Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI. Show all posts

Sunday, 5 February 2012

PROSEDURE PEMERIKSAAN RADIOLOGI USUS BESAR

Tujuan Maksud dan tujuan pemeriksaan radiologi Colon In Loop adalah sebagai acuan dalam membantu menegakan diagnosa dokter.

Indikasi Massa/tumor, kelainan anatomi, Hemoroid, radang..Kriteria Pemeriksaan teknik radiografi Colon In Loop diharapkan akan dapat memberikan informasi diagnosa yang akurat.

Definisi
  1. Colon adalah saluran pencernaan bagian bawah yang berfungsi menyerap air dan garam-garam mineral. Pada ukuran panjang normal 1,5 sampai 1,90 m, ukuran diameter 4-7 cm. Ukuran terluas adalah bagian coecum dan tersempit recto sigmoid. - Pemotretan Colon in Loop adalah pemotretan dengan menggunakan sinar-X dan fluoroscopy untuk membantu menegakkan diagnosa dengan melihat kelainan di daerah usus besar dengan menggunakan media kontras positif yaitu Barium Sulphat (BaSO4) yang dimasukkan lewat anus.
  2. Media kontras positif adalah suatu zat yang dapat memberikan gambaran radio opak atau putih pada radiograf. Dan unsur dasar terbuat dari unsur yang bernomor atom tinggi.
  3. Barium Sulfat (BaSO4) adalah jenis media kontras positif yang tersusun dari unsur Barium dan sulfat, digunakan untuk pemeriksaan sistem pencernaan makanan karena dapat melapisi dinding saluran makanan secara merata sehingga bayangan tegas tidak mudah rusak/ tahan lama dan tidak mudah mengendap.
Kebijakasanaan Pemeriksaan abdomen 3 posisi dilakukan oleh radiographer Semua hasil radiografi abdomen 3 posisi di baca oleh dr. spesialis radiologi

Prosedur
  1. Catat tanda-tanda vital pasien, tekanan darah, denyut nadi dan hasil laboratorium bila ada.
  2. Dilakukan plain foto Abdomen polos/ BNO Pendahuluan, menggunakan kaset ukuran 30 x 40 cm, bila pasien berukuran besar menggunakan kaset ukuran 43 x 35 cm. Teknik Foto Plain Abdomen polos/ BNO Pendahuluan
  3. Posisi Pasien Supine diatas meja pemeriksaan, kedua lengan disamping tubuh, kaki lurus dengan lutul sedikit fleksi untuk mobilisasi.
  4. Posisi objek Mid Sagital Plane pada pertengahan meja, batas atas processus xyphoideus dan batas bawah sympisis pubis. 6.2.3. Central Ray: Vertical, Center point : umbilikus, FFD : 90 cm Kv : 70 , MAS. 6.2.4. Eksposi: sekspirasi dan tahan nafas supaya abdomen lebih tipis, diafragma keatas sehingga abdomen terlihat jelas.
  5. Siapkan media kontras barium sulfat yang dicampur dengan air dengan perbandingan 1:8.
  6. Masukkan ke tabung irigator yang telah tersambung dengan selang irigator. Letakkan pada ketinggian 1 meter dari tempat tidur pasien.
  7. 6.5. Masukkan kanula yang telah diolesi vaselin ke anus pasien, diklem dengan gunting klem. 6.6. Buka gunting klem sehingga barium masuk ke colon sigmoid (±5 menit). Tutup gunting klem pada selang irigator. Lakukan pemotretan dengan kaset 24 x 30 cm.
  8. Buka kembali klem alirkan barium kira-kira sampai mengisi rectum (± 10 menit). Lakukan pemotretan AP dengan menggunakan kaset 30 x 40 cm. Kemudian dilanjutkan dengan pemotretan posisi obliq kanan dan kiri dengan menggunakan kaset 30 x 40 cm.
  9. Pasien dipersilahkan BAB.
  10. Setelah itu dimasukkan media kontras negatif melalui anus pasien dengan spuit. (double kontras). Kemudian dilakukan pemotretan dengan posisi AP.
  11. Pemeriksaan Colon in loop selesai. Pasien diantar keluar ruang pemeriksaan.
  12. Kelebihan dalam menegakan diagnosa pemeriksaan usus besar / colon in loop bahwa radiolog dapat memonitor secara real time. Pergerakan peristaltic pada saat dilakukan pemeriksaan colon in loop, dengan catatan bahwa dalam pemeriksaan ini menggunakan flouroscopi.

Ada alternative lain untuk pemeriksaan colon inlop yaitu dengan pemeriksaan CT-Scan Colon dan colonoscopy . namun dua pemeriksaan ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing2.

