu dipasang aplikator kosong ke daerah sasaran radiasi, bahan radioaktif dimasukkan kedalam aplikator dengan sistem penggerak yang diatur oleh panel kontrol diluar ruang radiasi. Digunakan untuk LDR, MDR, HDR.
Kelebihan teknik afterloading :
1. Aman untuk petugas
2. Lebih akurat pemasangan aplikator kosong
3. Dapat untuk HDR, waktu penyinaran pendek, dan tidak memerlukan perawatan yang lama.

Aplikasi Klinis dari Brakhiterapi :
1. Brakhiterapi definitif :
Dosis radiasi penuh, Ca. lidah, dasar mulut, kulit, prostat.
2. Brakhiterapi kombinasi dengan radiasi eksternal, sebagai radiasi booster.
Untuk Ca. cerviks, nasofaring, bronchus, esofagus.
3. Brakhiterapi pasca bedah
Pada sarkoma jaringan lunak, payudara (setelah radiasi eksterna).

Indikasi dari Brakhiterapi :
. Tumor–tumor dengan ukuran kecil
Contoh : Ca. prostat, Ca cerviks dan nasofaring pada stadium IA

. Tumor–tumor besar, diberikan sebagai booster
Contoh : Ca cerviks pada stadium IB – IIIB, KNF, Ca. mammae

. Sebagai terapi paliatif dikombinasikan dengan radiasi eksterna dengan tujuan untuk mengurangi waktu pengobatan.
Keuntungan Brakhiterapi dibandingkan radiasi eksterna :
1. Dosis yang diberikan pada brakhiterapi lebih tertuju pada tumor/target saja,
sehingga akan memberikan lokal kontrol yang baik.
2. Akan terjadi penurunan dosis pada jaringan sehat dengan menggunakan brakhiterapi
sehingga efek samping akan berkurang.

Proteksi Radiasi dalam Brakhiterapi meliputi :
1. Proteksi Pasien :
* Program monitoring paparan radiasi
* Emergency procedure
* Data lengkap dari parameter radiasi
* Sistem check parameter radiasi oleh dokter/ahli fisika

2. Proteksi Petugas :
* Program monitoring paparan radiasi
* Test kebocoran sumber tertutup.

Tujuan Utama treatment planning dalam brakhiterapi adalah :

* Untuk memperoleh distribusi dosis yang akan digunakan untuk menentukan dosis perskripsi, dengan cara memberikan dosis yang tinggi pada target volume namun pada jaringan normal akan mendapatkan dosis seminimal mungkin (dosis toleransi).
* Karena dalam brakhiterapi, distribusi dosis dalam target volume sangat tidak homogen. Daerah dekat sumber akan menerima dosis yang sangat tinggi. Selain itu, planning dipersulit oleh kenyataan bahwa geometri sumber tidak selalu dapat persis seperti yang direncanakan karena kesulitan penempatan sumber dalam jaringan. Oleh karenanya, ketidaktelitian planning dalam brakhiterapi relatif lebih longgar yaitu : ±15 %.

Adapun peran fisikawan medik dalam planning brakhiterapi adalah :
1. Untuk melakukan verifikasi sumber.
Dapat dilakukan pada saat pertama kali sumber terpasang, verifikasi dilakukan dengan menggunakan bilik ionisasi sumur (well-ionisation chamber) ataupun dengan menggunakan bilik ionisasi farmer.

2. Untuk menentukan lokalisasi sumber
Melalui teknik pembuatan radiografi orthogonal (AP–Lateral) dengan teknik isocenter. Dilakukan dibagian simulator, dengan mengatur pergerakan dari gantry dan meja juga perhitungan faktor magnifikasi yang digunakan.

3. Kalkulasi dosis
Dengan menggunakan TPS (Treatment Planning System)

Sumber:
http://radiografer.wordpress.com/brakhiterapi/

STEREOTATIC RADIOSURGERY (SRS)

Stereotactic Radiosurgery (SRS)

Definisi :
Stereotactic radiosurgery (SRS) adalah pengobatan pada gangguan otak dengan pengiriman dosis radiasi tinggi dalam sesi satu hari. Fokus berkas radiasi diberikan ke daerah tertentu dari otak untuk mengobati kelainan seperti tumor atau gangguan fungsional. Difraksinasi perawatan radiasi stereotactic yang diterima dalam periode hari atau minggu dapat diberikan ke tubuh dengan bantuan removable masks dan frames yang mencapai tingkat yang lebih rendah dari imobilisasi. Stereotactic radiosurgery terbatas pada kepala dan leher, karena daerah ini dapat bergerak dengan alat fiksasi tulang yang benar-benar membatasi gerakan kepala itu, yang memungkinkan pengobatan yang paling tepat dan akurat Satu sesi perawatan tanpa peralatan fiksasi kerangka tidak dianjurkan karena berpotensi tinggi untuk kerusakan jaringan otak yang sehat, saraf kranial (optik, pendengaran, dll) dan batang otak.

Melalui penggunaan perencanaan dibantu komputer tiga-dimensi dan derajat imobilisasi yang tinggi, perawatan dapat meminimalkan jumlah radiasi yang melewati jaringan otak yang sehat. Stereotactic radiosurgery secara rutin digunakan untuk mengobati tumor otak dan luka. SRS mungkin pengobatan primer, digunakan ketika tumor tidak dapat diakses dengan cara bedah atau sebagai dorongan atau tambahan untuk perawatan lain untuk tumor berulang atau ganas. Dalam beberapa kasus, mungkin tidak tepat.

Cara Kerja :
Stereotactic radiosurgery bekerja seperti bentuk pengobatan radiasi lainnya. Pengobatan ini tidak menghilangkan tumor atau lesi (luka) tetapi mendistorsi DNA dari sel tumor. Sel-sel kemudian kehilangan kemampuannya untuk mereproduksi dan mempertahankan cairan. Penurunan tumor terjadi pada tingkat pertumbuhan normal sel tumor tertentu. Dalam lesi seperti AVMs (jalinan pembuluh darah di otak), radiosurgery menyebabkan pembuluh darah menebal dan menutup. Menyusutnya tumor atau menutupnya pembuluh terjadi selama periode waktu. Untuk tumor jinak dan pembuluh biasanya selama 18 bulan sampai dua tahun. Untuk tumor ganas atau metastasis, hasilnya dapat dilihat dalam beberapa bulan, karena sel-sel ini sangat cepat berkembang.

Efek Samping :
• Pembengkakan
Sebagaimana seperti semua perlakuan radiasi, sel-sel dari tumor iradiasi kehilangan kemampuan mereka untuk mengatur cairan, dan edema atau pembengkakan dapat terjadi. Ini tidak terjadi di semua perlakuan. Jika pembengkakan terjadi, hal itu menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan maka pengobatan steroid mungkin diberikan untuk mengurangi cairan di dalam rongga tumor.
• Nekrosis
Jaringan tumor yang tersisa setelah perawatan radiasi biasanya akan menyusut. Pada kasus langka ini jaringan nekrotik atau mati dapat menyebabkan masalah lebih lanjut dan mungkin memerlukan penghilangan. Hal ini terjadi dalam persentase kasus yang sangat kecil.

Sebelumnya Radiasi :
Stereotactic radiosurgery dapat digunakan pada pasien yang telah gagal pada teknik radiasi standar atau pada pasien yang telah menerima radiasi seluruh otak atau dosis radiasi maksimum yang diijinkan. Ada literatur kecil pada radiasi-tumor baru diinduksi disebabkan oleh radiosurgery stereotactic. Diharapkan kemungkinan tumor kembali kambuh adalah 1 dalam 10.000 kasus. Hal ini mungkin disebabkan ketepatan pengobatan pada saraf dan jaringan. Seorang pasien yang telah radiosurgery stereotactic untuk tumor otak atau kondisi lain mungkin memiliki operasi tengkorak terbuka kemudian tanpa masalah. Dalam banyak kasus, stereotactic radiosurgery dapat dilakukan lagi jika diperlukan.

