Showing posts with label TENIK PEMERIKSAAN KEDOKTERAN NUKLIR. Show all posts
Showing posts with label TENIK PEMERIKSAAN KEDOKTERAN NUKLIR. Show all posts

Tuesday, 24 January 2012

Teknik Pemeriksaan Kedokteran Nuklir (Thyroid Scintigraphy)

1. PROSEDUR PEMERIKSAAN
a. In Vitro
• Radioimmunoassay (RIA)
• Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu darah pasien 5 cc (dipisahkan antara plasma dan sel darah merah)
• Plasma darah + Larutan I-125 + Kit hormon triodothyronine (T3) dan thyroxine (T4)
• T3 dan T4 yang mengikat I-125 akan mengendap sedangkan yang tidak mengikat akan tetap dalam cairan
• Pisahkan endapan dan cairan
• Hitung aktivitas pada endapan dengan alat “ Well Type Counter “
• Hasil perhitungan dapat menentukan nilai T3 dan T4 dalam darah yang menggambarkan fungsi dari thyroid
b. In Vivo
• Up Take Thyroid
• Thyroid Scintigraphy
2. PEMILIHAN RADIONUKLIDA
I – 131
• Dengan waktu paruh 8,1 hari memungkinkan dapat disimpan.
• Energi gamma 364 keV mudah dideteksi dari luar tubuh.
• Memancarkan sinar beta sehingga dapat digunakan untuk internal radiasi pada hyperthyroidism (graves disease) dan kanker thyroid.
Tc – 99m
• Waktu paruhnya pendek (6,02 jam) sehingga beban radiasi terhadap pasien rendah.
• Energi gamma 140 keV, sangat efisien dideteksi oleh kristal skintilasi ukuran 3/8 – ½ inchi.
• Bentuk molekulnya sama dengan Iodium, sehingga dapat diserap oleh kelenjar thyroid namun mudah dilepas kembali.
I – 123
• Waktu paruhnya 13,3 jam.
• Energi gamma 159 keV.
• Dapat diproduksi melalui cyclotron.
Dari ke–3 radionuklida di atas, Tc-99m merupakan radionuklida yang sekarang banyak dipakai untuk pemeriksaan thyroid, sedangkan pada kasus post thyroidektomi untuk melihat ada tidaknya sisa thyroid masih dipakai I-131
3. INDIKASI
• Evaluasi nodul thyroid
• Evaluasi pembesaran kelenjar thyroid tanpa nodul yang jelas
• Evaluasi jaringan thyroid ektropik atau sisa pasca operasi
• Evaluasi fungsi thyroid
4. RADIOFARMAKA
• NaI– 131 dosis 300 µCi, diberikan per oral
• Tc-99m pertechnetate dengan dosis 2 – 5 mCi, diberikan secara intravena
5. PERALATAN
• Kamera gamma kolimator pinhole atau kolimator LEHR untuk Tc-99m pertechnetate dan energi medium untuk I – 131.
• Pemilihan kolimator tergantung pada energi radiasi gamma utama dari radionuklida yang digunakan.
6. PERSIAPAN PASIEN
• Bila yang digunakan NaI– 131, pasien dipuasakan selama 6 jam.
• Obat – obat dihentikan selama beberapa waktu.

7. PERSIAPAN PEMERIKSAAN
• Siapkan bahan radioaktif 99mTc didalam spuit dengan aktivitas 2 – 5 mCi pemberian dilakukan dengan penyuntikan intravena.
• Pemeriksaan dilakukan 10 - 15 menit setelah pemberian radiofarmaka.
• Pada kasus post thyroidektomi radiofarmaka yang dipakai NaI-131 dengan aktivitas 300 µCi diberikan per oral.
• Pemeriksaan dilakukan 24 jam setelah pemberian radiofarmaka.
8. TATALAKSANA
• Pencitraan dilakukan 10 – 15 menit setelah penyuntikan 99mTc pertechnetate intravena, atau 24 jam setelah minum NaI– 131.
• Pasien tidur terlentang dibawah kamera gamma dengan leher (± 10 cm) dalam keadaan hiperekstensi.
• Pencitraan statik dilakukan pada posisi AP (kalau perlu oblique kiri dan kanan).
• Pada kartilago thyroid dan jugulum diberi tanda marker.
9. PROSES PENGOLAHAN DATA
• Data yang didapat selama pemeriksaan diproses melalui komputer pengolah data.
• Hasil yang didapat berupa gambar thyroid serta perhitungan up take dan dengan bantuan formater difotokan pada film format




10. CATATAN
• Radionuklida yang paling ideal untuk evaluasi kelenjar tiroid adalah NaI-131, karena energinya tidak terlalu tinggi (159 keV) dengan waktu paruh pendek (13,2 jam). Sayangnya Nal-131 saat ini belum ada di Indonesia. • Obat-obat tertentu, terutama yang mengandung iodium dan hormon tiroid akan mengganggu.