Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN CT SCAN. Show all posts
Showing posts with label TEKNIK PEMERIKSAAN CT SCAN. Show all posts

Wednesday, 1 February 2012


PENATALAKSANAAN CT-SCAN
PADA KASUS Ca PROSTAT*
Mashari Ali

I.                    PENDAHULUAN
Teknologi Computed Tomography (CT) Scan memiliki peran signifikan dalam upaya menegakkan diagnosa. Ca Prostat -----selanjutnya akan ditulis: karsinoma prostat------ adalah salah satu jenis kelainan yang direkomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan, terutama pada pasien-pasien yang kelainannya sudah diketahui pada tingkat lanjut.

Karsinoma prostat merupakan suatu kanker ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat, tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya dan merupakan yang terbanyak¹ diantara keganasan sistem urogenitalia pada pria. Tumor ini menyerang pasien yang berumur di atas 50 tahun, diantaranya 30% menyerang pria berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini jarang menyerang pria berusia di bawah 45 tahun.


Di Indonesia data di Sub bagian Urologi, Unit bedah FKUI, selama periode 1995-1998 ditemukan data 17 kasus per tahun. Data dari 13 Fakultas Kedokteran Negeri di Indonesia kanker prostat termasuk dalam 10 penyakit keganasan tersering² pada pria dan menduduki peringkat ke 2 setelah kanker buli-buli (kandung kemih).





II. ANATOMI
Prostat merupakan organ kelenjar dari sistem reproduksi pria. Merupakan kelenjar yang terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai menonjol pada masa pubertas. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan vesica urinaria, uretha, ureter, vas deferens dan vesica seminalis. Prostat terletak diatas diafragma panggul dan dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur.

Fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan untuk semen, yang mengandung ion sitrat, kalsium, ion fosfat, enzim pembeku dan profibrinolisin. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di urethra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan ± 25% dari seluruh volume ejakulat.

Berat prostat normal orang dewasa berkisar antara 18 – 20 gram. Pada anak-anak beratnya sekitar 8 gram. Pada keadaan dimana terjadi pembesaran kelenjar prostat beratnya bisa mencapai 40 – 150 gram dan umumnya pada usia diatas 50 tahun.


Ukuran prostat normal adalah tinggi 3 cm yang merupakan diameter vertikal, lebar 4 cm pada dasar transversal dan lebar anteroposterior 2,5 cm, dan dilewati oleh urethra pars prostatica.

Gbr.1, Anatomi Prostat

 III. GAMBARAN KLINIS         
Pada kanker prostat stadium dini sering kali tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda klinis. Tanda-tanda itu biasanya muncul setelah kanker berada pada stadium lanjut.Kebanyakan penderita baru datang pada stadium lanjut dengan keluhan obstruksi atau tanda-tanda metastasis ke tulang atau organ lain.

Adapun keluhan obstruksi aliran kemih antara lain, disuri (nyeri saat miksi), kadang gejalanya menyerupai BPH (Beningn Prostate Hypertrophy) yaitu berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes. Gejala tersebut timbul karena kanker menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran kemih melalui uretra. Kanker prostat juga menyebabkan air kemih berwarna merah (hematuri) yang menandakan bahwa kanker telah menekan uretra. Gejala lainnya adalah nyeri punggung bagian bawah, nyeri ketika buang air besar, nokturia, inkontinensia uri, nyeri perut dan penurunan berat badan.

Kanker prostat yang sudah mengadakan metastasis ke tulang memberikan gejala berupa nyeri tulang, fraktur pada tempat metastasis, atau kelainan neurologis akibat lesi medulla spinalis jika metastasis terjadi pada tulang vertebra. Kanker prostat juga bisa menyebar ke otak dan menyebabkan kejang serta gejala mental atau neurologis lainnya.
 
Gbr.2, Ca Prostat


IV. PENATALAKSANAAN PEMERIKSAN CT-SCAN
A.    Indikasi Pemeriksaan
1.      Tumor Staging: Lokal ekstensi, Regional dan juxtaregional lymphonodes metastasis,  Metastasis jauh: tulang, hepar.
2.      Follow Up setelah operasi
3.      Tumor reccurent

B.     Differensial Diagnosis
1.      Benign Prostat Hipertrofi (BPH)
2.      Granulomatous/Eosinophilic prostatitis
3.      Prostat Sarcoma
4.      Sekunder infiltrasi dari organ diluar, misalnya dari vesica seminalis, rectum, buli-buli dapat mirip dengan tumor primer dari kelenjar prostat.

