TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOLOGI CT-SCAN PADA KASUS AKUT ABDOMEN
Dalam
menagani suatu tindakan abdomen akut salah satunya adalah dilakukannya
pemeriksaan CT-scan abdomen akut.Dalam penaganan abdomen akut biasanya
hanya dilakukan pada CT-Scan abdomen polos.
Dengan abdomen polos dirasa sangat cukup dalam membantu menegakan diagnosa.
Disini ada teknik pemeriksaan CT-Scan abdomen yang akan dijabarkan sebagai berikut:
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Pemeriksaan CT Whole Abdomen mencakup abdomen atas , abdomen bawah dan
abdomen pelvis. CT Whole Abdomen secara garis besarnya terdiri dari
pemeriksaan CT Abdomen rutin/ reguler / terprogram dan pemeriksaan CT
Abdomen secara emergency khususnya pada kasus akut abdomen ( trauma
abdomen ), yang penatalaksaanaannya dapat dilakukan dengan injector dan
non injector.
Pemeriksaan CT Whole Abdomen secara reguler harus
dilakukan dengan persiapan secara maximal untuk mendapatkan infomasi
yang akurat, sedangkan pada kasus emergency pada umumnya dapat dilakukan
tanpa persiapan.
Sebelum dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen
baik yang rutin / reguler khususnya emergency sebaiknya dilakukan
pemeriksaan radiologi konvensional yaitu :
a. Plain foto abdomen.
b. Abdomen
3 posisi.
c. USG Abdomen.
Bila
dari pemeriksaan tersebut ada indikasi guna menunjang menegakkan
diagnosa lebih lanjut dapat dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen.
Persiapan alat/ bahan : 1. Pastikan pesawat CT SCAN telah di warming up dan atau kalibration untuk meningkatkan kualitas image yang lebih baik.
2. Siapkan bahan kontras dengan perbandingan ( 1 : 40 ) sebanyak 120 cc.
3.
Peralatan / alkes yang harus disiapkan : * Bahan kontras sebanyak
100 cc. * Syringe injector dan conecting injector/spuit 20 cc 4
buah. * Surflo 20 W/Flash / Wing nedle 21. * Folley Cath 20/24.
* Spuit 200 cc. * Adrenalin 1ml * Kalmetason 1ml
Persiapan pasien :
1. Surat persetujuan tindakan medis(inform consent ). Sebelum pasien /
keluarga pasien ( suami, anak, saudara ) harus diberikan informasi yang
akurat tentang pemeriksaan yang akan dilakukan serta resiko-resiko yang
timbul akibat pemeriksaan tersebut, khususnya akibat pemakaian bahan
kontras. Pada surat persetujuan tindakan medis tersebut diupayakan agar
pasien atau suami / istri atau anak / orang tua / saudara yang terdekat
dapat membubuhkan tanda-tangannya sebagai bukti persetujuan dilakukannya
pemeriksaan CT Whole Abdomen.
2. Pasien sebaiknya puasa minimal 6 – 8 jam sebelum pemeriksaan. Hal
ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai
akibat penyuntikan bahan kontras secara intra vena.
3. Periksa
ureum dan creatinin sebelum pemeriksaan.Ureum dan creatinin yang masih
dapat ditoleransi untuk dilakukan pemeriksaan CT Whole Abdomen maximal
30 hari sebelum pemeriksaan dilakukan, yang berguna untuk mengetahui
fungsi ginjalnya sebelum pemeriksaan dilakukan.
Persiapan Pemeriksaan:
1. Pasien minum kontras 300 cc 2 jam sebelum pemeriksaan.
2. Satu jam sebelum pemeriksaan pasien minum 200 cc yang kedua
3.
Ketika akan dilakukan pemeriksaan pasien minum bahan kontras ke tiga
sebanyak 200 cc, dimasukkan bahan kontras per anal sebanyak 500 cc.
4. Pastikan pasien bebas dari benda-benda yang menyebabkan artefact, dengan mengunakan baju ganti pasien.
Tehnik Pemeriksaan :
I. CT WHOLE ABDOMEN INJECTOR
- Isi data pasien pada komputer.
- Posisi pasien: Supine pada meja pemeriksaan dengan feet first, kedua tangan diletakkan diatas kepala.
-
Posisi objek : Atur agar batas atas bahu pasien jangan
melewati batas atas pada meja pemeriksaan yang telah disetting.
Atur CP pada pertengahan Sternum dan batas bawah pada pertengahan
tebal pasien. Tekan tombol ( ! ) pada gantry maka akan
menunjukkkan angka 190. 4. Pilih protokol whole Abdomen
- Protokol scout dengan parameter : > kV: 120, 140
> mA : 20, 40, 60, 80 > Scout plane: 0 >
Auto Voice No
- Setelah Confirm, START muncul tampilan scout/
topogram dengan batas atas pada diafragma dan batas bawah pada
simpisis pubis harus tercakup.
- Klik next series maka akan
muncul tampilan series description : Pre contras, atur localizer pada
batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis, dengan
parameter : > Rotation time : 1 > Rotation Length :
Full > Thickness : 10 > Gantry : 0
> SFOV : Large > kV : 120
> mA : 130
- Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras.
- Klik
next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast
( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra
vena).
- Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan
media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar
slice nya sama seperti scanning Pre Contrast.