Jenis :
Ada tiga bentuk dasar radiosurgery stereotactic yang diwakili oleh tiga instrumen teknologi yang berbeda. Setiap instrumen beroperasi dengan cara berbeda, memiliki sumber radiasi yang berbeda dan mungkin lebih efektif dalam keadaan yang berbeda. Instrumen tersebut yaitu :
• Particle beam (proton)
• Cobalt-60 based (photon)
• Linear accelerator based (linac)

Indikasi :
Stereotactic radiosurgery mungkin atau mungkin tidak sesuai untuk kondisi. SRS dapat digunakan sebagai pengobatan primer atau direkomendasikan di samping perawatan lain yang diperlukan. Hanya seorang ahli bedah saraf yang mengoperasikan peralatan radiosurgery yang dapat membuat evaluasi, apakah seseorang dapat diobati. Seorang ahli bedah saraf harus selalu hadir selama perawatan dan harus bekerja dengan onkologi radiasi saat otak sedang ditargetkan. Beberapa indikasi yang paling umum untuk pengobatan adalah :
Arteriovenous Malformasi
• Semua tumor otak jinak termasuk
o Acoustic Neuromas
o Meningiomas
o Pineal dan Pituitary Tumors
• Semua tumor otak ganas termasuk
o Glial Tumors dan Astrocytomas
o Low grade tumor
• Tumor otak metastatik
• Gangguan fungsional termasuk:
o Trigeminal Neuralgia
o Essential Tremor
o Parkinson’s Tremor/ Rigidity
http://www.irsa.org/radiosurgery.html

RADIOTERAPI



Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis yang dilakukan pada pasien dengan menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin dengan kerusakan pada sel normal sekecil mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi tertutup. Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau partikel yang bila mengenai sebuah atom akan menyebabkan terpentalnya elektron keluar dari orbit elektron tersebut. Pancaran energi berupa gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar gamma dan sinar X. Akibat dari disintegrasi inti tersebut akan terbentuk satu pancaran energi berupa sinar gamma dan 2 pancaran partikel, yaitu pancaran elektron disebut sinar beta dan pancaran inti helium disebut sinar alfa.
Sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah :
1. Sinar Alfa
Sinar alfa adalah sinar korpuskuler atau pertikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi.
2. Sinar Beta
Sinar beta adalah sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah. Daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm. Digunakan untuk terapi lesi yang superfisial.
3. Sinar Gamma
Sinar gamma adalah sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus tubuh. Daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menembus sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya, makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya.
Radioisotop yang digunakan antara lain:
1. Calcium 137: sinar gamma
2. Cobalt 60: sinar gamma
3. Radium 226: sinar alfa, beta, gamma 7
Jenis Radioterapi
1. Radiasi eksterna/ sinar luar (Teleterapi), adalah bentuk pengobatan radiasi dengan sumber radiasi mempunyai jarak dengan target yang dituju atau berada diluar tubuh. Sumber yang dipakai adalah sinar X atau photon yang merupakan pancaran gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan oleh pesawat liner akselerator (LINAC).
2. Brakhiterapi, adalah bentuk pengobatan radiasi dengan mendekatkan sumber radiasi kesasaran yang dituju. Sumber radiasi yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-226, yang dikemas dalam bentuk jarum, biji sebesar beras, atau kawat dan dapat diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary).

Tujuan Terapi Radiasi
Terapi radiasi dianggap sebagai pengobatan lokal karena hanya sel didalam dan disekitar kanker yang dituju. Hal ini tidak begitu bermanfaat melawan kanker yang sudah menyebar karena terapi radiasi umumnya tidak dibuat untuk menjangkau seluruh bagian tubuh. Radiasi berguna untuk beberapa tujuan, antara lain:
a.) Menyembuhkan atau mengecilkan kanker pada stadium dini
Radiasi digunakan untuk membuat kanker mengecil atau hilang sama sekali. Untuk kasus kanker lain, bisa digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum operasi ( pre-operative therapy ) atau setelah operasi yang tujuannya untuk menjaga agar kanker tidak kambuh (adjuvant therapy). Terapi ini dapat juga dilakukan bersamaan dengan chemotherapy.
b.) Mencegah agar kanker tidak muncul di area lain
Apabila suatu jenis kanker diketahui menyebar ke area tertentu, kemungkinan akan dilakukan treatment untuk mencegah agar sel tersebut tidak berubah menjadi tumor. Sebagai contoh, pasien dengan beberapa type kanker paru-paru, mungkin akan menerima prophylactic (preventive) radiasi di kepala sebab tipe kanker ini sering menyebar ke otak.
c.) Mengobati gejala-gejala pada kanker stadium lanjut
Beberapa kanker mungkin telah menyebar jauh dari perkiraan pengobatan. Tetapi hal ini bukan berarti kanker tersebut tidak bisa diobati agar pasien merasa lebih baik. Radiasi bisa untuk membebaskan dari rasa sakit, masalah pada pemasukkan makanan, bernafas atau pada usus besar, yang semua itu disebabkan oleh kanker yang sudah pada stadium lanjut. Cara ini biasa dinamakan palliative radiation.
Prinsip Penggunaan Radiasi
Dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan ada ketentuan yang harus dipatuhi untuk mencegah penerimaan dosis yang tidak seharusnya terhadap seseorang. Ada 3 prinsip yang telah direkomendasikan oleh International Commission Radiological Protection (ICRP) untuk dipatuhi, yaitu :
a.) Justifikasi
Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya harus didasarkan pada azas manfaat. Suatu kegiatan yang mencakup paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika kegiatan itu akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi individu atau masyarakat dibandingkan dengan kerugian atau bahaya yang timbul terhadap kesehatan.
b.) Limitasi
Dosis ekuivalen yang diterima pekerja radiasi atau masyarakat tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis (NBD) yang telah ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi dimaksudkan untuk mencegah munculnya efek deterministik (non stokastik) dan mengurangi peluang terjadinya efek stokastik.
c.) Optimasi
Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnya (as low as reasonably achieveable – ALARA), dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan sumber radiasi harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar paparan radiasi yang terjadi dapat ditekan serendah-rendahnya.
Derajat efek radiasi tergantung pada beberapa faktor yaitu jenis radiasi, lamanya penyinaran, jarak sumber dengan tubuh dan ada tidaknya penghalang (shieldhing) antara sumber radiasi dengan objek. Efek biologis radiasi pengion tergantung pada organ/ bagian tubuh dan pola transfer terkena radiasi, kualitas radiasi dan pola transfer energi yang terjadi di dalam tubuh dan faktor modifikasi lainnya misalkan besarnya dosis, fraksinasi dosis dan distribusi zat radioaktif di dalam tubuh.
Parameter utama yang harus diperhatikan dalam pengobatan menggunakan teknik radiasi adalah:
• Kedalaman
• Lapangan radiasi
• SSD atau SAD
• Energi foton
Beberapa contoh jenis pesawat radioterapi eksternal yang menggunakan foton, yaitu:
PESAWAT SINAR-X
a.) Sejarah sinar – X
Sinar-X ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontgen seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1895. Penemuannya diilhami dari hasil percobaan sebelumnya antara lain dari J.J Thomson mengenai tabung katoda dan Heinrich Hertz tentang foto listrik. Kedua percobaan tersebut mengamati gerak elektron yang keluar dari katoda menuju ke anoda yang berada dalam tabung kaca yang hampa udara. Pembangkit sinar-X berupa tabung hampa udara yang di dalamnya terdapat filamen yang juga sebagai katoda dan terdapat komponen anoda. Jika filamen dipanaskan maka akan keluar elektron dan apabila antara katoda dan anoda diberi beda potensial yang tinggi, elektron akan dipercepat menuju ke anoda. Dengan percepatan elektron tersebut maka akan terjadi tumbukan tak lenting sempurna antara elektron dengan anoda, akibatnya terjadi pancaran radiasi sinar-X, pelat fotoluminesensi yang terletak bersebelahan dengan tabung katoda berpendar ketika tabung katoda digunakan pada ruang gelap dan Roentgen berpikir pasti ada jenis radiasi baru yang belum diketahui terjadi di dalam tabung sinar katoda dan membuat pelat fotoluminesensi berpendar.
Oleh karena itu kemudian radiasi ini dikenal sebagai sinar x.
b.) Rangkaian Dasar Pesawat Sinar – X
Rangkaian dasar pesawat sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elektrode dalam tabung sinar-X, dan unit pengatur. Bagian pesawat sinar-X yang menjadi sumber radiasi adalah tabung sinar-X. Didalam tabung pesawat sinar-X yang biasanya terbuat dari bahan gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung sinar-X berisi filament yang juga sebagai katoda dan berisi anoda. Filamen terbuat dari tungsten, sedangkan anoda terbuat dari logam anoda (Cu, Fe atau Ni). Anoda biasanya dibuat berputar supaya permukaannya tidak lekas rusak yang disebabkan tumbukan elektron. Trafo tegangan tinggi berfungsi pelipat tegangan rendah dari sumber menjadi tegangan tinggi antara 30 kV sampai 100 kV. Pada trafo tegangan tinggi diberi minyak sebagai media pendingin. Trafo tegangan tinggi berfungsi untuk mempercepat elektron di dalam tabung. Setiap tahun pada pesawat sinar-X terjadi penyimpangan cukup besar sehingga perlu dikalibrasi sekurang-kurangnya satu bulan sekali.
Pesawat radioterapi sinar X, menurut energi yang dihasilkan:
1) Sinar X dengan energi rendah, (10 – 125 KV) ini disebut kontak terapi
2) Sinar X energi menengah, (125 – 300 KV) dan dinamakan sinar X orthovoltage