C.    Kontra Indikasi
1.      Alergi Kontras Media
2.      Riwayat alergi berat terhadap berbagai zat (kontra indikasi relatif)
3.      Fungsi ginjal menurun sesuai dengan penghitungan kadar Gromerulus Filtration Rate (GFR)
 
D.    Persiapan Pasien
Persiapan yang diperlukan sebagai berikut:
1.      Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah (ureum 20-40, kreatinin 0.5-1,5).
2.      Meminum Barium Sulfat Oral 75 ml + 425 ml Air = 500 ml.
3.      Puasa  empat sampai lima  jam sebelum Pemeriksaan.
4.      Apabila kesulitan memperoleh Barium Sulfat, sebagai alternatif lain bisa juga menggunakan bahan kontras water soluble 10 cc dicampur air mineral hingga 500 ml.
5.      Obat  diabetes Golongan  Metformin harus dihentikan sehari sebelum dan sesudah  pemeriksaan.
6.      Konfirmasi riwayat alergi (obat-obatan  dan atau makanan laut), asma, penyakit lain yang pernah diderita dan kemungkinan kelainan ginjal.
7.      Penjelasan prosedur pemeriksaan.
8.      Surat persetujuan tindakan medik.

Gbr.3, Barium Sulfat dan hasil percampurannya dengan air mineral
E.     Persiapan Alat dan Bahan
      1.            Dual Source Computed Tomography (DSCT)
      2.            Automatic Injektor Double Syringe
      3.            Kontras Media Non Ionik
      4.            Vanflon (Optiva) No.22 atau 20 G / 3 - W
      5.            Kapas alkohol/Alkohol Swab
      6.            Micropor/Plester
      7.            Tourniquet (stuwing)
      8.            NaCl 0,9 %
      9.            Obat emergency (Kalmetason, Decadril)
  10.            Oksigen

Gbr.4, Alat & Bahan pada Pemeriksaan CT Scan dengan Ca Prostat

F.      Persiapan Kontras Media
1.      Menyiapkan  Injektor
Petugas harus memastikan sudah tidak ada gelembung udara sesaat sebelum injector digunakan.
Cek kembali seluruh parameter  tepat, sesuai dengan prosedurnya. Pastikan juga bahwa cairan kontras terpasang pada posisi yang tepat. Tundukkan injector pada posisi 30° atau lebih dibawah garis horizontal. Tombol akan menyala biru jika sudut sudah tepat.
                        
Gbr.5, Injektor Automatic Doble Syringe

Tekan “enable” pada power head atau konsol, dan tombol dibelakang injector akan menyala kuning untuk kontras dan ungu untuk saline.

2.      Fitur Cek Patency
Setelah selang tubing dipasang pada pasien (menggunakan venvlon atau abbocath) dan injector siap, lakukan pengecekan pada saluran vena pasien apakah koneksi yang dilakukan sudah tepat dan tidak terjadi ekstravasasi, dengan menggunakan fitur ini. Tekan patency check pada power head, dan start patency. Amati area injeksi pasien. Injector akan meyuntikkan saline sesuai jumlah dan kecepatan yang ditentukan, untuk memastikan akses vena tidak ada ekstravasasi. Jika terjadi ekstravasasi atau ketidak normalan lainnya, lakukan reposisi pemasangan iv-nya.
    Gbr.6, Visualisasi Injektor saat Patency

3.      Memulai Penyuntikan
Injeksi dapat dilakukan dari power head ataupun konsol, dengan menekan “Start”. Sesuaikan dengan prosedur pemeriksaannya. Berikut ini adalah parameter dalam penggunaan  kontras Media pada pemeriksaan CT scan dengan kasus  Prostat:
1.      Pasang Dual Injektor Syringe :                                                                                                  A : Kontras Media  Iodine 80 cc                                                                                                    B : Saline (NaCl)  30 cc
2.      Atur  Flow Rate 2,5 cc/s
3.      Atur Presure/tekanan syringe: 175 psi
4.      Pasang IV Line dengan Jarum  No.22/20 G