- 11.Parameter yang
digunakkan : > Rotation time : 1 > Rotation Length :
Full > Thickness : 10 ( terkadang diubah menjadi 3/5/7
mm) > Gantry : 0 > SFOV : Large
> kV : 120 > mA : 130
> Timing : 0 > 5,9 > Breath Hold : 20
s > Breath time : 8,5 > Auto Voice : 5
- Siapkan contrast pada injektor dengan parameter : 2,5 – 3 ml/second, 80 - 100 ml.
- Meja
pemeriksaan boleh dikeluarkan tetapi tidak boleh diturunkan, beritahu
pasien bahwa akan dilakukan penyuntikan bahan kontras melalui
vena.
- Klik confirm, tekan START dan tombol injektor secara
bersamaan sehingga kontras masuk pada saat pengambilan slice
dimulai.
- Scanning telah selesai dilakukan, jarum suntik dicabut, observasi keadaan pasien.
II CT WHOLE ABDOMEN NON INJEKTOR
- Isi data pasien pada komputer.
- Posisi pasien: Supine pada meja pemeriksaan dengan feet first, kedua tangan diletakkan diatas kepala.
- Posisi
objek : - Atur agar batas atas bahu pasien jangan melewati batas atas
pada meja pemeriksaan yang telah disetting. - Atur CP
pada pertengahan Sternum dan batas bawah pada pertengahan tebal pasien. -
Tekan tombol ( ! ) pada gantry maka akan menunjukkkan angka 190.
- Pilih
protokol whole Abdomen 5. Protokol scout dengan parameter :
> kV : 120, 140 > mA
: 20, 40, 60, 80 > Scout plane : 0 > Auto
Voice
- Setelah Confirm, START muncul tampilan scout/ topogram
dengan batas atas pada diafragma dan batas bawah pada simpisis
pubis harus tercakup.
- Klik next series maka akan muncul tampilan
series description : Pre contras, atur localizer pada batas atas
pada diafragma dan batas bawah pada simpisis pubis, dengan parameter :
> Rotation time : 1 > Rotation Length : Full >
Thickness : 10 > Gantry : 0 > SFOV
: Large > kV : 120 > mA
: 130
- Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras.
- Klik
next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast
( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra
vena).
- Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan
media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar
slice nya sama seperti scanning Pre Contrast.11. Setelah Confirm, START
muncul tampilan scout/ topogram dengan batas atas pada diafragma dan
batas bawah pada simpisis pubis harus tercakup.
- Klik next
series maka akan muncul tampilan series description : Pre contras, atur
localizer pada batas atas pada diafragma dan batas bawah pada
simpisis pubis, dengan parameter : > Rotation time : 1 >
Rotation Length : Full > Thickness : 10 > Gantry
: 0 > SFOV : Large > kV
: 120 > mA : 130
- Klik Confirm, START, maka akan muncul tampilan gambaran axial Pre Contras.
- Klik
next series, perhatikan tampilan series description pilih menu Contrast
( scanning yang akan dilakukan adalah scanning untuk kontras intra
vena).
- Atur protokol menu terlebih dahulu sebelum penyuntikan
media kontras dilakukan dengan start location dan End location agar
slice nya sama seperti scanning Pre Contrast.11.Parameter yang
digunakkan : > Rotation time : 1 > Rotation Length :
Full > Thickness : 10 ( terkadang diubah menjadi 3/5/7
mm) > Gantry : 0 > SFOV : Large
> kV : 120 > mA : 130
> Timing : 0 > 5,9 > Breath Hold : 20
s > Breath time : 8,5 > Auto Voice
- Siapkan
contrast sebanyak 100cc dengan spuit 20cc sebanyak 4 buah, wing needle
21.13.Meja pemeriksaan boleh dikeluarkan tetapi tidak boleh diturunkan,
beritahu pasien bahwa akan dilakukan penyuntikan bahan kontras melalui
vena, kemudian lakukan penyuntka. Ketika contrast tinggal 20 cc, maka
radiografer masuk ke ruang console kemudan klik confirm.
- Tekan START ketika penyuntikan selesai. Setelah radiografer masuk ke ruang console.
- Scanning telah selesai dilakukan, jarum suntik dicabut, observasi keadaan pasien.
Kesimpulan :
Tehnik pemeriksaan
CT WHOLE ABDOMEN yang dilakukan :
CT WHOLE ABDOMEN DENGAN INJECTOR.
CT WHOLE ABDOMEN NON INJECTOR
- CT WHOLE ABDOMEN INJECTOR
KELEBIHAN : 1. Pada umumnya pada kasus reguler / rutin.
2. Waktu lebih singkat dan praktis.
3. Dapat melihat fase arteri dan vena.
4. SDM yang dibutuhkan lebih sedikit.
KEKURANGAN :1. Biaya lebih mahal.
2. Komplikasi lebih tinggi.
- CT WHOLE ABDOMEN NON INJECTOR
KELEBIHAN : 1. Pada umumnnya dilakukan pada akut abdomen
2. Biaya lebih murah.
KEKURANGAN : 1. Waktu lebih lama.
2. Gambaran kontras tidak sedetail INJECTOR.
3. Membutuhkan SDM yang lebih banyak.
4. Tidak bisa melihat fase arteri karena langsung fase vena.
Pada
jabaran diatas semoga bermanfaat bagi semua radiographer, apalagi fresh
graduet.. sehingga dengan membaca ini semoga yang baru lulus akan cepet
bisa menguasai CT Scan…