Wednesday, 1 February 2012

RADIOGRAPHIC POSITIONING JUDET METHOD UNTUK PEMERIKSAAN FRAKTUR ACETABULUM (TRAUMA PELVIS)

R Catur Budi Santoso,S.ST

Penulis selama 4 tahun ini bekerja di Emergensi Radiologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin sering sekali mendapatkan pasien dengan trauma pada tulang pelvis dengan riwayat antara lain : terlindas kendaraan, tertabrak sepeda motor, kecelakaan kendaran roda empat. Menurut pengamatan penulis pasien yang datang ke radiologi emergensi tersebut sering mengalami fraktur pada daerah acetabulum, os ilium, sympisis pubis.  Judet method merupakan salah satu teknik radiografi yang digunakan untuk pemeriksaan trauma pelvis. Pasien yang datang ke radiologi biasanya mengalami multiple trauma dan setelah dilakukan pemeriksaan radiografi konvensional biasanya dilanjutkan dengan USG FAST dan CT Abdomen dengan kontras.
Patologi yang diperlihatkan : Judet Method merupakan teknik radiografi untuk mengevaluasi fraktur di daerah acetabulum dan dislokasi HIP joint. Dan dilakukan oblik kanan dan kiri dengan titik tengah di upside  (obturator view) dan downside (Iliac view) acetabulum tergantung anatomi yang akan diperlihatkan.
Faktor Teknik : Kaset yang dipergunakan 24 x 30 cm (bontrager,2001) di Emergensi Radiologi RS Hasan Sadikin memakai ukuran 35 x 43 cm. Memakai lysolm atau moving grid. Proteksi radiasi sesuaikan dengan obyek yang difoto.
Posisi Pasien : Posisi Posterior Oblik
Dengan pasien semisupine, dan kepala di berikan bantal dan diposisikan side up  atau down (oblik mendekati atau menjauhi obyek yang diperiksa), tergantung anatomi yang akan diperlihatkan.

Gambar 1 LPO Sentrasi di sebelah kanan Upside Acetabulum (Obturator View)


Gambar 2. RPO Sentrasi di sebelah kanan Downside Acetabulum ( Iliac View)

Posisi pasien :
·         Pasien diatur oblik posterior 45 °, kedua pelvis dan thorax diatur 45 ° dari meja pemeriksaan, diganjal dengan baji spon.( spon berbentuk baji).
·         Head femur dan acetabulum diatur pada tengah meja atau kaset.
·         Garis Tengah kaset secara longitudinal atau CR (central ray) setinggi head femur
Kolimasi : Kolimasi pada keempat sisi anatomi yang diperiksa
Eksposi  : pada saat tahan nafas.

        
 Gambar 3. RPO Downside Acetabulum  (Iliac View)
Kriteria Radiografi :
·         Struktur yang diperlihatkan : pada saat downside acetabulum, Iliac View (oblik mendekati obyek yang difoto), tampak sisi anterior acetabulum dan columna posterior ilioischial . Iliac wing juga tampak dengan baik .(gambar.3) Pada saat upside acetabulum, Obturator View (oblik menjauhi obyek yang difoto) tampak sisi posterior acetabulum dan columna anterior iliopubic . foramen obturator juga tampak .(gambar .4)
          

    Gambar 4. LPO Upside Acetabulum (Obturator View)
·         Posisi : derajat oblik sebenarnya dibuktikan oleh terbukanya dan keseragaman hip joint space pada sisi acetabulum dan head femoral. Foramen obturator seharusnya terbuka jika obliknya betul  pada upside oblik. Dan tampak tertutup pada downside oblik.


Gambar . 5 RPO Downside Acetabulum (Iliac View)

                          Gambar.6 LPO Upside Acetabulumn (Obturator View)
·         Kolimasi dan CR : Acetabulum harus diatur ditengah pada IR (kaset) dan pada lapangan penyinaran. Pada keempat sisi kolimasi harus diatur pada obyek yang difoto sehingga dapat mengurangi dosis radiasi terhadap pasien dan radiasi hambur dan dapat mengoptimalkan kontras.
·         Kriteria Eksposi : Optimal eksposi harus dapat memperlihatkan batas tulang dan trabekular marking daerah head femoral dan acetabulum. Marking harus terlihat tajam dan tanpa ada indikasi pergerakan obyek.

Pustaka :

Bontrager Kenneth L, 2001, Textbook o Radiographic Positioning and Related Anatomy, Fifth Edition, Mosby, A Harcourt Health Company St. Louis Philadelphia.