Penelitian Bidang Radiologi
(Tinjauan Metodologi dan Etik Penelitian) 1
Khairil Anwar, SPd, MKes 2
A. Pendahuluan
Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu cara terpenting untuk mengembangan ilmu
dan teknologi adalah penelitian. Hari ini, kita melihat begitu berkembangnya alat-alat kesehatan
termasuk alat-alat pencitraan. Tetapi hal ini belum diimbangi dengan perkembangan metode,
prosedur atau teknik dalam proses menghasilkan citra diagnostic padahal pelayanan radiologi
merupakan salah satu pelayanan penunjang yang sangat berperan membantu kepastian
diagnosa dan terapi.
Saat ini di Indonesia pelayanan radilogi telah menjangkau masyarakat bahkan sampai
tingkat kecamatan. Selain itu, perkembangan di atas tentunya harus disikapi secara cepat,
terutama oleh sumber daya yang terlibat pada pelayanan radiologi khususnya sumber daya
manusia (radiografer). Radiografer selain dituntut untuk mampu mengikuti berbagai
perkembangan ilmu dan teknologi, juga diharapkan dapat memberikan masukan agar
pemanfaatan nuklir pada bidang kesehatan (radiologi) dapat se efektif dan se efisien mungkin.
Agar masukan-masukan tersebut dapat dipertanggunjawabkan secara ilmiah maka perlu
dilakukan penelitian dengan metodologi yang benar secara terus-menerus.
Selain itu bagi radiographer PNS, penelitian merupakan suatu kegiatan yang wajib
dilakukan untuk memenuhi persyaratan jabatan fungsional. Oleh karenanya, kemampuan
mengadakan penelitian merupakan keniscayaan bagi setiap radiographer.
Penelitian bidang radiologi termasuk salah satu dari penelitian kesehatan sebagaimana di kutip
dari Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan yang meliputi :
1. Farmasetika (obat, vaksin dll)
2. Alat kesehatan (“medical devices”)
3. Radiasi medik & “imaging”
4. Prosedur bedah/invasif
5. Catatan medik
6. Sampel biologik
7. Sosial & psikologik
B. Penelitian yang Berkualitas
Mengutip Magdarina (2006), penelitian yang berkualitas adalah penelitian yang :
1. Memenuhi kaidah-kaidah ilmiah dan etika
2. Dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan tepat guna (azas manfaat)
3. Dihasilkan dari berbagai sumber daya yang berkualitas dan memiliki integritas tinggi
1 Disampaikan pada Seminar Internasional Persatuan Ahli Radiografi Indonesia (PARI), 18 – 20 Mei 2007, Sanur
Beach Hotel, Denpasar, Bali
2 Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Jakarta II
2
Sedangkan menurut Sudirman (2006), penelitian yang baik adalah penelitian yang memenuhi
beberapa kondisi di bawah ini (sudirman, 2006 : 16) :
1. Orisinal, relevan
2. Terkandung hubungan lebih dari 2 peubah (variabel)
3. Layak/feasible
C. Penelitian Bidang Radiologi
Penelitian berasal dari kata dasar teliti yaitu memeriksa satu per satu dengan seksama
dan rinci lalu menyimpulkan hasilnya. Jika penelitian disebut juga riset, maka riset berasal dari
bahasa Inggris yaitu yaitu re – search ( Search Again) yang berarti mencari kembali hal-hal
yang belum diketahui.
Menurut Tyrus dalam Atmodjo (2002), penelitian adalah suatu cara untuk memahami
sesuatu melalui usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan suatu masalah
yang dilakukan secara hati-hati sehingga memperoleh pemecahannya.
Dari beberapa pengertian di atas, penelitian berarti berpikir secara sistimatis mengenai
jenis-jenis persoalan yang untuk pemecahannya diperlukan pengumpulan dan penafsiran faktafakta.
Hasilnya tergantung pada pengalaman dan ketrampilan peneliti dan tersedianya sumber
daya.
Menurut PP39/1995 penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut metoda
yang sistemik untuk menemukan informasi baru atau membuktikan teori/hipotesis. Sedangkan
penelitian dan pengembangan kesehatan harus menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang
dibutuhkan untuk peningkatan derajat kesehatan (UU No.23/1992).
Penelitian di mulai dari penemuan masalah. Masalah adalah perbedaan atau kesenjangan
(gap) antara idealita dan realita, harapan dan kenyataan, teori dengan praktek, teori atau
praktek yang berlawanan. Menurut Sudirman (2006), pedoman umum dalam pemilihan masalah
penelitian adalah sebagai berikut :
1. Relevan dengan masalah kesehatan yang dihadapi
2. Tidak duplikasi dengan penelitian lain dengan kondisi atau Lokasi serupa
3. Layak: (SDM/keahlian, peralatan, dana, dll)
4. Hasil dapat diterapkan
5. Urgen, actual
6. Memenuhi aspek etik penelitian
Penelitian yang baik adalah penelitian yang menghasilkan kesimpulan dari prosedur yang
sistimatis dengan mempergunakan pembuktian yang menyakinkan. Dapat disimpulkan bahwa
penelitian adalah suatu proses kegiatan ilmiah yang sistematis dengan tujuan mencari jawaban
suatu masalah.
C.1.. Metodologi Penelitian
3
Metodologi penelitian adalah suatu upaya mengetahui melalui pencarian atau
penyelidikan atau percobaan yang cermat yang ditujukan pada penemuan atau penafsiran
pengetahuan baru.(WHO, 1999).
Menurut Sutrisno Hadi, metodologi penelitian adalah usaha menemukan,
mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan , usaha mana dilakukan dengan
menggunakan metode-metode ilmiah.
Sedangkan metode ilmiah adalah suatu cara dan teknik yang sistematis yang
diterapkan dalam melakukan penyelidikan atau percobaan yang ditargetkan untuk memperoleh
pengetahuan baru. Sehingga metodologi ilmiah menjadi penting untuk :
1. Menjamin objektifitas penyelidikan atau percobaan.
2. Menjamin penelitian terlaksana sesuai tujuan, sistematis, jelas, teliti dan dapat
dipertanggungjawabkan
3. Menjamin ditemukannya kebenaran ilmiah.
C.2. Ruang Lingkup Penelitian Bidang Radiologi
Ruang lingkup penelitian di bidang radiology cukup bervariasi, tetapi semuanya saling
melengkapi walaupun masing-masing mempunyai karakteristiknya sendiri. Adapun ruang
lingkupnya adalah sebagaimana table di bawah ini.
Table 1. Ruang Lingkup Penelitian Bidang Radiologi
NO RUANG LINGKUP TOPIK
1 Teknik Radiografi 1. Posisi Objek
2. Penyudutan CR
3. Instruksi eksposi
4. Jarak
5. dll
2 Radiofotografi 1. Kaset & IS
2. Film Radiografi
3. Grid
4. Prosessing film
5. dll
3 Teknik Pesawat Radiologi 1. Kerusakan ringan
2. Usia tabung
3. dll
4 Proteksi Radiasi & Fisika Radiodiagnostik 1. Survey radiasi
2. Test kelayakan alat proteksi radiasi
3. dll
5 QA Radiologi 1. Sensitometri
2. Reject analysis
3. Eksistensi SOP
4. Test output pesawat
5. Test Linierisasi mA
6. Test Kolimasi
7. dll
6 Manajemen Radiologi 1. Alur Pasien radiology
2. Kepuasan pasien
3. Perencanaan Gedung Radiologi
4. dll.
C.3. Disain Penelitian
4
Sebelum memulai penelitian, peneliti harus membuat disain atau rancangan penelitian.
Disain penelitian diperlukan untuk menilai kelayakan (fisibilitas) sebuah penelitian. Biasanya
disain merupakan salah satu unsure yang harus tercantum pada proposal penelitian. Proposal
penelitian yang akan memandu peneliti melakukan kegiatannya dari awal hingga akhir
(penulisan laporan penelitian). Menurut Notoatmodjo (2002), ada beberapa disain penelitian
dalam bidang kesehatan yaitu deskriptif, survey analitik dan eksperimen. Berdasarkan disain di
atas penulis mencoba mengklasifikasikan beberapa metode, jenis penelitian, metode
pengumpulan data dan instrumen penelitan sebagaimana table 2 di bawah ini.
Table 2. Metode, Jenis Penelitian, Metode Pengumpulan Data,
Dan Instrumen penelitian
NO METODE JENIS METODE
PENGUMPULAN DATA INSTRUMEN
Survey Observasi
Wawancara
Angket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
Studi Kasus Observasi
Wawancara
Angket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
Check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
Studi
Perbandingan
Observasi
Wawancara
Angket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
Check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
Studi
Korelasi
Observasi
Wawancara
Angket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
Check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
Studi
Prediksi
Observasi
Wawancara
Anket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
1 Deskriptif
Penelitian
Evaluasi
Observasi
Wawancara
Angket
Diskusi kelompok terarah
(Focus Group
Discussion - FGD)
Kuesioner, Lembar kerja,
check list, Pedoman
wawancara
Pedoman FGD
Cross
sectional
Observasi
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
check list
Case Control Observasi
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
2 Survei check list
Analitik
Kohort Observasi
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
check list
5
Pre
Experiment
Observasi Eksperimen
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
check list
True
Experiment
Observasi Eksperimen
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
3 Eksperimen check list
Quasi
Experiment
Observasi Eksperimen
Angket
Kuesioner, Lembar kerja,
check list
D. Etik Penelitian Kesehatan
D.1. Peraturan
Masalah etik penelitian kesehatan telah lama menjadi perhatian global. Etik penelitian
tidak hanya diterapkan pada manusia sebagai subjek penelitian, tetapi juga pada hewan
percobaan. Sampai saat ini telah banyak dihasilkan berbagai peraturan internasional antara
lain seperti tercantum pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Berbagai Aturan Internasional Tentang Etik Penelitian Kesehatan
NO TAHUN JENIS PERATURAN KETERANGAN
1 1946 Nuremberg Code
2 1948 Declaration of Human Rights
3 1964 Declaration of Helsinki (amendment 2000, Edinburgh)
4 1966 Beecher Report
5 1979 Belmont Report (USA)
6 1982 International Guidelines, Council for International
organization of Medical Sciences (CIOMS)
7 1991 International Guidelines for Ethical Review of
epidemiological Studies, CIOMS
8 1993 International Ethical Guidelines for Biomedical
Research Involving Human Subjects CIOMS
Revisi terakhir Th.