UNIT TELETERAPI (Co-60)
Telah diketahui bahwa daya penetrasi sinar-X dalam jaringan amat tergantung dari energi yang dihasilkan oleh tabung.
Makin tinggi perbedaan tegangan antara katoda dan anoda, makin besar pula daya tembus sinar. Berarti untuk tumor-tumor yang letaknya dalam diperlukan pesawat-pesawat dengan tegangan yang tinggi. Pada tahun 1913, Coolidge memperkenalkan tabung sinar-X hampa udara dengan tegangan 200 kV yang pertama. Tabung ini merupakan dasar dari perkembangan teknik radioterapi selanjutnya. Karena dengan tegangan tersebut tidak akan didapatkan dosis yang memuaskan untuk tumor-tumor yang letaknya lebih dalam, maka sesudah perang dunia kedua, lahirlah pesawat “supervoltage” kemudian disusul dengan periode “megavoltage” yang diperkenalkan oleh Schulz. Setelah itu ditemukan pula Co-60 (kobalt 60) yang merupakan isotop buatan yang murah yang dapat menggantikan jarum radium yang mahal harganya. Pada saat ini Co-60 yang mempunyai energi ekuivalen dengan sinar-X 3 mV, digunakan baik sebagai radiasi eksternal (teletherapy) maupun radiasi internal (brachytherapy, yaitu implantasi atau intra-kavitar).
a.) Rangkaian Dasar Pesawat Co-60
Pesawat Co-60 menggunakan sumber radiasi bahan radioaktif Cobalt 60 yang menghasilkan sinar gamma. Sinar Gamma adalah istilah untuk radiasi elektromagnetik energi-tinggi yang diproduksi oleh transisi energi karena percepatan elektron. Gamma bermuatan 0 (nol) dihasilkan akibat transisi inti nukleon. Sumber (head source) Co-60 berada pada gantry yang dapat diatur penyudutannya dari 00 – 3600. Sinar gamma memiliki daya tembus yang tinggi dibandingkan partikel alpha maupun beta. Bahan untuk menahan sinar gamma biasanya diilustrasikan dengan ketebalan yang dibutuhkan untuk mengurangi intensitas dari sinar gamma. Pesawat Co-60 memiliki lampu kolimator dan fiber optik yang berfungsi untuk mendapatkan titik sentral dari luas lapangan penyinaran, mengatur jarak sumber ke obyek dengan mengubah ketinggian meja.
Pesawat teleterapi Co-¬60 setiap tahun terjadi penyimpangan/ error sebesar 5%. Selain itu perlu dikalibrasi setiap 6 bulan. Penyimpangan output radiasi pesawat teleterapi Co-¬60 terjadi karena geometri dari isotop berbentuk silinder bukan bola dan berkas radiasi yang digunakan ialah berkas terkolimasi. Keberhasilan pelaksanaan teleterapi dengan menggunakan pesawat telecobalt-60 sangat dipengaruhi oleh faktor ukuran dan geometris sumber, serta jarak sumber kepermukaan kulit pasien. Untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap karakteristik radiasi pesawat telecobalt-60, maka telah dilakukan simulasi dengan menggunakan model sumber berbentuk piringan, model sumber berbentuk titik, dan menggunakan model persamaan empiris.
Dari hasil simulasi, secara umum diperoleh bahwa semakin kecil diameter sumber, maka profil dosis keluaran pesawat akan semakin flatness, yang berarti sebaran dosis pada daerah teradiasinya akan semakin seragam. Semakin jauh sumber radiasi dari bidang pengamatan (SSD semakin besar) maka sebaran dosis pada bidang pengamatan tersebut akan semakin seragam. Untuk SSD konstan, semakin dalam titik pengamatan berada dalam phantom maka sebaran dosisnya akan semakin seragam.
Dengan membandingkan hasil simulasi dan hasil eksperimen untuk medan radiasi standar 10 cm x 10 cm, maka kecenderungan keseragaman ( uniformity) sebaran dosis akibat adanya ukuran sumber (SSD) dan kedalaman (d) hanya terjadi pada daerah disekitar sumbu berkas (-2 cm sampai 2 cm), sedangkan untuk daerah lain ( daerah penumbra dan sekitarnya) di dalam medan kecenderungan ini tidak berlaku. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh adanya pengabaian terhadap efek hamburan phantom.
Penyinaran tabung detektor dilakukan dengan dua variasi, yaitu 1) luas lapangan dan 2) SSD. Pengambilan luas lapangan dan SSD disesuaikan dengan tabel penyinaran yang tersedia. Pengukuran keluaran radiasi dilakukan 3 kali ulangan. Pada awal dan akhir pengukuran dilakukan pencatatan temperatur, tekanan dan kelembaban udara. Data ini digunakan untuk menetapkan nilai faktor koreksi K pt dan fh pada hasil pembacaan ukur.