G.    Persiapan Sesaat Menjelang Pemeriksaan
1.      Pasien mengganti pakaian yang telah disiapkan
2.      Tanggalkan seluruh pakaian kecuali celana dalam
3.      Lepas seluruh benda logam yang melekat pada tubuh pasien
4.      Menjelaskan mengenai jalannya Pemeriksaan
5.      Instruksi yang harus diikuti oleh Pasien: Tarik Nafas – Keluarkan – Tahan – Nafas biasa kembali
6.      Sensasi Kontras Media yang akan dirasakan oleh Pasien: Nyeri – dingin – Hangat ke seluruh badan
 
H.  Posisi Pasien
1.      Posisikan Pasien tidur terlentang (supine) di atas meja pemeriksaan
2.      Arahkan kaki terlebih dahulu yang memasuki Gantry (Feet First, Supine)
3.      Berikan selimut untuk mengurangi rasa dingin dalam ruang pemeriksaan
4.      Fiksasi tubuh pasien dengan pengikat (strap)

I.       Posisi Objek
1.      Atur Mid Sagital Plane pada pertengahan meja Pemeriksaan
2.      Letakkan Lengan pasien di atas kepala
3.      Ganjal daerah lutut sehingga dalam keadaan flexi

J.      Pengaturan Sentrasi Sinar
1.      Atur batas awal sinar pada ketinggian di atas  SIAS
2.      Sedangkan sinar horizontal pada ketinggian pertengahan objek (Mid Axilary Line)

K.    Registrasi Pasien
1.      Klik “Examination” pada Task card
2.      Klik Register Pasien, kemudian akan muncul kotak “Patient registration” Isi data-data pasien dengan lengkap, meliputi: Nama, Nomor ID, Tanggal Lahir, Umur, Jenis Kelamin
3.      Tanggal lahir jika tidak di ketahui, maka cukup isi umur pasien di kolom Age, maka otomatis tangal lahir pasien akan terisi sama dengan tanggal dan bulan saat pemeriksaan  dilakukan.
4.      Daftar isian dengan tulisan tebal harus diisi, apabila  tidak terisi tombol “Exam”  tidak akan aktif.
5.      Pilih study pemeriksaan yang diinginkan   dengan  mengarahkan cursor di bagian anatomi tubuh yang ada.
6.      Pilih Posisi Pasien.
7.      Selanjutnya  tombol “Load” akan Aktif
Gbr.7, Diagram Jenis Pemeriksaan dan Posisi Pasien

L.     Pemeriksaan siap dilakukan.
1.      Klik tombol Load.
2.      Pada kolom Topogram akan muncul MOVE
3.      Tekan tombol move pada control table
4.      Pada kolom Topogram akan muncul START.
5.      Tekan tombol Start pada Control Table
6.      Muncul gambaran topogam pada monitor kolom sebelah kiri.
7.      Atur area scan dgn melebarkan/ menyudutkan sesuai   anatomi dan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan.
8.      Klik tombol load.
9.      Pada kolom pemeriksaan akan muncul MOVE
10.  Tekan tombol Move pada control table.
11.  Pada kolom pemeriksaan akan muncul START
12.  Tekan tombol Start pada control table.
13.  Pemeriksaan berlangsung sampai selesai.
14.  Tekan tombol recon
15.  Tekan End Examination jika pemeriksaan telah selesai.
  
M. Post Processing
Filming from 3D rekontruksi
                              1.            Axial Window Mediastinum B 30 S Medium Smoth
                              2.            Coronal Window Mediastinum B 30 S Medium Smoth
                              3.            Sagital Window Mediastinum B 30 S Medium Smoth 
N. Kesimpulan
Gambaran CT Scan kanker prostat tidak khas untuk stadium dini. CT Scan tidak berguna untuk menilai lesi lokal pada stadium awal (T1, T2)³, post kontras sering tidak memberikan karakteristik enhancement yang dapat dibedakan antara benign hipertrofi dan kegananasan.
Kecurigaan timbul bila ada benjolan pada kontur/kapsul prostat yang asimetri dengan invasi ke jaringan disekitarnya. Biasanya dinding buli-buli menebal, jaringan periprostatic suram dan adanya pembesaran kelenjar reginal sangat membantu menegakkan diagnosa kanker prostat.
Penatalaksanaan CT Scan pada kasusu Ca Prostat sama dengan teknik Scan untuk buli-buli. Tebal Potongan 3-5 mm. Pengisian buli-buli, recto-sigmoid sangat penting untuk menilai infiltrasi tumor. Bila tumor sudah lanjut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan Whole Abdomen untuk mencari metastasis jauh.
)* Disampaikan dalam acara Simposium Radiologi Nasional di Hotel Grand Royal Panghegar - Bandung  pada 18–20 November 2011.
     )**Radiografer RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo – Jakarta.
 Referensi:

1.      O.E. Shirley., Kanker Prostat; Kanker Genitourinarius dalam Keperawatan Onkologi., Editor M.Eny., Edisi 3., EGC., Jakarta., 2005

2.      U. Rainy., Karakteristik dan Penanganan Kanker Prostat di Indonesia ; Pengamatan Sepuluh Tahun dalam Indonesian Journal of Surgery., Edisi Khusus Urologi

3.      Patricia M. Widjaja., CT Scan Prostat: Tumor, Makalah Seminar

  1. http://www.everydayhealth.com 
  2. http://ilmubedah.info
  3. http://majalahkesehatan.com

7



CT SCAN ABDOMEN
Written by Wahyu Hidayat   

Persiapan Pasien

a. Pasien/perawat/keluarga harus terlebih dahulu mengadakan perjanjian dengan bagian Radiologi tentang waktu pemeriksaan.
b. Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medis), dengan memberikan informasi yang jelas kepada pihak pasien tentang tindakan medis yang akan dilakukan termasuk tujuan dan resiko-resiko yang mungkin terjadi sampai pasien mengerti dan memberikan persetujuan tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya.
c. Pasien harus dalam keadaan tenang/tidak gelisah
d. Benda logam yang ada pada pasien harus dilepas pada saat pemeriksaan CT Scan.
e. Sehari sebelum pemeriksaan pasien dianjurkan hanya mengkonsumsi makanan lunak.
f. 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar dan selanjutnya puasa sampai pemeriksaan selesai (bila diperlukan pasien diklisma) untuk sedapat mungkin membebaskan traktus digestivus dari fekal massa.

Persiapan pemeriksaan

a. Dua jam sebelum pemeriksaan pasien minum kontras oral sebanyak 600 ml (larutan barium sulfat ± 110 ml diencerkan dengan air menjadi 800 ml), ±15 menit menjelang diperiksa tidak buang air kecil sesaat kemudian minum kontras oral 200 ml (tidak dilakukan pada kasus emergency).
b. Persiapan secara umum, guna menghasilkan pencitraan CT abdomen yang baik harus dimulai dengan scan potongan aksial yang baik yaitu memenuhi persyaratan :
· Pasien diupayakan kooperatif selama pemeriksaan berlangsung, dipertahankan untuk tidak bergerak atau melakukan pergerakan dalam hal pasien gelisah.
· Posisi pasien yang benar, dengan objek pemeriksaan bebas dari segala material artefak, serta berada simetris ditengah area ruang scanning atai Field of View.
· Penggunaan kontras media harus adekuat.
· Penggunaan parameter CT dan teknik yang tepat.
c. Kontras media ± 50 ml non-ionic (35-37 gr iodium per 100 ml) bila diperlukan, disuntikkan intravena dengan kecepatan injeksi 2 ml/detik.
d. Alat-alat yang diperlukan adalah 2 spuit 20 ml, kapas alkohol, plester, torniquet, nierbeken dan alat fiksasi pasien.

Teknik CT

Area Pemeriksaan : di atas diafragma sampai krista iliaka (area hepar)
Topogram/plan : - 350 s/d 80 mm, 120 kV, 160 mA, posisi AP
· Rutin aksial, cluster scan pada pre kontras intravena dan helicel scan pada pasca kontras intravena terutama daerah hepar, inspirasi penuh (maksimal 15 detik, rutin 1 grup helicel 7 scan 7 detik, rutin 1 grup cluster 4 scan 7 detik), pada kasus pasien tidak dapat tahan napas dibuat fast scan.
· 120 kV, 250 mA, 1 detik, slice thickness 10 mm, interval 10 mm
· rekonstruksi gambar “standar” (WW 100-120, WL 45-60 untuk hepar)
· Bila perlu diambil gambaran multiplanar koronal dan sagital atau reformasi koronal dan sagital pada daerah lesi.