2002
9 1996 ICH Good Clinical practice Guidelines
10 2000 Operational Guidelines for Ethics Committees that
review biomedical research (WHO-TRD)
Pembentukan
FERCAP di
Bangkok
11 2002 Surveying and Evaluating Ethical Review Practices
(WHO-TRD)
Dasar etik penelitian kesehatan adalah setiap hasil penelitian yang diimplementasikan
kepada manusia harus memenuhi persyaratan etis. Hal ini untuk memastikan tidak terjadinya
penyimpangan dan pelanggaran terhadap hak subjek penelitian sebagaimana di atur dalam UU
no 23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang mencantumkan hukuman kurungan 7 tahun atau
denda sebesar Rp. 140.000.000,- dan PP no 39 tahun 1995 tentang Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan yang berisi antara lain tentang standar profesi penelitian, ijin dari
yang berwenang dan Informed Consent
(Persetujuan Setelah Penjelasan/PSP).
D.2. Prinsip Dasar Etik Penelitian dan Pelaksanaannya
Implementasi etik penelitian terhadap manusia atau manfaat hasil penelitian yang
diimplementasikan berdasarkan pada beberapa prinsip dasar seperti terlihat pada tabel 4 di
bawah ini.
6
Tabel 4. Pelaksanaan Prinsip Etik Penelitian Terhadap Manusia
NO PRINSIP ETIK PENELITIAN PELAKSANAAN
1. Respect for persons (Menghormati
harkat dan martabat manusia) :
• Bebas memilih
• Perlindungan terhadap subyek
yang otonominya
terganggu atau kurang
• Kerahasiaan data/informasi dari
subyek
Informed Consent (Persetujuan Setelah
Penjelasan)
• Sukarela
• Bebas memutuskan
• Rahasia
2. Beneficence (Manfaat)
Manfaat semakin besar; Risiko
semakin kecil (primum non nocere)
• Rancangan penelitian harus
memenuhi syarat ilmiah
• Kemampuan peneliti (pelaksaan
penelitian dan
• menjaga kesejahteraan subjek)
• Do no harm nonmaleficence (tidak
merugikan)
Memenuhi Persyaratan Ilmiah Bermanfaat
• Peneliti mampu melaksanakan
MANFAAT lebih besar dari RISIKO
(wajar)
3. Justice (Keadilan)
Perlakuan yang sama pada setiap
orang dg moral
yang benar dan layak dalam
memperoleh haknya
Tidak Ada Beda Perlakuan
• Perhatian khusus pada janin, anak anak,
mahasiswa, wanita hamil/menyusui,
narapidana, negara berkembang
D.3. Informed Consent (Persetujuan Setelah Penjelasan)
Salah satu tanggung jawab peneliti yang harus dijalankan sebelum penenlitian di mulai
adalah mendapatkan informed consent (persetujuan setelah penjelasan – PSP) dari subjek
penelitian. sebagaimana di atur dalam PP 39/1995 dan SK Menkes 1333 th 2002.
Informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh seorang individu yang
kompeten, yang telah mendapat penjelasan yang diperlukan, dan telah cukup memahami
informasi tsb., dan yang setelah mempertimbangkan informasi tsb. sampai pada suatu
keputusan tanpa ada paksaan, pengaruh yang berlebihan, atau bujukan, atau intimidasi
(CIOMS).
Menurut Sudirman (2006) Informed consent adalah pilihan sukarela seseorang untuk
berpartisipasi dalam penelitian berdasarkan pengertian yang akurat dan lengkap mengenai
maksud, prosedur, resiko, keuntungan, alternatif, dan faktor lain yang dapat mempengaruhi
keputusan seseorang untuk berpartisipasi
7
Dari pengertian informed consent (persetujuan setelah penjelasan – PSP) di atas,
peneliti harus memberikan keterangan lengkap tentang penelitian yang melibatkan subjek
penelitian sehingga secara sukarela subjek penelitian berpartipasi.
D.4. Prinsip Etik Penelitian Terhadap Hewan Percobaan
Seringkali penelitian yang hasilnya diimplementasikan kepada manusia dilakukan
terhadap hewan percobaan. Penelitian semacam ini juga harus memenuhi etik penelitian.
Perlaksanaan prinsip
etik penelitian terhadap hewan sebagaimana table 5 di bawah ini.
Tabel 5. Pelaksanaan Prinsip Etik Penelitian Terhadap Hewan Percobaan
NO PRINSIP ETIK PENELITIAN PELAKSANAAN
1. Replacement : mengganti hewan
percobaan dengan alternatif lain
1. Replacement relatif: masih gunakan hewan
percobaan sbg donor organ (dari rmh
potong)
2. Replacement absolut: tanpa hewan
percobaan sama sekali gunakan galur sel,
in vitro (kultur sel, jaringan dan organ),
hewan invertebrata
2. Reduction: model alternatif agar
dapat mengurangi jumlah hewan
percobaan yang digunakan teknik
biokimia.
Penggunaan metode statistic dan program
computer
3. Refinement: usahakan hewa
percobaan “menderita” sekecil
mungkin dari rasa nyeri maupun
stres
Menggunakan analgesi, anastesi atau hewan
percobaan relatif kurang rasa
Manfaat penelitian bidang radiologi diimplementasikan terhadap manusia dan hewan.
Oleh karena itu, penelitian ini harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan etika
penelitian. Apalagi alat dan bahan yang digunakan dapat mengakibatkan efek yang serius bagi
jaringan. Penting bagi radiografer untuk meningkatkan kemampuannya dalam penelitian yang
berkualitas, sehingga berkontribusi besar bagi perkembangan ilmu dan teknologi imejing serta
pembangunan kesehatan di Indonesia.
Referensi
Agtini, Magdarina D, Integritas Peneliti, disampaikan pada Pelatihan Etik Penelitian Kesehatan,
Badan Litbangkes, Jakarta 14-16 Desember 2006
BPPK, Depatemen Kesehatan RI, Pedoman Operasional Komisi Etik Penelitian Kesehatan di
Indonesia, Jakarta, 2002
8
______, Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan, Jakarta, 2004
______, Pedoman Operasional Komisi Etik Penelitian Kesehatan BPPK, Jakarta, 2005
Balibangkes Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan, Jakarta,
2004
BPOM, Pedoman Cara Uji Klinik Yang Baik. Jakarta, 2001
KNEPK, Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Etik Penggunaan dan Pemeliharaan
Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan, Jakarta, 2005
Notoatmodjo, Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2002
P.P. No.39 Th 1995 tentang Litbangkes
Sudiman, Herman, Penelitian Kesehatan, Puslitbang Gizi dan Makanan, Disampaikan pada
Pelatihan Metoda Penelitian Poltekkes Jakarta II, Bapelkes Sukajadi, Bandung, 13 Juli,
2006
Supranto, J, 1991, Metode Riset, Aplikasi dalam Pemasaran, Edisi Lima, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
U.U.No.23 Th 1992 tentang Kesehatan
Wiradi G. Etika Penulisan Karya Ilmiah: Beberapa Prinsip Dasar. Bandung: Yayasan Akatiga,
1996.
Showing posts with label KUMPULAN MAKALAH RADIOGRAFER. Show all posts
Showing posts with label KUMPULAN MAKALAH RADIOGRAFER. Show all posts
Friday, 27 January 2012
PERBANDINGAN INFORMASI CITRA PEMBOBOTAN T1 POST KONTRAS
DENGAN SEKUENS SPIN ECHO DAN FAST SPIN ECHO PADA
PEMERIKSAAN TUMOR OTAK DENGAN MAGNETIC RESONANCE
IMAGING (MRI)*
Emi Murniati1, Sugiyanto2, Darmini2
Abstract
MRI of brain tumors is always performed with contrast administration. Contrast
media (GdDTPA) is injected via vein vessel in order to enhance the tumor, not only its size
and location but also degree of staging. Image is obtained after contrast administration by
using T1 weighting technique (spin echo and fast spin echo sequence). The purpose of this
research is to find out resulted image differences between two techniques. Hopefully, it
will be useful for radiographers to produce high quality post contrast images.
Suspect of this research were 4 patients having MRI brain tumor examination then
were set with 2 sequences (spin echo and fast spin echo). Result were analized by using
questionaire observed by 8 radiologists. Data then was analized with Wilcoxon test and
description of images were given.