AKSELERATOR LINEAR (LINAC)
a.) Defenisi Akselerator
Pesawat sinar-X pada umumnya memproduksi sinar-X energi berorde kilo elektron Volt (keV). Untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, biasanya digunakan alat pemercepat partikel atau akselerator. Akselerator adalah alat yang dipakai untuk mempercepat gerak partikel bermuatan seperti elektron, proton, inti-inti ringan, dan inti atom lainnya. Mempercepat gerak pertikel bertujuan agar pertikel tersebut bergerak dengan cepat sehingga memiliki energi kinetik yang sangat tinggi. Untuk mempercepat gerak partikel ini diperlukan medan listrik ataupun medan magnet. Akselereator gerak pertama kali dikembangkan oleh dua orang fisikawan Inggris, J.D. Cockroft dan E.T.S Walton, di Laboratorium Cavendish, Universitas Cambrige pada 1929, atas jasanya mereka dianugrahi hadiah Nobel bidang fisika pada 1951. Akselerator partikel biasanya dipakai untuk penelitian fisika energi tinggi dengan cara menabrakkan partikel berkecepatan sangat tinggi ke target tertentu. Namun, ada beberapa jenis akselerator partikel yang dirancang untuk memproduksi radiasi berenergi tinggi untuk keperluan radioterapi.
Akselerator digunakan untuik menghasilkan sinar X dengan energi yang tinggi dengan menggunakan tabung Betatron dan Sinkrotron.
b.) Tabung Betatron
Betatron pertama kali diperkenalkan pada 1941 oleh Donald William Kerts dari Universitas Illinois, Amerika Serikat. Penamaan Betatron mengacu pada jenis sinar radioaktif yaitu sinar-ß, yang merupakan aliran elektron yang berkecepatan tinggi. Betatron terdiri atas tabung kaca hampa udara berbentuk cincin raksasa yang diletakan diantara dua kutub magnet yang sangat kuat. Elektron akselerator pada prinsipnya adalah suatu tabung sinar-X berukuran sangat besar. Penyuntik berupa filamen panas yang berperan sebagai pemancar elektron dipasang untuk menginjeksi aliran elektron ke dalam tabung pada sudut tertentu. Setelah elektron disuntikan ke dalam tabung, ada dua gaya yang akan bekerja pada elektron tersebut.
Gaya yang pertama membuat elektron bergerak mengikuti lengkungan tabung. Di dalam medan magnet, partikel akan bergerak melingkar. Gaya yang kedua berperan mempercepat gerak elektron hingga kecepatannya semakin tinggi. Melalui gaya ke dua ini, elektron memperoleh energi kinetik yang sangat besar. Dalam waktu sangat singkat, elektron akan bergerak melingkar di dalam tabung beberapa ribu kali. Apabila energi kinetik elektron telah mencapai nilai tertentu, elektron dibelokan dari jalur lengkungannya sehingga dapat menabrak target secara langsung yang berada di tepi ruangan. Dari proses tabrakan ini pancaran sinar X berenergi sangat tinggi karena sebagian besar akselerator dapat mempercepat elektron hingga energinya mencapai 20 Mega elektron Volt (MeV). Betatron memiliki kelemahan karena mesin itu memerlukan magnet berukuran sangat besar guna mendapatkan perubahan fluks yang diperlukan untuk mempercepat elektron.
c.) Sinkrotron Elektron
Untuk mengatasi kelemahan ini, diperkenalkan jenis akselerator elektron lainnya yang menggunakan magnet yang berbentuk cincin yang diberi nama sinkrontron elektron. Alat ini berfungsi sebagai pemercepat elektron yang mampu menghasilkan elektron dengan energi kinetik lebih besar di bandingkan Betatron. Elektron dengan energi anatara 50-100 kV dipancarkan dari filamen untuk selanjutnya dipercepat di dalam alat. Pada saat akhir proses percepatan, elektron ditabrakan menuju sasaran sehingga dihasilkan sinar-X dengan energi dan intensitas tinggi.
d.) Defenisi Linear acceleration (LINAC)
Akselerator linear (linear accelerator, LINAC) adalah alat terapi radiasi yang eksternal yang paling umum digunakan untuk pasien yang terkena kanker. Linear accelerator digunakan untuk mengobati semua lokasi badan yang terkena kanker, menyampaikan high-energy sinar-x yang sama dosisnya kepada daerah tumor pasien. Alat ini digunakan tidak hanya dalam terapi radiasi eksternal, tetapi juga untuk Radiosurgery Stereotactic dan Badan Stereotactic Radioterapi yang serupa menggunakan gamma. Sinar-Rontgen ini dapat menghancurkan sel kanker selagi melingkupi jaringan normal.
Aplikasi LINAC Akselerator linier (Linear Accelerator, LINAC) pertama kali diperkenalkan oleh R. Wideroe di Swiss pada 1929, namun unjuk kerjanya saat itu kurang memuaskan. LINAC mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan akselerator magnetik. Ukuran alat dan biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan LINAC kira-kira proporsional dengan energi akhir partikel yang dipercepat. Sedang pada akselerator magnetik, tenaga yang diperlukan akan lebih tinggi untuk menghasilkan energi akhir partikel yang sama besarnya. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan partikel berenergi sangat tinggi, LINAC akan lebih ekonomis dibandingkan akselerator magnetik. Di samping itu, penyuntikan partikel yang akan dipercepat dalam akseleratormagnetik sangat sulit dilakukan, sedang pada LINAC partikel dalam bentuk berkas terkolimasi secara otomatis terpencar kedalam tabung akselerator. LINAC dapat dipakai untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV. Betatron praktis tidak mungkin mencapai energi setinggi ini karena memerlukan magnet berukuran sangat besar.
e.) Prinsip kerja dari linear accelerator (LINAC)
LINAC semula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan positif seperti proton. Namun, setelah berbagai modifikasi, mesin dapat pula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan negatif seperti elektron. Dalam hal ini, elektron yang dipercepat mampu bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (elektron dengan energi 2 MeV bergerak dengan kecepatan 0,98 c, dengan c adalah kecepatan cahaya). Jika elektron berenergi tinggi itu ditabrakan pada target dari logam berat maka dari pesawat LINAC akan dipancarkan sinar-X berenergi tinggi.
Radioterapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan elektron berenergi tinggi. Elektron yang dipercepat dalam LINAC dapat langsung di manfaatkan untuk radioterapi tanpa harus ditabrakan terlebih dahulu dengan logam berat. Jadi, LINAC dapat juga berperan sebagai sumber radiasi partikel berupa elektron cepat yang dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor. Akselerator Linear dalam aplikasinya menggunakan teknologi gelombang mikro yang juga digunakan untuk radar. Gelombang mikro ini dimanfaatkan untuk mempercepat elektron dalam akselerator yang disebut “wave guide”.
LINAC menggunakan teknologi microwave (teknologi yang sama seperti yang digunakan dalam radar) untuk mempercepat electron digunakan suatu alat yang disebut sebagai “wave guide”, hal tersebutlah yang kemudian mengizinkan elektron bertumbukan dengan heavy metal target. Hasil dari tumbukan antara elektron dan metal adalah high-energy x-rays yang dihasilkan oleh metal target. High energy x-rays tersebut kemudian akan diatur untuk kemudian diberikan pada pasien tumor dan diatur keluarannya dari mesin yang disesuaikan dengan keadaan dari pasien. Sinar yang keluar dari bagian accelerator disebut sebagai gantry yang berotasi di sekeliling pasien.
Pesawat Linac menghasilkan berkas radiasi elektron yang dipercepat atau foton sinar¬X bertenaga tinggi. Sebelum melakukan pengukuran output perlu diketahui berkas mana akan diukur, karena cara pengukuran kedua berkas tersebut tidak sama, dalam metode maupun peralatan yang digunakan untuk pengukuran. Sebelum dilakukan pengukuran, perlu dilakukan pengecekan energi berkas, apakah sama dengan energi berkas pada panel kontrol. Jika terdapat perbedaan maka perlu dilakukan penyesuaian energi dengan memutar tombol pengatur.
Pengecekan energi foton yang dihasilkan pesawat Linac, perlu dilakukan pengukuran dosis pada kedalaman 10 dan 20 cm dalam fantom air. Dari hasil pengukuran ini ditetapkan nilai perbandingan D10/D20 -nya, lalu dicari energi fotonnya melalu kurva D10/D20 vs energi foton.
Pasien ditempatkan pada kursi pengobatan yang dapat bergerak kesegala arah, agar dapat dipastikan pemberian radiasi dalam posisi yang tepat. Radiasi dikirim melalui kursi pengobatan. Akselerator Linear yang merupakan akselerator dengan partikel lurus mangandung unsure-unsur :
1.) Sumber partikel.
Tergantung pada partikel yang sedang bergerak. Proton yang dihasilkan dalam sumber ion memiliki desain yang berbeda. Jika partikel lebih berat harus dipercepat, misalnya ion uranium.
2.) Sebuah sumber tegangan tinggi untuk injeksi awal partikel.
3.) Sebuah ruang hampa pipa vakum.
Jika perangkat digunakan untuk produksi sinar-X untuk pemeriksaan atau terapi pipa mungkin hanya 0,5 sampai 1,5 meter, sedangkan perangkat yang akan diinjeksi bagi sebuah sinkrotron mungkin sekitar sepuluh meter panjangnya, serta jika perangkat digunakan sebagai akselerator utama untuk investigasi partikel nuklir, mungkin beberapa ribu meter.
4.) Dalam ruang, elektrik elektroda silinder terisolasi ditempatkan, yang panjangnya bervariasi dengan jarak sepanjang pipa.
Panjang elektroda ditentukan oleh frekuensi dan kekuatan sumber daya penggerak serta sifat partikel yang akan dipercepat, dengan segmen yang lebih pendek di dekat sumber dan segmen lagi dekat target.
5.) Satu atau lebih sumber energi frekuensi radio,
Sebuah akselerator daya yang sangat tinggi akan menggunakan satu sumber untuk elektroda masing-masing. Sumber harus beroperasi pada level daya yang tepat, frekuensi dan fase yang sesuai dengan jenis partikel dipercepat untuk mendapatkan daya perangkat maksimum.
6.) Sebuah sasaran yang tepat.
Pada kecepatan mendekati kecepatan cahaya, peningkatan kecepatan tambahan akan menjadi kecil, dengan energi yang muncul sebagai peningkatan massa partikel. Dalam bagian-bagian dari akselerator hal ini terjadi, panjang elektroda tabung akan hampir berjalan konstan.
7.) Tambahan elemen lensa magnetis atau elektrostatik
Untuk memastikan bahwa sinar tetap di tengah pipa dan elektroda nya.
8) Akselerator yang sangat panjang
Akan menjaga keselarasan tepat komponen mereka melalui penggunaan sistem servo dipandu oleh sinar laser.