Prosedur Pemeriksaan

1. Pasien dan atau keluarganya diberikan penerangan mengenai tujuan dan prosedur pemeriksaan sampai dapat memahami manfaat dan resiko pemeriksaan sehingga memberikan persetujuan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan.
2. Pasien dipersilahkan memakai pakaian pasien yang telah disediakan dengan melepaskan semua pakaian luar (baju dan celana atau rok) dan semua material penyebab artefak di daerah abdomen (BH dan sejenisnya bila ada) terlebih dahulu.
3. Pasien posisi tidur terlentang pada meja pemeriksaan dengan kedua tangan di atas kepala diatur sedemikian rupa sehingga daerah abdomen simetris dan berada di tengah ruang scanning dengan titik sentrasi setinggi Prosessus Xyphoideus, kedua tangan di fiksasi untuk kenyamanan pasien.
4. Pasien diingatkan kembali tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan sedapat mungkin inspirasi penuh pada saat scanning dengan mengikuti instruksi petugas selama pemeriksaan berlangsung.
5. Memasukkan data-data identitas pasien dan pemeriksaan pada komputer, dilanjutkan dengan membuat topogram (Scanogram) abdomen dengan parameter CT yang telah diprogram.
6. Membuat garis potongan scanning mulai dari diafragma sampai Krista iliaka dengan parameter CT yang telah diprogram, dilanjutkan dengan melakukan scanning potongan demi potongan dalam kondisi pasien inspirasi penuh sampai selesai.
7. Bila diperlukan, pasien diberikan suntikan kontras media i.v sesuai dosis yang ditentukan, dilanjutkan membuat scanning ulang pada potongan-potongan yang diinginkan.
8. Melakukan pemantauan kondisi pasien dari ruang komputer (kontrol panel) selama pemeriksaan berlangsung.
9. Setelah pemeriksaan selesai, bila keadaan baik pasien diperbolehkan meninggalkan ruang pemeriksaan.
10. Mencetak gambaran scanning ke film melalui printer laser imager menjadi gambar sanning yang diinginkan dengan dua window masing-masing hepar untuk daerah hepar dan window abdomen untuk hepar dan abdomen pada pre kontras i.v, pada pasca kontras i.v cukup satu window, bila perlu dua window.

Monday, 23 January 2012

Pemeriksaan CT Scan Thorax


CT Thorax Rutin
Indikasi Pemeriksaan :
Evaluasi variasi sistemik atau kelainan thorax; deteksi / follow up tumor/cancer (Limphoma, Carcinoma bronchus)

Hasil Yang diharapkan:
Mendapatkan gambaran yang jelas antara jaringan dan pembuluh darah di daerah thorax (Enhancement kontras) dan dapat membedakan daerah mediastinum dan struktur hillar dengan baik.
Dibuat dari area apex paru sampai dengan dibawah sinus costoprenicus atau beberapa klinisi menginginkan sampai daerah supra renalis untuk pemeriksaan post kontrasnya.

Teknik Pemeriksaan:
Pemberian kontras sebanyak 60-80 ml , 300 mg/ml di suntikan dengan flow rendah 1,5 -2,5 ml/dtk dan sedapat mungkin berdurasi lama (> 30 detik) untuk memastikan didapatnya fase kontras saat scan berlangsung pada daerah pembuluh darah thorax. Pemberian flushing (NaCl) disarankan untuk mengurangi artifact dari perivena (SVC), selain itu disarankan pula untuk melakukan scanning dengan arah caudo-cranial.

Untuk menentukan delay scan dibuat dengan rumus :

Delay = t INJ+ 6 s - t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
6 s didapat dari delay untuk pemberiaan aba-aba

Pulmonary Arteries

Indikasi Pemeriksaan :
Acute pulmonary embolism, chronic thrombo-embolic pulmonary hypertension (CTEPH), pulmonary arteriovenous malformations (AVM), pulmonary artery aneurysms, and arteriovenous fistulas.