There was statistically differences between spin echo and fast spin echo post
contrast T1 weighting image. Result showed that there were differences in post contrast T1
weighting image quality between spin echo and fast spin echo sequence. Statistically, with
Wilcoxon test the differences were significant with p value 0,011 ( p < 0,05).
Keywords : Spin echo, fast spin echo, T1 weighting post contrast image, brain tumor.
PENGANTAR
MRI digunakan untuk pemeriksaan klinis mulai tahun 1982 dan digunakan pada
pemeriksaan system syaraf (Worthington, 2001). Pada saat ini MRI terus berkembang dan
banyak berperan dalam berbagai pemeriksaan baik untuk kasus keganasan atau tumor,
maupun kasus-kasus yang lain. Pada pemeriksaan dengan kasus tumor telah dilakukan
beberapa studi tentang perlu tidaknya penggunaan media kontras atau cukup dengan
menggunakan pembobotan T2 saja (RMIT University, 1999). Dari beberapa penelitian
tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media kontras akan memberikan penyangatan
(enhancement) yang tidak dapat ditunjukkan dengan pembobotan T2.
Media kontras MRI berbeda dengan media kontras untuk radiografi dilihat dari
bahan dan cara kerjanya. Bahan kontras MRI terbuat dari suatu bahan paramagnetik dan
yang biasa dipergunakan adalah Gadolinium (Gd), yang disenyawakan dengan Diethylene
Triaminepentaacetik Acid (DTPA) sebagai chelate-nya sehingga menjadi senyawa
GdDTPA agar tidak berbahaya dan mudah diekskresikan dari tubuh.
*Makalah pada Seminar Persatuan Ahli Radiografi Indonesia, 18 – 20 Mei 2007, Denpasar, Bali.
1Mahasiswa Prodi IV Teknik Radiologi Poltekkes Semarang.
2Pengajar pada Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Teknik Radiologi
2
Mekanisme Senyawa GdDTPA tampak hiperintens pada citra MRI dengan cara
menurunkan waktu relaksasi T1 disekitar jaringan dimana bahan paramagnetik tadi
dipergunakan. Dengan berkurangnya waktu relaksasi T1 maka jaringan tersebut tampak
terang pada citra pembobotan T1. Dengan pertimbangan tersebut maka pembobotan yang
biasa digunakan untuk menampilkan citra post kontras adalah pembobotan T1. Selain itu
dengan pembobotan T1 waktu sekuennya singkat dan sinyal inherennya relatif lebih bagus.
Pada MRI untuk menghasilkan pembobotan T1 dapat digunakan beberapa pulse
sekuens. Pulse sekuens adalah cara mengaplikasikan pulsa dan gradien pada system
sehingga terbentuk pembobotan dan kualitas citra yang diinginkan. Pulse sekuens yang
sering digunakan adalah Spin Echo dan Fast Spin Echo (Westbrook dan Kaut, 1998).
Berdasarkan pengalaman penulis selama praktek lapangan, penulis mendapatkan
bahwa untuk kasus tumor otak, ada rumah sakit yang menggunakan sekuens Spin Echo dan
ada rumah sakit yang menggunakan sekuens Fast Spin Echo untuk menghasilkan citra
pembobotan T1 post kontras. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji
lebih jauh apakah ada perbedaan informasi diagnostik dengan sekuens spin echo maupun
fast spin echo untuk menghasilkan T1 post kontras. Hasil kajian tersebut penulis tuangkan
dalam Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Perbandingan Informasi Citra Pembobotan
T1 Post Kontras dengan Sekuens Spin Echo dan Fast Spin Echo pada Pemeriksaan
Tumor Otak dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) ”. Dari penelitian ini
diharapkan akan diketahui sekuens mana yang lebih baik dalam penggambaran citra T1
post kontras, sehingga akan berguna bagi radiografer dalam pemilihan pulse sekuens untuk
menghasilkan citra post kontras yang memberikan informasi yang maksimal.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang disajikan dalam bentuk
pengamatan kualitatif yang dikuantitatifkan sehingga dapat dianalisa secara statistik
maupun deskriptif. Data penelitian ini berupa citra MRI pemeriksaan tumor otak dari
empat orang pasien yang kepadanya telah diberikan media kontras Gadolinium (Gd)
sebanyak 10 cc yang diinjeksikan intravena. Pada masing-masing pasien ini dilakukan
scanning citra post kontras dengan menggunakan dua macam pulse sekuens yaitu spin echo
(SE) dan Fast Spin Echo (FSE). Kemudian hasil citranya dibandingkan dan dianalisa oleh
delapan orang responden (radiolog yang terbiasa meng-expertise citra MRI). Analisa
dilakukan dengan pengisian kuesioner yang berisi 5 pertanyaan tentang hal-hal yang
tampak pada kedua citra post kontras yang dapat dibandingkan satu sama lain. Hasil
3
kuesioner berupa angka kemudian diolah dengan dua cara yaitu secara deskriptif dengan
perbandingan prosentase hasil kuesioner dan uji statistik dengan metode uji Wilcoxon.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
a. Hasil citra MRI pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan sekuens Spin Echo
b. Hasil citra MRI pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan sekuens Fast Spin Echo
c. Hasil uji statistik
Dari keseluruhan jawaban kuesioner yang ada, total nilai skor untuk analisis
informasi citra post kontras dengan sekuens spin echo dan fast spin echo tampak
dalam tabel berikut :
Tabel 4.1: Total hasil kuesioner perbandinganInformasi citra spin echo dan fast spin echo
RESPONDEN TOTAL SKORSPIN ECHO TOTAL SKOR FAST SPIN ECHO
1 57 56
2 57 53
3 59 55
4 57 56
5 66 54
6 57 51
7 62 56
8 60 48
JUMLAH 475 429
Sumber: data penelitian
4
Dari analisis statistik Wilcoxon Match pair test dengan SPSS nilai skor dari tiap-tiap
pertanyaan kuesioner diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4. 2: Hasil analisa uji Wilcoxon pada lima pertanyaan kuesioner.
Variabel Visualisasi
enhance
FSEvisualisasi
enhance SE
Visualisasi
margin
FSEvisualisasi
margin SE
Gambaran
soft tissue
FSEgambaran
soft
tissue SE
Gambaran
artefak FSEGambaran
artefak SE
Gangguan
artefak
pada FSEgangguan
artefak
pada SE
Z
p value
-1,190a
0,234
-1,163a
0, 245
-2,388a
0,017
-2,232a
0,026
0,000b
1,000
Sumber: data penelitian
dari tabel tersebut tampak bahwa :
a. Perbandingan Visualisasi enhance dari tumor kedua citra mempunyai p value 0,234 (p
> 0,05). Jadi Hipotesa nol diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berarti
tidak ada beda antara visualisasi enhance tumor pada citra dengan sekuens spin echo
dan fast spin echo.
b. Perbandingan Visualisasi batas tepi atau margin dari tumor kedua citra mempunyai p
value 0,245 (p > 0,05). Jadi Hipotesa nol diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa berarti tidak ada beda antara visualisasi batas tepi atau margin tumor pada citra
dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
c. Perbandingan gambaran soft tissue atau jaringan lunak disekitar tumor pada kedua citra
mempunyai p value 0,017 ( p < 0,05). Jadi Hipotesa nol ditolak. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa berarti ada beda antara gambaran soft tissue atau jaringan
lunak di sekitar tumor pada citra dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
d. Perbandingan gambaran artefak disekitar tumor pada kedua citra mempunyai p value
0,026 ( p < 0,05). Jadi Hipotesa nol ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa berarti ada beda antara gambaran artefak di sekitar tumor pada citra dengan
sekuens spin echo dan fast spin echo.
e. Sedangkan pertanyaan kelima yaitu pertanyaan apakah artefak tersebut mengganggu
expertise citra adalah merupakan pertanyaan yang tidak dapat dianalisa dengan statistik
karena hanya bertujuan untuk menegaskan informasi dari pertanyaan keempat saja.
5
Pada analisis secara keseluruhan perbandingan antara informasi citra post kontras
pembobotan T1 dengan sekuens spin echo dan fast spin echo diperoleh nilai seperti dalam
tabel berikut :
Tabel 4.3: Hasil uji Wilcoxon citra SE dan FSE secara keseluruhan
Fast Spin Echo-Spin echo
Z
p value
-2,533a
0,011
Sumber: data penelitian
dari tabel tersebut diketahui bahwa p value yang dihasilkan adalah 0,011 ( p < 0,05). Jadi
hipotesa nol ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada beda antara citra
yang dibuat dengan sekuens spin echo dan fast spin echo. Nilai perbedaan dari kedua
sekuens dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.4: Hasil rangking uji Wilcoxon
N Mean Rank Sum of Rank
Fast Spin Echo-Spin Echo Negative Ranks 8a 4,50 36,00
Positive Ranks 0b 0,00 0,00
Ties 0c
Total 8
Keterangan: a. Fast Spin Echo < Spin Echo, b. Fast Spin Echo > Spin Echo, c. Spin
Echo = Fast Spin Echo.
Dari tabel rangking uji Wilcoxon diketahui bahwa fast spin echo memiliki nilai negative
sebanyak 8, sedangkan nilai positif 0, dan nilai yang sama juga 0. Maka tampak bahwa fast
spin echo mempunyai nilai yang lebih rendah dibanding spin echo. Dengan demikian
secara statistik terbukti bahwa informasi citra dengan sekuens spin echo lebih baik dari
pada informasi citra dengan sekuens fast spin echo.