Dalam fisika terapi atau dalam radioterapi linear accelerator (LINAC) yang biasa digunakan antara lain adalah Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), Image Guided Radiation Therapy (IGRT), Stereotactic Radiosurgery (SRS) and Stereotactic Body Radio Therapy (SBRT).
KESIMPULAN
1. Radioterapi adalah tindakan medis yang dilakukan pada pasien dengan menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin dengan kerusakan pada sel normal sekecil mungkin.
2. Jenis radioterapi ada dua yaitu radiasi eksterna dan brakhiterapi.
3. Pesawat radioterapi sinar X, menurut energi yang dihasilkan adalah Sinar X dengan energi rendah (10 – 125 KV) ini disebut kontak terapi dan Sinar X energi menengah (125 – 300 KV) dan dinamakan sinar X orthovoltage.
4. Pesawat Co-60 menggunakan sumber radiasi bahan radioaktif Cobalt 60 yang menghasilkan sinar gamma.
5. Linear accelerator (LINAC) digunakan untuk mengobati semua lokasi badan yang terkena kanker dengan menggunakan sinar gamma.
6. LINAC juga digunakan untuk Radiosurgery Stereotactic dan Badan Stereotactic Radioterapi.
SARAN
Dengan makalah ini penulis berharap agar pembaca menjadikan makalah ini sebagai pemicu untuk mencari tahu lebih banyak tentang fisika terapi khususnya radioterapi yang menggunakan alat/ pesawat sinar-x, pesawat Co-60, dan Linier Akselerator. Mengikuti setiap perkembangan yang dilakukan pada alat-alat radioterapi ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:zOeNYWa0PgIJ:digilib.unsri.ac.id/download/Dasar- Dasar%2520Radioterapi.pdf+prinsip+kerja+pesawat+cobalt+60&hl=id&gl=id&sig=AHIEtbS23PYBcmkQw1zsyg6w_idC_NHDYQ 19 Maret 2011 11.09
- Akselerator Partikel untuk Radioterapi diunduh dari: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/04Radioterapi021.pdf/04Radioterapi021.html 10 Maret 2011 17.10

http://jannahmedicalphysics.blogspot.com/2011/05/radioterapi-1.html 15 januari 22:33