Hasil yang diharapkan :
Mendapatkan gambaran dengan enhancement kontras pada daerah Arteri Pulmonum yang diharapkan dapat mendeteksi adanya kelainan vascular , menunjukan adanya filling defect atau mural thrombus.

Teknik Pemeriksaan :
Sangat dibutuhkan kontras dengan konsentrasi tinggi (350-370) untuk dapat memberikan pembeda yang jelas antara vascular dengan jaringan lainnya terutama kelainan yang ada di daerah arteri dan kelainan intraluminalis. .
Pemberian kontras dengan flow rate 3-4 ml/detik (dengan injektor) dibutuhkan jika kontras yang digunakan dengan konsentrasi standar (300-350). Tapi jika menggunakan kontras dengan konsentrasi diatas 350 flow rate dapat diturunkan menjadi 2,5 - 3 ml/detik
Pemberian Saline (NaCl) flushing disarankan (30-50 ml dengan flow rate yang sama).

Delay scan diatur dengan rumus sbb:

Delay = t INJ+3 s – t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
3 s merupakan batas minimal delay alat CT

Untuk pasien dengan gangguan pada sirkulasi jantung (CardioCirculatory distress/CTEPH), disarankan dengan flowrate rendah, sebab adanya gangguan fungsi pada cardiac outputnya akan mempengaruhi gambaran kontrasnya

Prosedur umum :

Topogram: AP, dengan panjang area topo : 512 mm.

Posisi Pasien : Pasien di posisikan supine, lengan tangan diposisikan nyaman di atas samping kepala (bersandar pada bantal)., kaki nyaman dengan pengganjal di lutut.

Pemeriksaan dibarengi dengan aba-aba : Tarik Nafas – Tahan – Nafas biasa

Post processing dibuat 2 window yaitu :
- Mediastinum (Jaringan) dengan kernel/filter : B30smooth
- Lung (Bronchus) dengan kernel/filter : B70 sharp

Ketebalan irisan : 8 – 10 mm untuk dicetak di film (+ 2-4 lembar)
Jika menginginkan gambaran coronal dan sagital yang baik dibutuhkan data rekonstruksi dengan irisan yang tipis 1 - 1,5 mm selanjutnya diproses di aplikasi 3D.

Protocol Pemeriksaan :

CT Scan : Somatom Sensation 64 Slice
kV : 120
Effective mAs/Quality ref. mAs : 100
Rotation Time : 0.5 sec.
Acquisition : 64 x 0.6 mm
Slice collimation : 0.6 mm
Slice width : 8.0 mm
Feed/Rotation : 26.9 mm
Pitch Factor : 1.40
Increment : 8.0 mm
Kernel : B31f dan B70f
CTDIVol : 7.7 mGy
Effective dose : Male: 3.53 mSv
Female: 4.46 mSv

Contrast medium IV injection
Start delay : 25 – 30 sec.
Flow rate : 2.5 ml/sec.
Total amount : 80 ml


Pemeriksaan radiologi dengan CT-scan Pada kasus trauma kepala( Radiologi Net)

PERANAN CT SCAN KEPALA
PADA KASUS TRAUMA INTRAKRANIAL
Kasus trauma terbanyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, disamping kecelakaan industri, kecelakaan olahraga, jatuh dari ketinggian maupun akibat kekerasan.
Trauma kepala didefinisikan sebagai trauma non degeneratif – non konginetal yang terjadi akibat ruda paksa mekanis eksteral yang menyebabkan kepala mengalami gangguan kognitif, fisik dan psikososial baik sementara atau permanen.
Trauma kepala dapat menyebabkan kematian / kelumpuhan pada usia dini (Anne G Osborn, 2003).

Pasien dengan trauma kepala memerlukan penegakkan diagnosa sedini mungkin agar tindakan terapi dapat segera dilakukan untuk menghasilkan prognosa yang tepat, akurat dan sistematis. ( Geijertstam, 2004).
Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa tindakan operasi pada trauma kepala berat dalam rentang waktu 4 jam pertama setelah kejadian, dapat menyelamatkan + 60 – 70 %. Bila lebih 4 jam tingkat kematian melebihi sekitar 90 %.( Tony Knigts, 2003 ).
Hal ini dapat dapat dilakukan setelah adanya penegakan diagnosa trauma kepala dengan pemeriksaan klinis awal yang ditunjang dengan diagnosa imajing ( khususnya CT SCAN Kepala ).