2. Pembahasan
a. Informasi Tumor Otak pada Citra Post Kontras.
Visualisasi enhance atau penyangatan media kontras, dari analisis secara
deskriptif tampak bahwa citra dengan sekuens spin echo lebih jelas dalam
menampilkan informasi tumor sesudah pemberian media kontras. Pada analisis
6
secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna, dengan p value 0,234 (p >
0,05). Ini dapat dipahami karena kualitas citra post kontras dipengaruhi oleh
biodistribusi subtansi media kontras dalam jaringan dan parameter pulse sekuens
yang digunakan (RMIT University, 1999). Pada tumor terjadi peningkatan
vaskularisasi, ini menyebabkan meningkatnya biodistribusi substansi media kontras
pada tumor, yang menjadikan gambaran tumor pada citra menjadi enhance atau
terang. Menurut Westbrook (1998), tujuan pemberian media kontras adalah untuk
meningkatkan CNR (Contrast to Noise Ratio) antara jaringan patologis dengan
anatomi normal. Sekuens Spin Echo menghasilkan citra dengan CNR yang lebih
tinggi dibanding citra fast spin echo karena tingginya SNR yang dihasilkan.
Visualisasi batas tepi (margin) tumor secara statistik tidak berbeda, dengan
p value 0,245 (p > 0,05), pada kedua citra post kontras, hal ini disebabkan karena
penampakkan media kontras pada citra post kontras tidak dipengaruhi oleh sekuens
yang dipergunakan tapi tergantung pada tipe tumor, lokasi tumor, dan waktu
pengambilan citra post kontrasnya (Bushong, 1996).
Visualisasi soft tissue atau jaringan lunak di sekitar tumor berbeda pada
kedua citra post kontras, dalam analisa statistik didapatkan p value 0,017 (p <
0,05). Hal ini disebabkan karena SNR yang lebih tinggi pada citra dengan sekuens
spin echo akan membuat kontras citra juga lebih tinggi sehingga gambaran soft
tissue akan lebih jelas. Pemilihan tipe pulse sekuens yang digunakan berpengaruh
pada SNR karena berkaitan dengan pemilihan scan parameter seperti Time
Repetition (TR), Time Echo (TE), Time Inversion (TI) dan Flip angle (Woodward
dan Orisson, 1997).
b. Artefak atau Kekaburan (Blurring)
Pada pertanyaan kuesioner yang keempat tentang tampak atau tidak
tampaknya artefak pada kedua citra post kontras, dari analisis satistik tampak
bahwa ada perbedaan, dengan p value 0,026 (p < 0,05), antara kedua citra post
kontras. Secara deskriptif tampak bahwa pada citra dengan sekuens Fast spin echo,
artefak lebih tampak jelas dibanding pada citra dengan sekuens spin echo. Hal ini
disebabkan adanya Effective Time Echo (ETE), Echo Train Spacing (ETS) dan
Echo Train Length (ETL) atau Turbo factor pada citra sekuens Fast spin echo.
Yang ketiganya berperan pada kemungkinan terjadinya kekaburan atau blurring
pada citra fast spin echo.
7
Parameter ETE dan ETS tidak dapat diubah oleh operator, maka banyak
sedikitnya artefak ditentukan oleh pemilihan ETL atau Turbo factor pada
pencitraan fast spin echo. Semakin besar ETL, maka artefak akan semakin banyak.
Pada analisa dengan cara statistik dan deskriptif tampak bahwa perbedaan antara
kedua citra tidak terlalu tinggi karena ETL yang digunakan nilainya tidak terlalu
besar yaitu 2, sehingga artefak yang terjadi tidak terlalu berpengaruh.
Secara keseluruhan dari total nilai skor yang didapat dari lima pertanyaan
kuesioner, tampak bahwa secara statistik terbukti bahwa ada perbedaan antara
informasi citra pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan menggunakan
sekuens spin echo dan fast spin echo. Dengan uji Wilcoxon didapat p value 0,011
(p < 0,05). Dengan demikian terbukti bahwa kualitas citra post kontras dipengaruhi
oleh parameter pulse sekuens yang digunakan (RMIT University, 1999).
c. Waktu Scanning
Perbedaan yang signifikan namun tidak dianalisis secara statistik maupun
deskriptif adalah waktu scanning atau scanning time yang digunakan. Pembuatan
citra pembobotan T1 dengan sekuens fast spin echo mempunyai waktu scanning
yang lebih cepat dibanding sekuens spin echo. Pada citra fast spin echo waktu scan
yang digunakan adalah 1 menit 17 detik sedangkan pada pembuatan citra spin echo
waktuscanning- nya adalah 3 menit 32 detik.
3. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian yang paling utama adalah jumlah data yang sedikit yaitu
empat orang pasien. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa keterbatasan dalam
pengambilan datanya. Antara lain dapat penulis sebutkan disini adalah waktu
pengambilan data yang singkat yaitu bulan Januari sampai Februari 2006 dan lokasi
pengambilan data yang jauh dari tempat penulis berdomisili.
KESIMPULAN
1. Secara statistik maupun deskriptif tampak bahwa ada perbedaan antara informasi citra
post kontras pembobotan T1 yang dibuat dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
Secara statistik, uji Wilcoxon mendapatkan p value 0,011 (p < 0,05) yang berarti ada
perbedaan antara informasi citra T1 post kontras spin echo dan fast spin echo.
8
2. Perbedaan informasi citra pembobotan T1 post kontras dengan sekuens spin echo dan
fast spin echo terutama adalah pada adanya artefak yang disebabkan karena kekaburan
atau blurring yang terlihat pada citra fast spin echo dimana artefak ini juga
berpengaruh pada visualisasi soft tissue atau jaringan lunak disekitar tumor, sedangkan
pada visualisasi enhance atau penyangatan dan batas tepi (margin) tumor pada citra
post kontras dengan kedua sekuens, tidak ditemukan adanya perbedaan.
SARAN
1. Mengingat adanya keterbatasan pada sekuens fast spin echo, sebaiknya pemilihan pulse
sekuens untuk menampilkan citra T1 post kontras lebih selektif, dengan
memperhitungkan hasil informasi citra yang akan didapat.
2. Agar kekaburan atau blurring yang terjadi tidak mengganggu informasi citra, maka
disarankan agar pada pembuatan citra post kontras pembobotan T1 fast spin echo
dipilih ETL atau turbo factor yang tidak terlalu tinggi.
3. Dengan pertimbangan bahwa perbedaan waktu antara pembuatan citra spin echo dan
fast spin echo tidak terlalu jauh berbeda, maka sebaiknya pembuatan citra post kontras
dilakukan dengan menggunakan sekuens spin echo konvensional. Hal ini mengingat
sekuens fast spin echo, sekalipun menggunakan ETL minimal yaitu 2, tetap
menunjukkan adanya artefak atau blurring yang dapat mengurangi nilai citra yang
dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bontrager, Kenneth L, 2001, Textbook of radiographic positioning and related anatomy,
Mosby, Inc, Missourry, USA
Bushong, Stewart C, 1995, MRI Physical and Biological Principles, Mosby-Yearbook, Inc,
USA.
Carlton, R. Richard and Adler, M. Arlene, 2001, Principles of radiographic Imaging: An
Art And Science, Thomson Learning, USA
Dort, C. Joseph, sadler, david, Hu, William, Wallace, Carla, Forge, La Piere, Sevick,
Robert, 2001, Screening for Cerebellopontine angle tumours : conventional MRI vs
fast spin echo MRI.<www.cjns.org/28febtoc/screening.html>
Hashemi, H.Ray and Bradley, G. William, 1997, MRI: The Basics, Williams &Wilkins,
USA
Hornak, P. Joseph, 2002, The Basics of MRI, <www.cis.rit.edu/htbooks/mri/inside.htm>
Katzberg, Richard W, 1992, The Contrast Media Manual, Williams and Walkins,
Maryland, USA
9
King, AD, Lam, WW, Leung, SF, Chan, YL, and Metreweli, C, 1997, Comparison of T2 W
Fat Supressed turbo spin echo and contrast enhanced T1 W spin echo MRI in
Nasopharyngeal Carcinoma,
<www.bir.birjournals.org/cgi/content/abstract/70/840/1208>
Liney, P. Gary, 2005, Magnetic Resonance Imaging,
<www.hull.ac.uk/mri/lectures/gpl_page.html>
RMIT University, 1999, Module 4: MRI contrast Media,
<www.bh.rmit.edu.au/mrs/subject/mrigd/mr803/module4/mr803_4.html>
Snopek, M Albert, 1992, Fundamentals of Special Radiographic Procedures, W.B Sanders
Company, Mexico.
Westbrook, Chaterine,1999, Handbook of MRI Technique, Blackwell Science Ltd., United
Kingdom
Westbrook, Chaterine and Kaut, Carolyne, 1999, MRI in Practice, Blackwell Science Ltd,
United Kingdom
Woodward, Peggy and William, W. Arrison, 1997, MRI Optimization, a hands on
approach, McGraw-Hill,Co, USA
Worthington, S. Brian, 2001, Magnetic Resonance Imaging
<www.els.net/els/public/article/article_main.asp?id>
DENGAN SEKUENS SPIN ECHO DAN FAST SPIN ECHO PADA
PEMERIKSAAN TUMOR OTAK DENGAN MAGNETIC RESONANCE
IMAGING (MRI)*
Emi Murniati1, Sugiyanto2, Darmini2
Abstract
MRI of brain tumors is always performed with contrast administration. Contrast
media (GdDTPA) is injected via vein vessel in order to enhance the tumor, not only its size
and location but also degree of staging. Image is obtained after contrast administration by
using T1 weighting technique (spin echo and fast spin echo sequence). The purpose of this
research is to find out resulted image differences between two techniques. Hopefully, it
will be useful for radiographers to produce high quality post contrast images.