Sunday, 10 March 2013

RADIOTERAPI

 RADIOTERAPI
PENDAHULUAN
Radiasi berperanan penting dalam penatalaksanaan keganasan kepala dan
leher dan dapat digunakan sebagai cara pengobatan tunggal untuk tumor-tumor
tertentu. Ahli radioterapi, menggunakan sinar-x dan sinar-gamma, harus
mengetahui kuantitas dan kualitas radiasi pada sinar khusus yang digunakan.
Kuantitas, atau dosis penyinaran menunjukkan jumlah yang diberikan, dan
kualitas, atau kemampuan penetrasi, menentukan persentase radiasi yang akan
mencapai lesi pada kedalaman yang diberikan dibawah permukaan tubuh. Dengan
kata lain, energi yang diabsorpsi menyebabkan ionisasi yang secara primer
bertanggung jawab untuk efek terapeutik dari penetrasi penyinaran.1
Secara umum tujuan radiasi terbagi dua yaitu : radioterapi definitif, yaitu
bentuk pengobatan yang bertujuan untuk kemungkinan bertahan hidup setelah
pengobatan yang adekuat dan radioterapi paliatif, yaitu bentuk pengobatan dimana
tidak ada lagi harapan untuk hidup pasien untuk jangka panjang. 2
Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut : mengobati, mengontrol
mengurangi gejala, membantu pengobatan lainnya terutama post operasi dan
kemoterapi. 3
TERAPI RADIASI
DEFINISI
Radioterapi adalah cara pengobatan yang menggunakan sinar pengion
untuk pengobatan kelainan keganasan. Meskipun demikian, ada beberapa bentuk
penyakit yang bukan keganasan yang kadang diterapi dengan radioterapi ini,
contohnya pengobatan keloid, Grave’s disease, demikian pula kadang-kadang
digunakan bukan sinar pengion, contohnya adalah gelombang panas
(hyperthermia) yang digunakan secara bersama-sama untuk mendapatkan respon
radikal yang lebih baik untuk tumor-tumor tertentu. 3,4
Radiasi pada jaringan dapat menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari
cairan tubuh baik intra maupun ekstra seluler, sehingga timbul ion H+ dan OH–
yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam
kromosom, sehingga dapat terjadi : 5
1. Reaksi ganda DNA pecah
2. Perubahan cross-linkage dalam rantai DNA
3. Perubahan basa yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel
Dosis lethal dan kemampuan reparasi kerusakan pada sel-sel kanker lebih
rendah daripada sel-sel normal, sehingga akibat radiasi sel-sel kanker lebih
banyak yang mati dan yang tetap rusak dibandingkan dengan sel-sel normal.5
Sel-sel yang masih bertahan hidup akan mereparasi kerusakan DNA-nya
sendiri-sendiri. Kemampuan reparasi DNA sel normal lebih baik dan lebih cepat
dibandingkan sel kanker. Keadaaan ini dipakai sebagai dasar untuk radioterapi
pada kanker.5
Dalam mengukur radiasi yang diabsorpsi, cara yang ideal akan
memperhitungkan jumlah satuan erg energi yang diabsorpsi dalam jaringan yang
disinari dengan radiasi ionisasi. Cara ini membutuhkan alat-alat yang canggih.
Usaha awal untuk menghitung jumlah radiasi yang diabsorpsi melibatkan paparan
film fotografik untuk menentukan derajat kegelapan yang dihasilkan oleh paparan
radiasi atau observasi perubahan-perubahan yang akut pada kulit yang mengalami
radiasi setelah diberikan dosis radiasi yang ditentukan. Hal ini disebut dosis
eritema. 1
Pada tahun 1908, diduga bahwa radiasi dihitung dengan mengukur ionisasi
yang dihasilkan dalam udara atau beberapa gas lain dengan paparan radiasi
standar, dan oleh karena itu diciptakan unit roentgen. Definisi modern roentgen
sangat tepat, tapi secara esensial didefinisikan sebagai jumlah ionisasi tertentu
yang terjadi dalam jumlah udara yang spesifik dibawah keadaan standar.
Bagaimanapun, pengukuran ini tidak menunjukkan dosis yang diabsorpsi
penderita yang terpapar sinar radiasi khusus. Oleh karena itu, dosis yang
diabsorpsi juga harus didefinisikan. Jumlah energi yang diabsorpsi dalam jaringan
yang terpapar satu roentgen tergantung pada jenis radiasi dan bahan penyinaran.
Oleh karena itu, pada tahun 1953, Kongres Radiologi Internasional ketujuh
mengambil rad (dosis radiasi yang diabsorpsi) sebagai unit dosis yang diabsorpsi.
Rad tidak tergantung pada jenis radiasi dan menunjukkan dosis yang diabsorpsi
100 erg per gram dari berbagai bahan penyinaran. Jumlah radiasi yang diberikan
pada penderita biasanya ditunjukkan secara klinik dalam rad jaringan. 1
Unit tambahan adalah rem (roentgen-equivalent-man). Unit ini berusaha
menghitung efek biologik yang berbeda dari berbagai bentuk radiasi. Sebagai
contoh, sinar neutron yang cepat menghasilkan efek biologik yang lebih berarti
daripada sinar cobalt untuk diberikan deposisi energi yang sama. Rem
memberikan perbandingan bentuk-bentuk radiasi yang berbeda untuk
menghasilkan efek radiobiologik yang diberikan. 1
Sekarang ini unit Sistem Internasional (SI) dari dosis yang diabsorpsi telah
diubah menjadi gray (Gy), yang didefinisikan sebagai satu joule per kilogram.
Subunit, sentrigray (cGy) seringkali digunakan. Hubungan antara unit-unit
tersebut diatas adalah
1 Gy (gray) = 100 rad
1 rad = 10-2 Gy = 1 sentigray (cGy) 1
TUJUAN
Secara umum tujuan radiasi terbagi dua : 2
1. Radioterapi definitif, yaitu bentuk pengobatan yang bertujuan untuk
kemungkinan bertahan hidup setelah pengobatan yang adekuat, bahkan juga
bila kemungkinan bertahan hidup itu rendah, contoh pada tumor-tumor dengan
T4 pada tumor kepala dan leher.
2. Radioterapi paliatif, yaitu bentuk pengobatan dimana tidak ada lagi harapan
untuk hidup pasien untuk jangka panjang. Keluhan dan gejala yang dirasakan
oleh pasien yang harus dihilangkan merupakan bentuk pengobatan yang
diberikan. Tujuan pengobatan paliatif dengan demikian untuk menjaga
kualitas hidup pasien di sisa hidupnya dengan menghilangkan keluhan dan
gejala, sehingga pasien hidup dengan lebih nyaman.
Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut : 5
1. Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi, baik
dengan atau tanpa dikombinasi dengan pengobatan lain seperti pembedahan
atau kemoterapi.
2. Mengontrol : jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan, radioterapi
berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel
kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar.
3. Mengurangi gejala : selain untuk mengontrol kanker, radioterapi juga dapat
mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri
dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.
4. Membantu pengobatan lainnya : terutama post operasi dan kemoterapi yang
sering disebut sebagai “adjuvant theraphy” atau terapi tambahan dengan
tujuan agar terapi bedah dan kemoterapi yang diberikan lebih efektif.
Ahli radioterapi menggunakan beberapa teknik untuk memberikan radiasi
ionisasi. Lesi-lesi superficial seperti karsinoma kulit sangat baik diobati dengan
sinar-x voltase rendah. Lesi yang lebih dalam, seperti pada lidah atau kelenjar
getah bening, membutuhkan penetrasi yang lebih besar, seperti yang diberikan
oleh sinar cobalt atau electron. Teknik penyinaran interstisial (implantasi
langsung) menggunakan bahan radioaktif seperti radium, emas atau iridium
memberikan cara pengobatan tambahan. Implantasi langsung bahan radioaktif
terjadi dalam penyinaran lokal yang tinggi dengan sedikitnya efek dirugikan pada
diluar daerah yang dimaksud. 1
Aplikasi teknik khusus terhadap penderita yang memperolehnya
tergantung pada beberapa faktor. Perlu diketahui daerah dan perluasan tumor
primer tapi juga daerah metastasis yang pasti atau diduga. Gambaran yang teliti,
yang menunjukan perluasan tumor, dibuat dalam kartu dan catatan tumor
penderita. Tumor sebaiknya digolongkan stadiumnya menurut sistem klasifikasi
TNM untuk petunjuk selanjutnya. Usia dan keadaan umum fisik penderita
merupakan factor penting. Sebaiknya sejak awal diputuskan, sebelum pengobatan,
apakah penderita akan mendapat penyinaran seluruhnya atau hanya sebelum atau