Pemeriksaan CT SCAN sangat mutlak pada kasus trauma kepala untuk menentukan adanya kelainan intracranial terutama pada cedera kepala berat ( Severe, glasgow coma score 8 ( Normal 15 ).

Bebera indikasi perlunya tindakan pemeriksaan CT SCAN pada kasus trauma adalah :
a. Menurut New Orland :
* Sakit kepala.
* Muntah.
* Umur lebih 60 tahun.
* Adanya intoksikasi alcohol.
* Amnesia retrograde.
* Kejang.
* Adanya cedera di area clavicula ke superior.
b. Menurut The Cranadian CT Head :
* GCS ( Glasgow Coma Score ) < 15 setelah 2 jam kejadian.
* Adanya dugaan open / depressed fracture.
* Muntah – muntah ( > 2 kali ).
* Umur > 65 tahun.
* Bukti fisik adanya fraktur di basal skull.

Tujuan utama dari pemeriksaan imajing pada kasus trauma kepala adalah unutuk menentukan adanya cedera intracranial yang membahayakan keselamatan jiwa pasien bila tidak segera dilakukan tindakan secepatnya(Cyto).
Pada saat sekarang CT SCAN telah menjadi modalitas utama dalam menunjang diagnosa trauma kepala terutama pada kasus cyto yang sebelumnya sulit terdeteksi pada foto Foto Town atau Occipitomental ( plain foto skull ). Pada kasus trauma kepala pada umumnya pasiennya merupakan pasien yang “ tidak sadar “ atau tidak koorperatif, dengan kondisi yang demikian sulit untuk mendapatkan posisi scaning ideal yang kita inginkan, sedangkan bila dilakukan tindakan anestesi sering dihadapkan pada resiko yang harus dihadapi.
Dengan demikian Radiografer dipaksa untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasinya dalam melakukan pemeriksaan CT SCAN mulai dari persiapan pasien, prosedur, posisi, protokol, post prosesing dan pencetakan film.
Prosedur pemeriksaan CT SCAN Kepala pada trauma kepala

Pada pemeriksaan CT Scan kepala tidak persiapan khusus. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh radiografer adalah :
* Pastikan di ruangan ada emergency kit.
* Identitas pasien secara lengkap.
* Universal precaution ( minimal unsteril glove pada saat memindahkan dan mengatur
posisi pasien pada kasus trauma dengan luka terbuka ).
* Pastikan tidak ada benda-benda yang menyebabkan artefact pada gambar.
* Jangan pernah melepas alat fiksasi leher collar bila telah terpasang.
* Bila pasien anak-anak sebaiknya ada anggota keluarga yang mendampingi dengan
memperhatikan proteksi radiasi ( Berikan apron ).
* Lakukan fiksasi kepala pasien dan organ lainnya secara maximal.

Protokol CT SCAN Kepala
Orientasi pasien : Head first, supine
Orbita Meatal pararel terhadap scan plane
Topogram : lateral dari base skull ke vertex
Axial base line diambil dari garis inferoorbital floor ke EAM.
Angle disesuaikan.
Alternatif pilihan irisan (2/10 mm,3/10 mm, 5/10 mm, 5/5 mm, 7/7 mm ).
(Post Fossa : 2-5mm Ax - // OML) kV: 140-390 mAs
( Brain : 10mm Ax - // OML
kV: 120-360 mAs
Lakukan scan ulang pada slice tertentu bila diperlukan ( irisan dapat dirubah ).