Suspect of this research were 4 patients having MRI brain tumor examination then
were set with 2 sequences (spin echo and fast spin echo). Result were analized by using
questionaire observed by 8 radiologists. Data then was analized with Wilcoxon test and
description of images were given.
There was statistically differences between spin echo and fast spin echo post
contrast T1 weighting image. Result showed that there were differences in post contrast T1
weighting image quality between spin echo and fast spin echo sequence. Statistically, with
Wilcoxon test the differences were significant with p value 0,011 ( p < 0,05).
Keywords : Spin echo, fast spin echo, T1 weighting post contrast image, brain tumor.
PENGANTAR
MRI digunakan untuk pemeriksaan klinis mulai tahun 1982 dan digunakan pada
pemeriksaan system syaraf (Worthington, 2001). Pada saat ini MRI terus berkembang dan
banyak berperan dalam berbagai pemeriksaan baik untuk kasus keganasan atau tumor,
maupun kasus-kasus yang lain. Pada pemeriksaan dengan kasus tumor telah dilakukan
beberapa studi tentang perlu tidaknya penggunaan media kontras atau cukup dengan
menggunakan pembobotan T2 saja (RMIT University, 1999). Dari beberapa penelitian
tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media kontras akan memberikan penyangatan
(enhancement) yang tidak dapat ditunjukkan dengan pembobotan T2.
Media kontras MRI berbeda dengan media kontras untuk radiografi dilihat dari
bahan dan cara kerjanya. Bahan kontras MRI terbuat dari suatu bahan paramagnetik dan
yang biasa dipergunakan adalah Gadolinium (Gd), yang disenyawakan dengan Diethylene
Triaminepentaacetik Acid (DTPA) sebagai chelate-nya sehingga menjadi senyawa
GdDTPA agar tidak berbahaya dan mudah diekskresikan dari tubuh.
*Makalah pada Seminar Persatuan Ahli Radiografi Indonesia, 18 – 20 Mei 2007, Denpasar, Bali.
1Mahasiswa Prodi IV Teknik Radiologi Poltekkes Semarang.
2Pengajar pada Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Teknik Radiologi
2
Mekanisme Senyawa GdDTPA tampak hiperintens pada citra MRI dengan cara
menurunkan waktu relaksasi T1 disekitar jaringan dimana bahan paramagnetik tadi
dipergunakan. Dengan berkurangnya waktu relaksasi T1 maka jaringan tersebut tampak
terang pada citra pembobotan T1. Dengan pertimbangan tersebut maka pembobotan yang
biasa digunakan untuk menampilkan citra post kontras adalah pembobotan T1. Selain itu
dengan pembobotan T1 waktu sekuennya singkat dan sinyal inherennya relatif lebih bagus.
Pada MRI untuk menghasilkan pembobotan T1 dapat digunakan beberapa pulse
sekuens. Pulse sekuens adalah cara mengaplikasikan pulsa dan gradien pada system
sehingga terbentuk pembobotan dan kualitas citra yang diinginkan. Pulse sekuens yang
sering digunakan adalah Spin Echo dan Fast Spin Echo (Westbrook dan Kaut, 1998).
Berdasarkan pengalaman penulis selama praktek lapangan, penulis mendapatkan
bahwa untuk kasus tumor otak, ada rumah sakit yang menggunakan sekuens Spin Echo dan
ada rumah sakit yang menggunakan sekuens Fast Spin Echo untuk menghasilkan citra
pembobotan T1 post kontras. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji
lebih jauh apakah ada perbedaan informasi diagnostik dengan sekuens spin echo maupun
fast spin echo untuk menghasilkan T1 post kontras. Hasil kajian tersebut penulis tuangkan
dalam Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Perbandingan Informasi Citra Pembobotan
T1 Post Kontras dengan Sekuens Spin Echo dan Fast Spin Echo pada Pemeriksaan
Tumor Otak dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) ”. Dari penelitian ini
diharapkan akan diketahui sekuens mana yang lebih baik dalam penggambaran citra T1
post kontras, sehingga akan berguna bagi radiografer dalam pemilihan pulse sekuens untuk
menghasilkan citra post kontras yang memberikan informasi yang maksimal.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang disajikan dalam bentuk
pengamatan kualitatif yang dikuantitatifkan sehingga dapat dianalisa secara statistik
maupun deskriptif. Data penelitian ini berupa citra MRI pemeriksaan tumor otak dari
empat orang pasien yang kepadanya telah diberikan media kontras Gadolinium (Gd)
sebanyak 10 cc yang diinjeksikan intravena. Pada masing-masing pasien ini dilakukan
scanning citra post kontras dengan menggunakan dua macam pulse sekuens yaitu spin echo
(SE) dan Fast Spin Echo (FSE). Kemudian hasil citranya dibandingkan dan dianalisa oleh
delapan orang responden (radiolog yang terbiasa meng-expertise citra MRI). Analisa
dilakukan dengan pengisian kuesioner yang berisi 5 pertanyaan tentang hal-hal yang
tampak pada kedua citra post kontras yang dapat dibandingkan satu sama lain. Hasil
3
kuesioner berupa angka kemudian diolah dengan dua cara yaitu secara deskriptif dengan
perbandingan prosentase hasil kuesioner dan uji statistik dengan metode uji Wilcoxon.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
a. Hasil citra MRI pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan sekuens Spin Echo
b. Hasil citra MRI pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan sekuens Fast Spin Echo
c. Hasil uji statistik
Dari keseluruhan jawaban kuesioner yang ada, total nilai skor untuk analisis
informasi citra post kontras dengan sekuens spin echo dan fast spin echo tampak
dalam tabel berikut :
Tabel 4.1: Total hasil kuesioner perbandinganInformasi citra spin echo dan fast spin echo
RESPONDEN TOTAL SKORSPIN ECHO TOTAL SKOR FAST SPIN ECHO
1 57 56
2 57 53
3 59 55
4 57 56
5 66 54
6 57 51
7 62 56
8 60 48
JUMLAH 475 429
Sumber: data penelitian
4
Dari analisis statistik Wilcoxon Match pair test dengan SPSS nilai skor dari tiap-tiap
pertanyaan kuesioner diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4. 2: Hasil analisa uji Wilcoxon pada lima pertanyaan kuesioner.
Variabel Visualisasi
enhance
FSEvisualisasi
enhance SE
Visualisasi
margin
FSEvisualisasi
margin SE
Gambaran
soft tissue
FSEgambaran
soft
tissue SE
Gambaran
artefak FSEGambaran
artefak SE
Gangguan
artefak
pada FSEgangguan
artefak
pada SE
Z
p value
-1,190a
0,234
-1,163a
0, 245
-2,388a
0,017
-2,232a
0,026
0,000b
1,000
Sumber: data penelitian
dari tabel tersebut tampak bahwa :
a. Perbandingan Visualisasi enhance dari tumor kedua citra mempunyai p value 0,234 (p
> 0,05). Jadi Hipotesa nol diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berarti
tidak ada beda antara visualisasi enhance tumor pada citra dengan sekuens spin echo
dan fast spin echo.
b. Perbandingan Visualisasi batas tepi atau margin dari tumor kedua citra mempunyai p
value 0,245 (p > 0,05). Jadi Hipotesa nol diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa berarti tidak ada beda antara visualisasi batas tepi atau margin tumor pada citra
dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
c. Perbandingan gambaran soft tissue atau jaringan lunak disekitar tumor pada kedua citra
mempunyai p value 0,017 ( p < 0,05). Jadi Hipotesa nol ditolak. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa berarti ada beda antara gambaran soft tissue atau jaringan
lunak di sekitar tumor pada citra dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
d. Perbandingan gambaran artefak disekitar tumor pada kedua citra mempunyai p value
0,026 ( p < 0,05). Jadi Hipotesa nol ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa berarti ada beda antara gambaran artefak di sekitar tumor pada citra dengan
sekuens spin echo dan fast spin echo.
e. Sedangkan pertanyaan kelima yaitu pertanyaan apakah artefak tersebut mengganggu
expertise citra adalah merupakan pertanyaan yang tidak dapat dianalisa dengan statistik
karena hanya bertujuan untuk menegaskan informasi dari pertanyaan keempat saja.
5
Pada analisis secara keseluruhan perbandingan antara informasi citra post kontras
pembobotan T1 dengan sekuens spin echo dan fast spin echo diperoleh nilai seperti dalam
tabel berikut :
Tabel 4.3: Hasil uji Wilcoxon citra SE dan FSE secara keseluruhan
Fast Spin Echo-Spin echo
Z
p value
-2,533a
0,011
Sumber: data penelitian
dari tabel tersebut diketahui bahwa p value yang dihasilkan adalah 0,011 ( p < 0,05). Jadi
hipotesa nol ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada beda antara citra
yang dibuat dengan sekuens spin echo dan fast spin echo. Nilai perbedaan dari kedua
sekuens dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.4: Hasil rangking uji Wilcoxon
N Mean Rank Sum of Rank
Fast Spin Echo-Spin Echo Negative Ranks 8a 4,50 36,00
Positive Ranks 0b 0,00 0,00
Ties 0c
Total 8
Keterangan: a. Fast Spin Echo < Spin Echo, b. Fast Spin Echo > Spin Echo, c. Spin
Echo = Fast Spin Echo.