pasca operasi. Hal ini penting diketahui jika penderita sebelumnya telah
memperoleh terapi radiasi, termasuk dosis dan daerah yang spesifik. 1
Cara kerja radioterapi berupa radiasi ionisasi secara langsung maupun
tidak langsung melalui aliran darah. Radiasi mempunyai kekuatan untuk
menghancurkan keutuhan sel dengan cara : 6
1. Hasil atau benturan dari radiasi terhadap nukleus.
2. Perubahan kimia yang dipicu oleh ionisasi radiasi
PERENCANAAN ATAU PERSIAPAN RADIOTERAPI
Sebelum diberi terapi radiasi, dibuat penentuan stadium klinik, diagnosis
histopatologik, sekaligus ditentukan tujuan radiasi, kuratif atau paliatif. Penderita
juga dipersiapkan secara mental dan fisik. Pada penderita, bila perlu juga
keluarganya diberikan penerangan mengenai perlunya tindakan ini, tujuan
pengobatan, efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan,. Pemeriksaan
fisik dan laboratorium sebelum radiasi dimulai adalah mutlak. Penderita dengan
keadaan umum yang buruk, gizi kurang, atau demam tidak diperbolehkan untuk
radiasi, kecuali pada keadaan yang mengancam hidup penderita, seperti obstruksi
jalan makanan, perdarahan yang massif dari tumor, radiasi tetap dimulai sambil
memperbaiki keadaan umum penderita. Sebagai tolak ukur, kadar Hb tidak boleh
kurang dari 10 gr %, jumlah leukosit tidak boleh kurang dari 3000 per mm3 dan
trombosit 100.000 per uL. 5
Selain itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi sensitivitas radioterapi
antara lain : 6
1. Ukuran dari massa tumor dimana semakin kecil massa tumor makin besar
sensitivitasnya terhadap radiasi.
2. Jaringan asal tumor dimana jaringan pada system limfatik lebih sensitive dari
pada jaringan yang berasal dari sel skuamosa.
3. Tingkat anaplasia dimana semakin anaplastik suatu tumor maka semakin
sensitive terhadap radiasi
4. Tingkat oksigenasi dimana sel yang oksigenasinya baik lebih sensitif daripada
sel yang hipoksia atau anoxia. Jadi, metode hiperbarik akan meningkatkan
sensitivitas radiasi.
SINAR UNTUK RADIOTERAPI
Sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah : 5
1. Sinar Alfa
Sinar alfa adalah sinar korpuskuler atau pertikel dari inti atom. Inti atom
terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak
banyak dipakai dalam radioterapi.
2. Sinar Beta
Sinar beta adalah sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang
mempunyai energi rendah. Daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm.
Digunakan untuk terapi lesi yang superfisial.
3. Sinar Gamma
Sinar gamma adalah sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat
menembus tubuh. Daya tembusnya tergantung dari besar energi yang
menembus sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya,
makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya.
Radioisotop yang digunakan antara lain : 5
1. Calcium 137 : sinar gamma
2. Cobalt 60 : sinar gamma
3. Radium 226 : sinar alfa, beta, gamma
TEKNIK RADIOTERAPI
Ada 3 cara utama pemberian radioterapi :
1. Radiasi eksterna / teleterapi
Sumber sinar berupa aparat sinar-x atau radioisotop yang ditempatkan
diluar tubuh. Sinar diarahkan ke tumor yang akan diberikan radiasi, besar
energi yang akan diserap oleh tumor tergantung dari : 5
a. Besarnya energi yang dipancarkan oleh sumber energi
b. Jarak antara sumber energi dan tumor
c. Kepadatan massa tumor
Seleksi energi sinar berdasarkan lokasi tumor. Kanker dengan kedalaman
12-15 cm, misalnya kanker prostate atau kanker serviks, biasanya bisa diatasi
dengan sinar-x 15 hingga 25 megaelektron volts (MeV) karena sinar ini lebih
memiliki sifat penetrasi dan penyerapan kulit yang lebih baik daripada energi
sinar rendah. Kanker pada kepala dan leher dapat diatasi dengan sinar-x 4
hingga 6 MeV atau sinar gamma cobalt 60. Tumor pada kepala dan leher
berlokasi tidak lebih dari 7 hingga 8 cm kedalamannya, dan biasanya juga
diperlukan pengobatan pada kelenjar limfe regional yang juga superficial.
Namun, terkadang sinar-x sebesar 15-25 MeV juga digunakan untuk
pengobatan tambahan pada beberapa tumor kepala dan leher, misalnya tumor
pada dasar lidah atau nasofaring. 7
Sinar electron juga berguna untuk mengatasi lesi superfisial. Tidak seperti
sinar-x, elektron memiliki jarak terbatas. Garis besar untuk jarak efektif dari
sinar elektron adalah besar energinya dalam MeV dibagi atas tiga. Untuk
pengobatan kanker, 6 MeV biasa digunakan untuk kanker kulit atau bibir, 6-9
MeV untuk kelenjar limfe servikal hingga ke tulang belakang, 9-12 MeV
untuk kanker pada mukosa mulut, dan 15-18 MeV untuk kanker pada daerah
tonsil dan parotis. 7
Pembedahan stereotatik (Stereotactic Radiosurgery)
Pembedahan stereotaktik adalah suatu bentuk radiasi eksternal yang
menghantarkan sinar dosis tinggi pada satu sesi untuk memperkecil atau
menghancurkan sel tumor dan malformasi vascular tubuh. Dikarenakan suatu
pembedahan dengan dosis tunggal lebih bersifat merusak dibandingkan dosis
radioterapi berfraksi, daerah target haruslah tepat dan sama sekali imobil
dengan menggunakan helm stereotaktik. Tumor apapun, berupa lesi atau
malformasi yang dikerjakan dengan radiasi ini disebut sebagai target. Pasien
dirawat inap pada pusat pengobatan sementara target ditentukan secara
stereotaktik dan radiasi dilakukan. 8
Gambar 1. sebelum pembedahan radiasi, rencana pengobatan adalah untuk
memastikan sinar radiasi mengenai malformasi arterivena (AVM) yang tepat dan
meminimalisir dampak pada jaringan otak normal. Bagian lingkaran warna
menunjukkan level dosis. Setelah beberapa bulan hingga tahun , AVM menutup,
dan secara efektif menghilangkan lesi. 8
- Radioterapi stereotaktik berfraksi (Fractionated Stereotatic Radiotherapy)
Pembedahan radiasi yang dilakukan beberapa kali disebut
Fractionated Stereotatic Radiotherapy (FSR). Penutup muka beserta laser,
sinar-x, dan posisi inframerah memastikan akurasi dari pengobatan
sehingga memungkinkan pengobatan berulang. FSR memberikan presisi
pada pasien dengan lesi yang dekat dengan stuktur kritis (batang otak,
nervus optikusm dan nervus akustikus) yang tidak bisa mentolerir dosis
tinggi. 8
- LINAC dan Gamma Knife
Ada dua macam mesin yang dapat memberikan pembedahan
radiasi- yaitu Linear Accelerator (LINAC) dan mesin gamma (Gamma
Knife). Kedua mesin ini memiliki kesamaan, tapi juga memiliki perbedaan
yang penting. Mesin LINAC menggunakan sinar radiasi tunggal yang
dihantarkan ke target dalam sudut yang berbeda-beda. Sedangkan, mesin
gamma tidak bergerak mengelilingi. Target diletakkan tepat di tengah 201
sinar yang mengelilinginya. Kemampuannya untuk mengobati target yang
luas sangat terbatas dan tidak bisa dilakukan pengobatan berfraksi. 8
Gambar 2. Pasien berbaring pada sementara LINAC berotasi, membidikkan sinar
radiasi ke tumor. Frame stereotaktik yang diletakkan pada kepala pasien
memposisikan target pengobatan secara tepat. 8
Gambar 3. mesin gamma mengandung 201 sinar cobalt-60 yang menargetkan
radiasi gamma pada bagian otak pasien. 9
10
2. Radiasi interna / Brachiterapi
Sumber energi ditaruh di dalam tumor atau berdekatan dengan tumor
didalam rongga tubuh. Ada beberapa jenis radiasi interna :
a. Intertisial
Radioisotop yang berupa jarum ditusukkan ke dalam tumor,
misalnya jarum radium atau jarum irradium
Gambar 4. bagian ujung capsul logam pada bagian kanan
berisi 50 millicurries (MCi) radium 226. Bahan ini dimasukkan
ke bagian nasal selama 5-15 menit dengan tujuan untuk
mengecilkan jaringan limfatik.10
b. Intracavita
Pemberian radiasi dapat dilakukan dengan : 5
- After loading : suatu aplikator kosong dimasukkan kedalam
rongga tubuh ke tempat tumor. Setelah aplikator letaknya
tepat, baru dimasukkan radioisotop kedalam aplikator itu.
- Instalasi : larutan radioisotop disuntikkan kedalam rongga