Gambaran CT SCAN Kepala

Tanda-tanda vital yang diperhatikan oleh radiografer dalam post prosesing adalah :

Focal hyper / hypodens.
( Ukurlah area tersebut dengan automatic volume dapat dihitung secara kasar dengan mengukur “ Panjang x Lebar x tebal ( slice awal – akhir tampaknya lesi ) dibagi 2.
Mid line shift, tanda adanya mass effect. ( Bila dijumpai ukurlah dengan membuat garis membagi 2 hemispher cerebrum dan garis shift pada ujung anterior septum pellucidum).
Atur WW dan WL (Bone : W = + 1500 , L = + 200 , Brain : W = + 80, L = + 35, Subdural / intermediate : W = + 200, L = + 50 ).
Udara di calvarium ( menunjukkan kemungkinan adanya fraktur ).
Oedem ( batas sulci / gyri cortical tidak jelas ).
Pergerakan pada pasien ( bila diperlukan sebaiknya harus di scan ulang pada slice tertentu ).
Print dengan scout / refrensi image ( 15 – 20 ) dalam 1 lembar, sebaiknya disertakan dengan kondisi tulang terutama bila jelas –jelas ada fraktur.

KESIMPULAN:
Peranan CT SCAN sebagai salah satu modalitas imajing pada kasus trauma kepala sangat diperlukan karena memiliki kelebihan a.l :
* Pemeriksaan yang singkat dan mudah.
* Tidak merupakan invasif.
* Lebih informatif dalam mengidentifikasi / melokalisir
adanya fraktur fragmentnya pada tulang- tulang kepala.
* Dapat mengetahui adanya perdarahan extrakranial dan
menghitung volumenya.
* Dapat mengetahui adanya kelaianan intrakranial/
perdarahan intracranial
(Subdural,Epidural,Sub arachnoid hemmorage)
* Infark akut, oedema cerebri, cerebral contusion.

CT SCAN juga sangat bermanfaat untuk memantau perkembangan pasien mulai dari awal trauma, post trauma, akan operasi , post operasi serta perawatan pasca operasi sehingga perkembangan pasien senantiasa dapat dipantau.

CT SCAN PELVIS
A.     ANATOMI
B.     PATOLOGI
Indikasi  pemeriksaan CT Pelvis, antara lain :
-         Trauma-fraktur, dislokasi
-         Infeksi
-         Kelainan degenerasi
-         Kelainan bawah 


K3lvinDaH1273 






C.     SPESIFIKASI PESAWAT
MDCT/MSCT mengubah pandangan CT scan dari cross sectional imaging menjadi 3-D imaging. MSCT 64 slice merupakan alat CT scan yang diunggulkan untuk cardiac imaging dan virtual endoskopi.
D.    PERSIAPAN PEMERIKSAAN
Pada dasarnya tidak diperlukan persiapan, yang penting bebaskan organ dari bahan atau material yang bersifat artefak dan menganggu gambaran.
POSISI PASIEN
Supine             :
àFeet first
Prone               :
àUntuk pasien yang tidak bisa supine bisa dilakukan dengan posisi prone.
E.     PROSEDUR PEMERIKSAAN
Langkah yang harus diperhatikan :
§         INDIKASI: baca surat permintaan pemeriksaan dokter.
§         Lakukan registrasi pasien.
§         Pasien diatur supine.
§         Nyalakan lampu indikator pada gantry atur sentrasi pasien, masukkan pasien hingga daerah yang akan  di scan.
§         Matikan lampu indikator, atur posisi meja dalam posisi nol.
§         Tutup pintu ruang scan
§         Atur program CT-Pelvis pada Console
§         Area Pemeriksaan              : di SIAS sampai simpisis pubis
§         Topogram/Plan                   : - 420 mm s/d 80 mm, 120 KV, 160 mA, Posisi pasien AP
§         Waktu scanning                  :  1.0, 1.5, 2.0 atau 3.0 detik
§         Matrix size              : 1024 mm x 1024 mm
§         Rekonstruksi pixel  : 512 x 512
§         FOV (Field of View)          : 25 cm, 35 cm,  42 cm, 50 cm.
§         Proses Scanning
§         Setelah seluruh slice selesai, reconstruksi gambar (sambil pasien dikeluarkan dari ruangan scan)
§         Selesai, tinggal di cetak.

 HASIL GAMBARAN


 
F.     














G.    KESIMPULAN

CT scan merupakan alat diagnostik imaging canggih yang saat ini mengalami perkembangan pesat dengan munculnya MDCT/MSCT 64-slice dan di RSUPN Cipto Mangunkusumo telah mengunakan alat canggih ini guna membantu menegakkan diagnose, khususnya untuk CT-scan Pelvis yang guna untuk menegakkan diagnose jika terdapat fraktur akibat trauma.