Dari tabel rangking uji Wilcoxon diketahui bahwa fast spin echo memiliki nilai negative
sebanyak 8, sedangkan nilai positif 0, dan nilai yang sama juga 0. Maka tampak bahwa fast
spin echo mempunyai nilai yang lebih rendah dibanding spin echo. Dengan demikian
secara statistik terbukti bahwa informasi citra dengan sekuens spin echo lebih baik dari
pada informasi citra dengan sekuens fast spin echo.
2. Pembahasan
a. Informasi Tumor Otak pada Citra Post Kontras.
Visualisasi enhance atau penyangatan media kontras, dari analisis secara
deskriptif tampak bahwa citra dengan sekuens spin echo lebih jelas dalam
menampilkan informasi tumor sesudah pemberian media kontras. Pada analisis
6
secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna, dengan p value 0,234 (p >
0,05). Ini dapat dipahami karena kualitas citra post kontras dipengaruhi oleh
biodistribusi subtansi media kontras dalam jaringan dan parameter pulse sekuens
yang digunakan (RMIT University, 1999). Pada tumor terjadi peningkatan
vaskularisasi, ini menyebabkan meningkatnya biodistribusi substansi media kontras
pada tumor, yang menjadikan gambaran tumor pada citra menjadi enhance atau
terang. Menurut Westbrook (1998), tujuan pemberian media kontras adalah untuk
meningkatkan CNR (Contrast to Noise Ratio) antara jaringan patologis dengan
anatomi normal. Sekuens Spin Echo menghasilkan citra dengan CNR yang lebih
tinggi dibanding citra fast spin echo karena tingginya SNR yang dihasilkan.
Visualisasi batas tepi (margin) tumor secara statistik tidak berbeda, dengan
p value 0,245 (p > 0,05), pada kedua citra post kontras, hal ini disebabkan karena
penampakkan media kontras pada citra post kontras tidak dipengaruhi oleh sekuens
yang dipergunakan tapi tergantung pada tipe tumor, lokasi tumor, dan waktu
pengambilan citra post kontrasnya (Bushong, 1996).
Visualisasi soft tissue atau jaringan lunak di sekitar tumor berbeda pada
kedua citra post kontras, dalam analisa statistik didapatkan p value 0,017 (p <
0,05). Hal ini disebabkan karena SNR yang lebih tinggi pada citra dengan sekuens
spin echo akan membuat kontras citra juga lebih tinggi sehingga gambaran soft
tissue akan lebih jelas. Pemilihan tipe pulse sekuens yang digunakan berpengaruh
pada SNR karena berkaitan dengan pemilihan scan parameter seperti Time
Repetition (TR), Time Echo (TE), Time Inversion (TI) dan Flip angle (Woodward
dan Orisson, 1997).
b. Artefak atau Kekaburan (Blurring)
Pada pertanyaan kuesioner yang keempat tentang tampak atau tidak
tampaknya artefak pada kedua citra post kontras, dari analisis satistik tampak
bahwa ada perbedaan, dengan p value 0,026 (p < 0,05), antara kedua citra post
kontras. Secara deskriptif tampak bahwa pada citra dengan sekuens Fast spin echo,
artefak lebih tampak jelas dibanding pada citra dengan sekuens spin echo. Hal ini
disebabkan adanya Effective Time Echo (ETE), Echo Train Spacing (ETS) dan
Echo Train Length (ETL) atau Turbo factor pada citra sekuens Fast spin echo.
Yang ketiganya berperan pada kemungkinan terjadinya kekaburan atau blurring
pada citra fast spin echo.
7
Parameter ETE dan ETS tidak dapat diubah oleh operator, maka banyak
sedikitnya artefak ditentukan oleh pemilihan ETL atau Turbo factor pada
pencitraan fast spin echo. Semakin besar ETL, maka artefak akan semakin banyak.
Pada analisa dengan cara statistik dan deskriptif tampak bahwa perbedaan antara
kedua citra tidak terlalu tinggi karena ETL yang digunakan nilainya tidak terlalu
besar yaitu 2, sehingga artefak yang terjadi tidak terlalu berpengaruh.
Secara keseluruhan dari total nilai skor yang didapat dari lima pertanyaan
kuesioner, tampak bahwa secara statistik terbukti bahwa ada perbedaan antara
informasi citra pembobotan T1 post kontras yang dibuat dengan menggunakan
sekuens spin echo dan fast spin echo. Dengan uji Wilcoxon didapat p value 0,011
(p < 0,05). Dengan demikian terbukti bahwa kualitas citra post kontras dipengaruhi
oleh parameter pulse sekuens yang digunakan (RMIT University, 1999).
c. Waktu Scanning
Perbedaan yang signifikan namun tidak dianalisis secara statistik maupun
deskriptif adalah waktu scanning atau scanning time yang digunakan. Pembuatan
citra pembobotan T1 dengan sekuens fast spin echo mempunyai waktu scanning
yang lebih cepat dibanding sekuens spin echo. Pada citra fast spin echo waktu scan
yang digunakan adalah 1 menit 17 detik sedangkan pada pembuatan citra spin echo
waktuscanning- nya adalah 3 menit 32 detik.
3. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian yang paling utama adalah jumlah data yang sedikit yaitu
empat orang pasien. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa keterbatasan dalam
pengambilan datanya. Antara lain dapat penulis sebutkan disini adalah waktu
pengambilan data yang singkat yaitu bulan Januari sampai Februari 2006 dan lokasi
pengambilan data yang jauh dari tempat penulis berdomisili.
KESIMPULAN
1. Secara statistik maupun deskriptif tampak bahwa ada perbedaan antara informasi citra
post kontras pembobotan T1 yang dibuat dengan sekuens spin echo dan fast spin echo.
Secara statistik, uji Wilcoxon mendapatkan p value 0,011 (p < 0,05) yang berarti ada
perbedaan antara informasi citra T1 post kontras spin echo dan fast spin echo.
8
2. Perbedaan informasi citra pembobotan T1 post kontras dengan sekuens spin echo dan
fast spin echo terutama adalah pada adanya artefak yang disebabkan karena kekaburan
atau blurring yang terlihat pada citra fast spin echo dimana artefak ini juga
berpengaruh pada visualisasi soft tissue atau jaringan lunak disekitar tumor, sedangkan
pada visualisasi enhance atau penyangatan dan batas tepi (margin) tumor pada citra
post kontras dengan kedua sekuens, tidak ditemukan adanya perbedaan.
SARAN
1. Mengingat adanya keterbatasan pada sekuens fast spin echo, sebaiknya pemilihan pulse
sekuens untuk menampilkan citra T1 post kontras lebih selektif, dengan
memperhitungkan hasil informasi citra yang akan didapat.
2. Agar kekaburan atau blurring yang terjadi tidak mengganggu informasi citra, maka
disarankan agar pada pembuatan citra post kontras pembobotan T1 fast spin echo
dipilih ETL atau turbo factor yang tidak terlalu tinggi.
3. Dengan pertimbangan bahwa perbedaan waktu antara pembuatan citra spin echo dan
fast spin echo tidak terlalu jauh berbeda, maka sebaiknya pembuatan citra post kontras
dilakukan dengan menggunakan sekuens spin echo konvensional. Hal ini mengingat
sekuens fast spin echo, sekalipun menggunakan ETL minimal yaitu 2, tetap
menunjukkan adanya artefak atau blurring yang dapat mengurangi nilai citra yang
dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bontrager, Kenneth L, 2001, Textbook of radiographic positioning and related anatomy,
Mosby, Inc, Missourry, USA
Bushong, Stewart C, 1995, MRI Physical and Biological Principles, Mosby-Yearbook, Inc,
USA.
Carlton, R. Richard and Adler, M. Arlene, 2001, Principles of radiographic Imaging: An
Art And Science, Thomson Learning, USA
Dort, C. Joseph, sadler, david, Hu, William, Wallace, Carla, Forge, La Piere, Sevick,
Robert, 2001, Screening for Cerebellopontine angle tumours : conventional MRI vs
fast spin echo MRI.<www.cjns.org/28febtoc/screening.html>
Hashemi, H.Ray and Bradley, G. William, 1997, MRI: The Basics, Williams &Wilkins,
USA
Hornak, P. Joseph, 2002, The Basics of MRI, <www.cis.rit.edu/htbooks/mri/inside.htm>
Katzberg, Richard W, 1992, The Contrast Media Manual, Williams and Walkins,
Maryland, USA
9
King, AD, Lam, WW, Leung, SF, Chan, YL, and Metreweli, C, 1997, Comparison of T2 W
Fat Supressed turbo spin echo and contrast enhanced T1 W spin echo MRI in
Nasopharyngeal Carcinoma,
<www.bir.birjournals.org/cgi/content/abstract/70/840/1208>
Liney, P. Gary, 2005, Magnetic Resonance Imaging,
<www.hull.ac.uk/mri/lectures/gpl_page.html>
RMIT University, 1999, Module 4: MRI contrast Media,
<www.bh.rmit.edu.au/mrs/subject/mrigd/mr803/module4/mr803_4.html>
Snopek, M Albert, 1992, Fundamentals of Special Radiographic Procedures, W.B Sanders
Company, Mexico.