tubuh, misalnya : pleura atau peritoneum.
Implan brachiterapi bisa sementara atau permanen. Implan
sementara biasanya adalah isotop jangka panjang seperti radium 226,
cesium 137, dan iridium 192. Implan permanen biasanya adalah isotop
jangka pendek, misalnya emas 198, Iodine 125, atau palladium 103,
karena radiasi yang dipancarkan harus hilang pada level tertentu dalam
jangka waktu yang pendek. 7
11
Keuntungan brachiterapi dibandingkan radiasi sinar eksternal ada
dua yaitu, radiasi umumnya dibatasi oleh dosis implant, sehingga dosis
yang lebih besar dapat dihantarkan ke sel tumor dengan dosis yang
lebih rendah mengenai jaringan normal, sehingga kontrol lokal tumor
lebih baik dan komplikasi lebih sedikit. Yang kedua, kebanyakan
brachiterapi dihantarkan secara berkelanjutan pada dosis rendah,
secara teori ini lebih efektif daripada sinar ekternal yang intermiten
dengan dosis tinggi pada keadaan hipoksia atau sel tumor yang
berproliferasi lambat. 7
Implan brachiterapi hanya efektif jika seluruh bagian tumor
terlibat. Tumor haruslah bisa diakses dan batasnya cukup jelas. Tumor
yang besar atau batasnya tidak tegas biasanya tidak dilakukan
brachiterapi karena sulit untuk mencapai bagian tepi dari tumor.
Brachiterapi juga tidak digunakan sebagai pengobatan tunggal bila
dicurigai adanya metastase ke kelenjar limfe regional.7
3. Intravena
Larutan radioisotop disuntikkan kedalam vena. Misalnya I131 yang
disuntikkan IV akan diserap oleh tiroid untuk mengobati kanker tiroid. 5
INDIKASI RADIOTERAPI
Indikasi radioterapi pada penyakit telinga hidung tenggorokan adalah : 6
1. Karsinoma telinga luar dan telinga tengah
2. Karsinoma maxilla sebagai terapi kombinasi
3. Keganasan nasofaringKeganasan pada tonsil, lidah, dan oro-faring
4. Keganasan hypofaring
5. Keganasan laring
6. Keganasan esophagus
RESPON RADIASI
Penilaian respon radiasi berdasarkan kriteria WHO : 5
- Complete response : menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar
- Partial response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50 % atau lebih
- No change : ukuran kelenjar getah bening yang tetap
- Progresive disease : ukuran kelenjar getah bening membesar 25 % atau lebih.
Reaksi terhadap radiasi juga dapat bervariasi pada individu : 6
1. Reaksi konstitusional
Selama beberapa hari terapi radiasi pasien akan mengeluhkan kelemahan
umum, disfagia, nausea, vomiting, hilang selera makan, dll.
2. Reaksi lokal, dapat berupa :
a. reaksi kulit dapat berupa eritema, area deskuamasi, pengelupasan kulit.
Dapat dicegah dengan cara :
- menghindari berbagai bentuk trauma kulit
- menghindari mencuci dengan sabun
- menghindari paparan sinar matahari
- menghindari iritasi dari pakaian
b. reaksi mukosa berupa eritema, ulserasi superficial, glossitis dan stomatitis.
Pasien mengeluhkan disfagia dan nyeri menelan.
c. Tenggorokan kering dikarenakan supresi dari sekresi normal kelenjar pada
rongga mulut dan faring.
PENCEGAHAN ATAU PROTEKSI RADIASI
Tujuan proteksi radiasi adalah : 11
a. Pada pasien : dosis radiasi harus diberikan sekecil mungkin sesuai keharusan
klinis
b. Pada personil : dosis radiasi yang diterima harus ditekan serendah mungkin
dan dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh melebihi dosis maksimum
yang diperkenankan.
Nilai batas yang diizinkan untuk perorangan adalah dosis yang
terakumulasi selama jangka waktu panjang atau hasil dari penyinaran tunggal,
yang menurut pengetahuan dewasa ini, mengandung kemungkinan kerusakan
somatik atau genetik yang dapat diabaikan, selain itu, besar dosis adalah
sedemikian, yaitu setiap efek yang terjadi terbatas pada akibat yang ringan,
sehingga tidak akan dianggap tidak dapat diterima oleh seseorang yang tersinari
dan oleh instansi yang berwenang dalam bidang medis. 11
Tabel 1. Nilai atas yang diizinkan yang ditentukan oleh Komisi Internasional
tentang proteksi radiasi (ICRP) 1966 11
Organ atau jaringan Pekerja radiasi dewasa Anggota masyarakat
(Rem per tahun) bukan pekerja radiasi (Rem per tahun)
Gonad, sumsum merah tulang 5 (a) 0,5
Kulit, tulang 30 3,0
Kelenjar gondok 30 3,0 (b)
Anggota badan 75 7,5
Organ lainnya 15 1,5
(a). untuk wanita hamil dosis pada janin yang terakumulasi selama masa kehamilan,
sesudah diagnosis, tidak boleh melebihi 1 Rem
(b). 1,5 rem dalam 1 tahun pada kelenjar kelenjar gondok untuk anak-anak sampai usia 16
tahun.
Ada tiga cara pengendalian tingkatan pemaparan radiasi, yaitu : 11
1. Jarak, cara ini efektif karena intensitas radiasi dipengaruhi oleh hukum
kuadrat terbalik.
2. Waktu pemaparan dapat diatur dengan berbagai jalan antara lain : 11
· Membatasi waktu generator dihidupkan
· Pembatasan waktu berkas diarahkan keruang tertentu
· Pembatasan waktu ruang dipakai.
Bila ternyata dengan jarak dan waktu tidak mencukupi, maka dipakai cara
ketiga dibawah ini
3. Perisai, dapat dibuat dari timbal atau beton. Ada 2 jenis perisai, yaitu : 11
- Perisai primer, memberi proteksi terhadap radiasi primer (berkas
sinar guna). Tempat tabung sinar X dan kaca timbal pada tabir
fluoroskopi merupakan perisai primer.
- Perisai sekunder, memberi proteksi terhadap radiasi sekunder (sinar
bocor dan hambur). Tabir sarat timbal pada tabir fluoroskopi,
pakaian proteksi, kursi fluoroskopi dan perisai yang dapat dipindahpindahkan,
merupakan perisai sekunder.
KOMPLIKASI RADIOTERAPI
Komplikasi radioterapi dapat berupa : 4, 5, 12
1. komplikasi dini
biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti :
- xerostomia
- mukositosis
- dermatitis
- eritema
- mual-muntah
- anoreksia
2. komplikasi lanjut
biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, dapat berupa :
- kontraktur
- kerontokan, biasanya terjadi pada pasien dengan radioterapi pada otak.
Namun tidak seperti kerontokan pada kemoterapi, kerontokan karena
radioterapi bersifat permanen dan biasanya terbatas pada daerah yang
diobati dengan radioterapi.
- kerusakan vaskuler
- kerusakan aliran limfe
- kanker, dimana radiasi merupakan sumber potensial kanker, dan
keganasan sekunder dapat ditemukan pada minoritas pasien dan biasanya
timbul beberapa tahun setelah mendapatkan pangobatan radiasi.
- Kematian, radiasi juga memiliki resiko potensial terhadap kematian
karena serangan jantung yang ditemukan pada pasien post radioterapi
kanker payudara.
DAFTAR PUSTAKA
1. George L. Adams, Lawrence R. Boeis, Peter H. Higler. Boeis: buku ajar
penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC , 1997.
2. Supriana, Nana. Terapi Radiasi. departemen radioterapi RSCM.2008
3. Anonim.radioterapi-karsinoma-tiroid.
www.klikharry.wordpress.com/2007/03/08/radioterapi-karsinoma-tiroid/
[diakses pada tanggal 12 Desember 2008]
4. Asroel. Harry A. Penatalaksanaan Radioterapi pada Karsinoma Nasofaring.
Fakultas Kedokteran Bagian THT – Universitas Sumatera Utara. 2002.
5. Kirk . RM, Ribbans. W.J. Clinical surgery in general. Fourth edition.London :
Churchill Livingstone , 2004.
6. Kumar, dr. Shyamal. Fundamentals of Ear, Nose, & Throat Disease and
Head-Neck Surgery. Calcutta : The New Book Stall, 1996.
7. Baylay, Byron J. Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Volume three.
New York: Lippincott Wiliams & Wilkins.2007.
8. Anonim. Gamma Knife. http://en.wikipedia.org/wiki/Gamma_knife [ diakses
pada tanggal 16 Desember 2008]
9. Anonim. Stereotactic Radiosurgery & Radiotherapy of the Head
www.PrecisionRadiotherapy.com.2008 [diakses tanggal 16 Desember 2008]
10. Anonim.Brachytherapy.www.orau.org/ptp/collection/brachytherapy/seeds.5.jp
g [diakses tanggal 16 Desember 2008]
11. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi kedua. Departemen Radiologi
FKUI-RSCM. Jakarta. 2005.
12. Anonim.radiation theraphy.www.wikipedia.com. [diakses tanggal 14
Desember 2008]
©