Westbrook, Chaterine,1999, Handbook of MRI Technique, Blackwell Science Ltd., United
Kingdom
Westbrook, Chaterine and Kaut, Carolyne, 1999, MRI in Practice, Blackwell Science Ltd,
United Kingdom
Woodward, Peggy and William, W. Arrison, 1997, MRI Optimization, a hands on
approach, McGraw-Hill,Co, USA
Worthington, S. Brian, 2001, Magnetic Resonance Imaging
<www.els.net/els/public/article/article_main.asp?id>
Wednesday, 25 January 2012
Trauma Kepala Intrakranial dan peranan CT Scan sebagai Penunjang
diagnosanya.
FRANKY JACOBUS DIMPUDUS, B.Sc.Med.Imag.(Curtin)
Department of Imaging Diagnostic-Affinity Health RS
Surabaya Internasional Surabaya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ABSTRACT
Head
trauma is a general medical problem. The cause of it are usually traffic or industrial
accident, fallen from height, and penetrating injury. The head injuries are
sometime mild. However, in some patients may develop serious complication. The
accurate diagnosis is needed to investigate intracranial injuries in order to
provide appropriate management of treatment and patient’s best possible
outcomes.
The
diagnosis of head trauma has changed significantly with the availability of
computed tomography. CT is not only demonstrates the presence of a mass, but
also delineates acute bleed from brain swelling. It is also useful in
determining whether the hematoma is intracerebral or extracerebral, as well as
its volume, extent, and multiplicity. The presence of bone fractures is more dramatically
depicted in 3-D reformatted. In fact, CT has eliminated the need for other
diagnostic studies (e.q. skull x-ray) in all but the most exceptional
situations.
This
paper documents some references and brief study about head trauma and the role
of CT in confirm or exclude it. CT procedures and protocols in trauma patients
are also described. In addition, some CT images in common intracranial injury
cases such as fractures and intracranial bleedings such as epidural, subdural,
subarachnoid are also presented.
PENDAHULUAN
Trauma kepala sudah merupakan kasus medis yang umum
terjadi di dunia. Bahkan, di negara maju
seperti Amerika dan Australia, tercatat kasus trauma kepala mencapai
800.000-1.000.000 dan 756000 kasus per
tahun. (Jonathan,2004;Tony,2003)
Trauma kepala
didefinisikan sebagai trauma non degenerative-non konginetal yang terjadi
akibat ruda paksa mekanis eksteral yang mencederai kepala yang kemungkinan
berakibat gangguan kognitif, fisik, dan psikososial baik sementara atau
permanen yang berhubungan dengan berkurang atau berubahnya derajat kesandaran. (Barry
,2005). Mekanismemenya, cedera kepala berasal dari :
1.
Cedera langsung ke jaringan otak.
2.
Ruda paksa luar yang mengenai bagian luar kepala
(tengkorak) yang menjalar ke dalam otak.
3.
Pergerakan dari jaringan otak di dalam tulang
tengkorak.
Cedera kepala lebih sering dialami pria dari wanita dan
penyebabnya diantaranya kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri, kecelakaan
olah raga, jatuh dari ketinggian, dan tindakan kekerasan. Trauma ini juga menjadi penyebab utama kematian / kelumpuhan
pada usia muda. (Anne G Osborn,2003)
Pasien dengan
trauma kepala memerlukan penegakkan diagnosa sedini mungkin agar tindakan
terapi dapat segera dilakukan untuk menghasilkan prognosa yang baik
(Geijertstam,2004). Penelitian menunjukkan tindakan operasi pada trauma kepala berat
dalam rentang waktu 4 jam pertama setelah kejadian, dapat menyelamatkan kurang
lebih 70%. Pasien Sebaliknya, tingkat
mortalitas dapat naik sampai 90% bila tindakan interverensi dilakukan lebih dari 4 jam. (Tony, 2003) Penegakkan diagnosa trauma kepala diperoleh
dengan pemeriksaan klinis awal yang teliti dan ditunjang diagnosa imajing
PEMERIKSAAN KLINIS:
Tingkat resiko
penderita trauma kepala dapat dikelompokkan berdasarkan presentasi klinis dari penderita
menjadi 3 kategori:
1. Low risk
Penderita sadar, secara fisik
normal, tidak ada intoksikasi alcohol/obat-obatan, minimal laresarsi atau
hematom ringan, pusing, pening, atau penglihatan kabur. Glasgow coma score 14-15
2. Moderate risk
Sempat pingsan, amnesia, muntah,
kejang, ada tanda fraktur di skull, adanya tanda intoksikasi alcohol/obat-obatan,
trauma yang tidak diketahui penyebabnya. Glasgow
coma score 9-14.
3. Severe
Glasgow coma score kurang dari 8, penurunan atau
hilangnya kesadaran, fraktur skull, kelainan neurologist yang menandakan cedera
intrakranial
Glasgow Coma Score adalah skala yang digunakan untuk mengukur
tingkat kesadaran seseorang. Skornya berkisar antara 3 (terburuk) sampai 15
(terbaik) dan berdasarkan jumlah skor kemampuan pasien membuka mata (0-4), berbicara (0-5), dan
bergerak(0-6).
PENUNJANG DIAGNOSA
Peranan diagnosa
imajing juga diperlukan terutama pada pasien dengan tingkat resiko
moderate-severe. Tujuan utama dari pemeriksaan imajing pada pasien trauma
kepala ialah untuk mengkonfirmasi adakah cedera intrakranial yang berpotensi mengancam
jiwa pasien bila tidak segera dilakukan tindakan.
Hadirnya
modalitas imajing CT scan telah merevolusi cara mengevaluasi diagnosa trauma
kepala. Sebelum CT scan, plain foto skull umum dimintakan pada pasien kasus
trauma kepala. Namun nilai prediktif dan efisiensi dari skull x-ray sudah mulai
dipertanyakan. Plain foto kepala memang dapat menunjukkan ada/tidaknya fraktur
pada kepala. Akan tetapi pemeriksaan radiologi itu tidak adekuat untuk
memprediksi adanya cedera intrakranial (Lyloyd,1997). Profesor Anne G Osborn,
ahli neuroradilologist dari University of Utah School of Medicine, menyatakan 25-30%
pasien trauma kepala tanpa fraktur ternyata mengalami cedera intrakranial yang
berat (Anne, 2003). Disamping itu, waktu yang digunakan untuk plain skull foto,
bisa jadi malah memperlambat diagnosa trauma intrakranial (Jonathan,2004). Oleh
karena itu CT scan telah menggantikan peranan plain foto dan menjadi modalitas
pilihan dalam menunjang diagnosa trauma kepala.
CT SCAN PADA TRAUMA KEPALA
Peranan CT scan
sebagai modalitas pilihan dalam diagnosa trauma kepala karena memiliki
keunggulan:
·
Pemeriksaan yang cepat dan mudah.
·
Tidak invasif.
·
Dapat mengidentifikasikan dan melokalisir adanya
fraktur dan fragmentnya pada tulang kepala. Bahkan pada spiral atau multislice
CT dapat direkonstruksi gambar 3D.nya
·
Dapat menunjukkan adanya perdarahan extrakranial
dan mengihitung volumenya.
·
Dapat menunjukkan kelainan intrakranial
o
Infark
acute, oedema cerebri, cerebral contusion
o
Perdarahan intracranial : Subdural, Epidural, SAH
Radiographer berperan penting dalam mengoperasikan CT scan
pada kasus trauma kepala mulain persiapan pasien, prosedur , positioning, protokol
, post processing, dan mencetakan ke film.
Prosedur pemeriksaan CT Scan pada trauma kepala
Untuk
pemeriksaan CT scan kepala tidak memerlukan persiapan khusus. Hal-hal yang
perlu diperhatikan radiografer adalah:
·
Pastikan
di ruangan ada saluran / tabung oksigen dan suction, dan bila perlu peralatan
resusitasi.
·
Sebelum
pasien masuk, isilah data pasien terlebih dahulu di data konsul.
·
Gunakan
sarung tangan / unsteril glove dalam memindah dan pengatur posisi pasien pada
kasus trauma dengan luka terbuka. (universal precaution)
·
Pastikan tidak benda-benda metalik pada
penderita di area kepala (kalung, jepit rambut, anting, kabel-kabel monitor )
yang dapat menimbulkan artefak pada gambar.
·
Jangan pernah melepas alat fiksasi leher collar
bila telah dipasang
·
Bila perlu, anggota satu keluarga ada yang
mendampingi sewaktu pemeriksaan pada kasus trauma .(misal pasien anak-anak).
Berikan apron.
·
Fiksasi
kepala pasien pada cradle, dengan perlatan fiksasi.
Protokol CT Kepala
·
Orientasi pasien : head first, supine
·
Orbita Meatal pararel terhadap scan plane.
·
Scout / Topogram : lateral dari base skull ke
vertex
·
Axial base line diambil dari garis inferoorbital
floor ke EAM. Angle disesuaikan.
·
Pada
scan konvensional : Irisan 5mm dan jarak antar irisan 5mm dari base skull ke
infra tentorium, 10m dan jarak irisan 10mm dari circullum willis ke vertex. Bila
diperlukan irisan tambahan, set additional scan 1 slice 5mm.
·
Pada spiral:
5mm/ 5mm pitch 1 atau 7mm/7mm,
recon interval 5mm
Gambaran CT kepala dan post processig
Gambaran CT
scan dapat menunjukkan patologis pada pasien trauma kepala (Andrew,1997).
Berikut adalah tanda-tanda dan apa yang perlu diperhatikan
radiographer dan apa yang harus dilakukan radiographer dalam post processing :
·
Focal
hyper/hypodens; area hyperdens nilai 50-70HU dengan ROI menu, ukurlah area
itu dengan automatic volume dapat dihitung perkiraan kasar pada area tersebut dengan
cara mengukur panjang x lebar x tebal irisan (nomor meja awal-akhir tampaknya
lesi) dibagi 2.
·
Mild line
shfit, tanda adanya mass effect (Bila dijumpai ukurlah bila ada dengan
membuat garis membagi 2 hemispher ceberum dan garis shift pada ujung anterior
septum pellucidum)
·
Asymetry dari struktur dalam cranial.
·
Bone distruction / erosi (pakai algoritma dan bone window); bila
menggunakan spiral, buat 3-D.
·
Udara di calvarium (kemungkinan adanya fraktur)
·
Oedem (batas sulci /gyri cortical tidak jelas)
·
Pada processing image: gunakan algoritma image (filter/kernel)
soft tissue dan bone dan atur Window With dan Window Levelnya.
o
Bone: W=±3000, L=±800
o
Brain: W=±90, L=±40
o
Subdural or intermediate: W=±200, L=±50
·
Bila positioning tidak memungkinkan pasien
mempertahankan posisi kepalanya, bila gambar kabur karena pergerakan, perlu
diulang. Jika hanya rotasi saja, tidak perlu diulang dan gunakan fasilitas
rotational image
·
Print dengan scout / scannogran dan gambar
aksialnya 15-20 dalam 1 lembar, bila perlu ditambah 1 lembar kondisi tulang.
BEBERAPA GAMBARAN CT SCAN PADA TRAUMA KEPALA
INTRAKRANIAL
1. FRAKTUR
![]() |
(Gambar 1,2,3, Courtesy of Anne,2003; Tony,2003)
Fraktur pada trauma kepala
jenisnya bisa :
- Linier non displacement
- Depressed ( adanya displacement dari fragment)
- Diastatic fractures (fraktur yang melibatkan sutura)
2. EPIDURAL HEMATOMA
![]() |
![]() |
![]() |
(Gambar 4,5,6 , Courtesy of Tony,2003;
Michel,2003)
Epidural hematoma adalah kumpulan massa darah akibat
robeknya middle meningeal arteri antara skull dan dura di regio temporal , yang
sangat kuat hubungannya dengan fraktur linear. Kadang juga
terjadi akibat robeknya vena dan tipikalnya terjadi di region posterior fosa
atau dekat daerah occipital lobe.
Gambaran
Epidural pada CT tampak sebagai bentuk bi convex dan adanya pemisahan jaringan
otak dengan skull. Pendarahan
akut tampak hyperdens, subakut tampak isodense, kronis tampak hypodens
3. SUB DURAL HEMATOMA
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
||||
(Gambar 6,7,8 Courtesy of Tony,2003, Michael,2003,
Anne,2003)
Subdural
hematoma adalah kumpulan perdarahan vena yang berlokasi antara dura mater dan
arachnoid membrane (subdural space). Biasanya terjadi akibat kepala berbenturan
dengan benda tak bergerak menyebabkan robeknya vena antara cerebral cortex dan
vena dura.
Gambaran
subdural pada CT tampak sebagai bentuk bulan sabit mengikuti kontur dari
kranium bagian dalam. Pendarahan
akut tampak hyperdens, subakut tampak isodense, kronis tampak hypodens
4. SUB ARACHNOID HEMMORAGE
![]() |
![]() |
||
(Gambar
9, 10, courtesy of Michael 2003, Andrew, 2001)
Subarachnoid hemmorage (SAH) terjadi
karena keluarnya darah ke subarachnoid space, umumnya basal cistens dan jalur
cerebral spinal fluid. Penyebab utama SAH ialah trauma, selain itu bisa juga
dikarenakan rupturnya saccular (berry) aneurysm dan arteriovenous malformation
(AVM)
Gambaran pada CT menunjukkan
gambaran hyperdens/perdarahan akut yang ada di subarachnoid space.
DISKUSI
Meskipun telah jelas CT scan pada trauma kepala sangat
berperan untuk menentukan adanya cedera intrakranial khususnya pada presentasi
klinis kategori severe. Namum pada
beberapa kasus, cedera intrakranial bisa terjadi pada manifestasi klinis normal
(low) atau cedera yang kelihatannya ringan-sedang. Dari sini mulai
dipertanyakan apakah seseorang dengan cedera kepala harus di CT scan sedang
harga pemeriksaan mungkin masih mahal.
Dari studi
retrospektif, direkomendasikan dua standart yang dipakai apakah pasien
memerlukan tidaknya CT scan yaitu New Orlands dan The Canadian CT rule. (Jonathan,2004). New Orland menyebutkan ada 7 kriteria yaitu :
o
Sakit kepala
o
Muntah
o
Umur lebih dari 60 tahun
o
Adanya intoksikasi alcohol.
o
Amnesia retrograde
o
Kejang
o
Adanya
cedera di area clavicula ke superior.
Sedangkan The
Canadian CT Head menyebutkan 5 kriteria yaitu :
o
GCS kurang dari 15 setelah 2 jam kejadian
o
Adanya dugaan open /depressed fracture.
o
Lebih
dari dua kali muntah.
o
Bukti
fisik adanya fraktur di basal skull.
o
Umur lebih dari 65 tahun
Dengan mengikuti kriteria
di atas, maka memprediksi kelainan intrakranial semakin tinggi dan pemeriksan
CT scan adalah sangat diperlukan.
Radiographer memegang peranan mengoptimasikan CT scan
dalam penegakkan diagnosa. Pengoptimalan protokol, penambahan irisan bila
diperlukan, penggunaan MPR (multi plannar reformatted) dan bila perlu 3-D
rendering pada kasus fraktur pada spiral/multi slice dapat menambah informasi
yang diperlukan radiologist untuk dilaporkan.ke klinisi.
Bila diperlukan
dan diminta, radiographer juga dapat mengusulkan secara informal pemeriksaan CT
scan pada klinisi (biasanya dr. UGD) yang meminta foto kepala biasa bila
presentasi klinis. Hali ini juga mempercepat penegakkan diagnosa pasien dan
penanganan terapi yang adekuat sehingga dihasilkan prognosa yang baik.
KESIMPULAN
CT scan adalah
modalitas pilihan utama dalam membantu penegakkan diagnosa trauma kepala dengan
cedera intrakranial seperti fraktur, hematom intrakranial dan extrakranial.
Keunggulannya selain cepat,mudah, dan dapat diandalkan. Penggunaan protokol
yang tepat dan optimasi ppst processing dari
radiographer sebagai operator CT scan dapat menambah informasi dan meingkatkan
akurasi diagnosa secara dini sehingga tindakan terapi dapat segera dilakukan
sehingga pasien diharapkan mendapatkan
prognosa atau hasil perawatan penyembuhan semaksimal mungkin.
KEPUSTAKAAN
Anne
G Osborn MD FACR,et al, 2003, PocketRadiologistTM BRAIN 100
Top Diagnoses, 1st Edition, Amirsys-W.B.Saunders Company,
p:3-22.
A D
Reuben, et al, 2005, A comparative study of evaluation of radiographs, CT
and 3D reformatted CT in facial trauma: what is the role of 3D?, The
British Journal of Radiology, 78 (2005), 198-201.
Andrew
Burking, 1997, Rural
Cerebral CT, Its role in the
investigation of headaches, The Radiographer- Vol 44:109-114. p.109
Barry
Jansen et al, 2003, Head Trauma review for paramedic, EMT
Lectures presentation, UCLA School of Medicine USA.
Grey,
Michael L, 2003, CT & MRI PATHOLOGY: A POCKET ALTAS, The
McGraw-Hill Companies, USA,p.52-54
J-L af Geijerstam and M Britton, 2005, Mild
head injury: reliability of early computed tomographic findings in triage for
admission, Emerg Med J,2005:22:103-107. [Available online : http://www.emj.bmjjournals.com/cgi/content/full/22/2/103]
Jonathan
Glauser MD, 2004, Head injury: Which patients need imaging? Which test is
best?, Cleveland Clinic Journal of Medicine, Volume 7 number
April 2004, p353-357
Lloyd
DA, et al, 1997, Predictive value of skull radiography for intracranial
injury in children with blunt head injury. Lacent 1997,Mar
22;349(9055):821-4
Micelle
J.Haydel MD, et al., Indications for Computed Tomography in Patients with Minor Head Injury,2000, N.
Eng J. Med 2000;343:100-5. [Available on line: http://www.nejm.org]
Tony
Knigts, 2003, Head Trauma-Comparative Imaging Component, Lecture
note, Medical Imaging Science 335, Curtin University of Technology, Perth Australia.
ACKNOWLEDGEMENT
Special
thanks to dr.Haryo Pratiknyo, Sp.S, Neurologist RS Surabaya Internasional and
dr.Hindarto,Sp.R , Radiologist RS Surabaya Internasional for their support by
lending the writer some neuroradiology te
Subscribe to:
Posts (Atom)








